
Sejak insiden beberapa menit yang lalu, Keenan tak sekalipun beranjak dari samping ranjang, menemani Glora yang belum sadarkan diri.
Luka tembakan tidak terlalu parah karena hanya menggores lengan gadis itu, tetapi Glora jatuh pingsan karena tidak bisa melihat darah walau setetespun.
Keenan mencium punggung tangan Glora ketika semua orang keluar dari kamar setelah Reni menjahit luka yang sedikit dalam di lengan tungannya.
Masih terjadi kekacauan di luar, anggota Avegas mengamankan para tamu agar tidak panik, sementara Samuel mulai mengusut siapa penyusup yang berhasil melesatkan senjata api yang hampir memakan korban kalau saja Glora tidak menyadarinya.
"Keen, biar Glora sama Mama aja, kamu temuin Azka dulu di luar!" ucap Rianti Mama Keenan yang baru saja datang.
Keenan mengangguk. "Keen, nitip Glora Ma, kalau udah sadar langsung kabarin."
"Udah cinta ya sekarang?" Ledek Rianti dengan senyuman.
Keenan hanya terkekeh, kemudian meninggalkan kamar untuk menemui Azka. Dia memasang senyumnya ketika melihat Azka bersandar di tiang Villa lumayan besar dengan wajah datarnya.
Laki-laki itu sedang menunduk seperti memikirkan sesuatu.
"Kenapa Ka?"
"Tunangan lo udah sadar?" tanya Azka balik.
"Belum, tapi kata Tante Reni dia nggak papa, cuma panik berlebihan, mungkin liat darah. Salsa gimana?"
"Baik, setelah Glora sadar, sebaiknya lo sama yang lain balik ke ibu kota naik Jet Ayah Kevin, kasian Glora kalau pulang naik mobil. Sekarang gue percayain mereka sama lo, jangan sampai lo ngecewain gue kali ini."
"Sans aja Ka, lo nggak perlu raguin gue." Keenan menepuk pundak Azka. "Gue tau posisi lo sulit karena lagi nyurigain salah satu dari kita termasuk gue kan? Gue juga sama kayak lo."
"Maksud lo?"
"Gue nggak bisa ngegabah, bisa aja dia punya alasan yang tepat."
Saat keduanya akan pergi, Samuel dan Rayhan datang bergabung bersama mereka.
"Tamu udah aman, tapi kita belum ketemu sama orang itu," ucap Rayhan mengusap peluh di keningnya.
"Kita pasti tahu siapa pelakunya," ujar Samuel.
"Salsa sama Glora baik-baik aja kan?" tanya Rayhan.
Azka tak menyawab, laki-laki itu malah pergi tanpa mengatakan apapun.
Sebesar apapun dia ingin mempertahankan Avegas agar tidak retak, cobaan dan kecurigaan juga semakin besar menghinggapi pikirannya.
Bugh
__ADS_1
Azka meninju tiang lainnya ketika suasan sepi. Dia sangat ingin melampiaskan emosinya sekarang, tapi tidak bisa karena keluarganya masih ada di Villa. Mungkin dia akan menyelesaikan semuanya jika Keenan dan yang lainnya sudah pergi.
"Siapapun yang berani main-main sama gue, maka lo bakal mati!" geram Azka.
Resepsi yang dia harapkan berjalan lancar karena di tangani oleh sahabat-sahabatnya malah hancur seperti ini.
Bahkan keamanan yang dia susun bersama Papinya berhasil di terobos begitu saja.
Azka kembali ke kamar untuk menemui Salsa yang sedari tadi kekeh ingin bertemu Glora, padahal kakinya mulai membengkan karena terkilir.
Bahkan Hingh hels yang di pakai wanita itu patah.
"Azka, gimana keadaan Glora?" Pertanyaan itu langsung menyambut Azka ketika membuka pintu kamar.
Dia berjalan berlahan menghampiri sang istri juga putranya.
"Glora baik-baik aja, setelah sadar kalian pulang lebih dulu!"
"Kalian? Kamu nggak ikut?" tanya Salsa.
"Papa, tadi dengar suara tembakan juga? Kara nyesal tidur, pasti seru," celetuk Angkara yang tidak tahu apa-apa. Bocah kecil itu terbangun dalam gendongan Opanya ketika suara tembakan terdengar.
"Itu suara petasan nak," balas Azka mengelus pundak putranya.
***
"Sakit banget?" tanya Keenan.
Glora mengeleng. "Dikit aja kok Keen," jawabnya. Pipi gadis itu merona merah, mungkin merasa malu, pingsan hanya karena hal sepele.
Bagi Glora, pingsan karena melihat darah adalah hal yang sengat memalukan.
"Ngapain itu pipinya merah?" goda Keenan menyentuh pipi tunangannya.
"Aku malu."
"Mama masih di sini loh," gumam Rianti.
"Mama," panggil Glora. "Nggak ilfiel kan sama Glora karena takut darah?"
"Nggak dong, calon mantu Mama tetap di hati kok."
Setelah kepergian Rianti, Keenan berpindah posisi duduk di pinggir ranjang menghadap Glora. Dia menglus lengan mulus yang terdapat perban di sana.
"Cepat hilang dan jangan ninggalin jejak di kulit Glora," gumam Keenan.
__ADS_1
"Apaan sih Keen, buat malu aku aja."
"Syukurlah, kamu nggak papa Glo."
Glora mengangguk kecil, dia menatap wajah tampan dan teduh tunangannya. "Salsa nggak papa? Aku tadi dorongnya kayak kekencangan karena refleks."
"Dia nggak papa, cuma kaki terkilir. Kamu bisa ceritain kronologinya nggak?"
Glora mengangguk, mengambil nafas sebelum menceritakan apa yang dia lihat saat berada di panggung bersama Azka dan Salsa tadi.
"Pas aku antar cincin naik ke panggung, aku nggak sengaja liat cowok pakai jas putih berdiri bagian pojok, terus napat keatas panggung. Awalanya, okelah aku ngira dia mungkin takjub liat Azka dan Salsa yang emang kayak panggeran dan Prinses gitu, tapi pas Azka masangin cincin di jari Salsa, cowok itu makin maju terus dia kayak ngambil sesuatu di saku jasnya."
Glora menjeda kalimatnya, mengambil nafas lebih dalam sebelum menceritakan keseluruhan. Jujur saja dia sedikit takut tadi.
"Tepat pas Salsa mau masang cincin, aku liat cowok itu ngelurin senjata dan ngarahin ke Salsa, aku refleks dorong dia, tapi aku lupa menyingkir karena kaget, untung cuma kena lengan aku," lanjutnya.
Sempat terbesit niat jahat di hati Glora saat melihat pria itu akan mencelakai Salsa. Awalnya dia tidak akan mencegah apapun yang bisa saja mencelakai dirinya sendiri. Apa lagi mengingat Salsa adalah perempuan masa lalu Keenan, bahkan sampai sekarang masih peduli.
Namun, hati kecilnya berkata lain, dia tidak tega jika harus melihat seseorang terluka, itulah mengapa dia memilih menyelamatkan Salsa tadi.
"Kamu tau wajahnya?"
Glora mengeleng. "Nggak, dia agak asing menurut aku, tapi dia masih muda, tubuhnya tinggi dan agak bule-bule dikit.
Keenan tersenyum, menarik Glora masuk kepelukannya. "Makasih udah mau berdamai sama masalalu aku Glo, udah mau nolongin dia," gumam Keenan.
Tentu saja Glora tau semua masa lalu Keenan, karena laki-laki itu sendiri yang menceritakan semuanya sebelum menerima perjodohan antar orang tua.
"Kenapa nggak, Keen? Dia udah punya keluarga sendiri, dan kamu udah cinta sama aku. Teman kamu, teman aku juga."
"Aku bangga jadi tunangan kamu Glo."
Glora tertawa. "Aku udah punya banyak mantan dan kenal banyak cowok, tapi baru kali ini ada cowok yang bangga milikin aku."
"Udah?"
Keenan dan Glora sontak menoleh ke sumber suara dan mendapati Samuel bersandar di daun pintu.
"Yang lain udah nunggu di atap, sisa kalian!"
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
__ADS_1
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo