
Setelah sarapan sendiri tanpa di temani oleh sang istri, Azka kembali lagi ke kamar untuk membawakan sarapan untuk Salsa. Dia tidak peduli, mau perut Salsa buncit nanti, intinya wanitanya harus makan sebelum resepsi di mulai.
Azka menelan salivanya kasar ketika melihat tubuh Salsa hanya terbalut handuk yang sangat pendek.
"Kenapa Ka?" tanya Salsa.
"Ekhem." Azka berdehem demi menetralkan detak jantungnya, tidak mungkin dia langsung nyosor padahal di dalam kamar ada Alana juga MUA yang akan merias Salsa.
"Hayo loh, pasti kamu pengen kan? Emang ya laki-laki sama aja." Tebak Alana asal, wanita berbadan tiga itu tengah duduk di pinggir ranjang, menemani sahabatnya.
Dia baru saja datang subuh tadi, sementara Arga lebih dulu datang kemarin bersama Omanya.
Azka hanya melirik Alana sekilas, berjalan mengahmpiri Salsa, menyerahkan nampang berisi sepiring roti juga susu.
"Sarapan dulu Sal, ntar perut kamu sakit."
"Oh, kirain ada apa. Simpan aja Ka, nanti aku makan setelah di rias."
"Sekarang! Ntar kamu banyak alasan lagi."
Salsa meringis karena malu di perhatikan oleh MUA juga sahabatnya.
"Iya aku makan sekarang," cicit Salsa mengambil nampang di tangan Azka. Dia melirik kedua wanita lain yang ada di dalam kamar.
"Kalian udah sarapan?" tanyanya.
"Udah, kamu makan aja Sal. Oh iya sekalian aku mau temuin pak Alvi, minta di manja juga," ucap Alana sedikit mencibir.
"Ya udah sana, buruan!"
"Dih, apaan sih, main ngusir aja."
"Kamar gue juga."
"Udah deh, kalian kalau ketemu berantem mulu, ingat umur napa," relai Salsa.
"Suami kamu tuh."
Alana keluar dari kamar bersama MUA, menyisakan Azka dan Salsa saja di salam sana.
"Ngapain ngeliatin sampai segitunya Ka?"
"Nggak papa. Makan buruan!"
Salsa mengangguk, segera menghabiskan sarapan di pangkuannya, sementara Azka terus menatap sang istri.
Hatinya tidak akan tenang sebelum resepsi berakhir. Kalau saja dia tahu akan ada masalah seperti ini, Azka akan menunda acaranya.
"Sayang, kamu kenapa sih? Dari kemarin sering banget natap aku terus, kayak pikirannya melayang."
"Habisin sarapan kamu, aku ke depan dulu."
Cup
Azka mengecup kening Salsa sebelum pergi, tak ingin menjawab pertanyaan Salsa yang akan membuat wanita itu khawatir berlebihan.
__ADS_1
***
Semua tamu mulai berdatangan satu persatu, semua tamu lolos masuk jika mempunyai undangan masing-masing.
Setiap pintu akan di jaga oleh anggota Avegas yang di tugaskan langsung oleh Rayhan. Sementara inti Avegas sudah berkumpul di atas pelaminan untuk membercandai ketuanya.
"Vibesnya masih kek pengantin baru ye," celetuk Rayhan.
"Harus dong, anak juga baru satu, gimana pak ketu?" timpal Dito.
"Tentu aja." Azka langsung mengamit pinggang Salsa yang mulai tersipu.
Wanita itu sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih yang kontraks di kulitnya.
Lekukan tubuh sempurna Salsa sangat jelas di balik gaun cantik itu walau tidak terlalu ketat. Semua keluarga besar dan sahabat-sahabat Azka dan Salsa memakai pakaian yang seragam seperti mempelai.
Perempuan akan memakai gaun berwarna putih, dan laki-lakinya akan memakai jas berwarna hitam seperti tema resepsi yang telah di persiapkan.
"Daddy!" Panggil gadis kecil.
Semua yang ada di atas panggung langsung mengulum senyum melihat kedatangan Alana juga Angkara.
Bagaimana tidak, kedua bocah kecil itu saling bergandengan dengan setelan yang seragam seperti mempelai.
Rambut Alana kecil di sanggul di sertai gaun kecil yang sangat cantik, sementara Angkara open jidat dengan jas hitam.
"Tampan banget anak Mama," puji Salsa.
Angkara tak menyahut, masih memasang mode cemberut karena Alana terus mengamit lengannya. Kalau saja bukan Nenek Reni dan yang lain yang menyuruhnya, mana mungkin dia dekat-dekat dengan gadis cerewet seperti Alana.
"Mama, Anala juga cantik?" tanya gadis kecil itu.
"Dia Mama aku, bukan Mama kamu! Kamu nggak punya Mama."
"Hust! Nggak boleh gitu sayang, Mama Kara, Mama Alana sama Arga juga." Salsa buru-buru meralat ketika melihat raut ceria di wajah Alana langsung hilang.
Bocah kecil itu langsung melepaskan tangannya dari lengan Angkara, kemudian langsung memeluk kaki Daddynya.
"Daddy, Anala juga mau Mama," tangis Alana pecah.
Salsa yang merasa bersalah hendak mengendong Alana, tetapi Dito lebih dulu mengendong putrinya.
"Maaf To," sesal Salsa.
"Santai aja, namanya juga anak-anak. Gue kebelakang bentar," pamit Dito.
"Kara nggak boleh ngomong gitu lagi sama Alana!" tegas Azka.
"Tapi Mama, Mama Kara, papa." Angkara menatap Keenan dan Rayhan. "Ayah, Papa marahin Kara!" adunya.
Keenan dan Rayhan sontak mengoyang-goyangkan jari telunjuk pertanda tidak boleh.
"Papa Azka nggak marahin Kara, tapi negur Kara karena salah. Lain kali jangan ngomong gitu sama Alana ya nak!" ucap Keenan membenarkan.
"Kara salah?"
__ADS_1
Anggota inti serempak mengangguk.
"Maaf," lirih Angkara.
"Karanya udah minta maaf loh, masa nggak di maafin Papa, om, ayah!" ucap Salsa mengelus pundak putranya.
"Di maafin dong."
Inti Avegas mulai bubar satu persatu ketika acara akan di mulai. 5 menit lagi, acara pertukaran cincin akan berlangsung.
Semua tamu mulai memperhatikan momen yang terbilang sangat romantis itu, ditambah alunan musik yang menambah suasan semakin menyenangkan.
Azka mulai memasangkan cincin di jari manis Salsa.
"Jadi punya empat cincin dari kamu Ka," gumam Salsa menahan senyum.
Bagaimana tidak mempunyai 4, cincin saat dia di lamar di tengah lapangan di saksikan Anggota Avegas. Cincin saat di lamar di depan Mamanya. Cincin pernikahan, dan sekarang cincin resepsi.
"Kisah cinta kita nggak semulus yang orang lain liat Sal, tapi alhamdulillah kita bisa lewatin itu semua dan sampai di tahap ini. Aku berharap ini ujian terakhir kita," ucap Azka menatap sangat dalam manik Salsa yang begitu indah.
"Ayo, pasang cincinnya," lanjut Azka.
Salsa mengangguk, segera mengambil cincin yang lain di tangan Glora tunangan Keenan. Ya, yang menjadi pengantar cincin adalah Glora, atas permintaan gadis itu sendiri.
Alasannya, karena gadis itu ingin menjadi bagian dari resepsi sahabat tunangannya.
"Ujian kita?" tanya Salsa.
Tepat saat Salsa hendak memasukkan cincin ke jari Azka, Glora langsung mendorong tubuh Salsa hingga tersungkur ke lantai.
Dor
"Glora!"
"Salsa!"
Pekikan mulai terdengar dari bawah panggung, ketika suara tembakan terdengar, hingga vas di dekat pelaminan pecah, untung saja pecahannya tidak mengenai siapapun.
Azka langsung mendekap tubuh Salsa yang sedikit terkejut. "Sayang, kamu nggak papa? Ada yang sakit?" khawatir Azka.
"Nggak papa Ka," lirih Salsa. Wanita itu mengedarkan pandangannya dan milihat Glora di bopong oleh Keenan menjauhi kerumunan.
"Azka, Glora kena tembak!" Salsa mendorong Azka, hendak berdiri, tetapi Kakinya terasa sakit.
"Glora udah sama Keen, sekarang kamu juga luka Sal."
"Aku nggak Papa Ka, tapi Glora ... Kalau bukan dia, mungkin aku yang ...."
"Sssttt, jangan nangis."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
__ADS_1
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo