Kembalinya Suamiku

Kembalinya Suamiku
Part 41 - Kembalinya Suamiku


__ADS_3

Salsa yang tengah fokus berdiskusi dengan teman-teman satu kelompoknya, harus terganggu karena kehadiran bocah kecil yang memanggilnya.


"Mama." Suara itu sedikit keras hingga menjadi pusat perhatian di Kafe.


Bocah kecil itu tak lain adalah Angkara. Azka sengaja mengajak putranya ke Kafe untuk memantau Salsa. Bukan karena tak percaya, tapi dia tidak ingin Salsa dekat-dekat dengan Riko.


Sejak awal saat nama Riko di sebutkan, hati Azka sudah terbakar. Dapat dia lihat dari tatapan laki-laki itu, Riko menatap penuh damba istrinya, jangan sampai rasa penuh dampa itu menjadi sebuah obsesi yang bisa mencelakai Salsa.


"Kara? Kesini sama siapa nak?" tanya Salsa, dia sedikit terkejut akan kedatangan putranya.


Bukan hanya dia, tetapi ke empat laki-laki yang duduk dengannya juga terkejut. Mungkin tidak menyangka, dia sudah mempunyai anak sebesar Angkara.


"Sama Papa, tuh!" Angkara menunjuk meja lumayan jauh dari mereka.


Senyum di wajah Salsa terbit begitu saja. Di sana, Azka sedang bersandar di kursi seraya bersedekap dada, saat mata mereka tak sengaja bertemu, Azka malah menaikkan alisnya seperti menggoda.


"Mama ngapain di sini, sama om-om?" kepo Angkara.


"Beneran anak kamu Sal?" tanya Riko, mewakili yang lainnya.


"Iya dia anak aku, dan cowok yang ada di sana suami aku," jawab Salsa tanpa malu.


Dia beralih menatap putranya. "Mama lagi ada tugas dari pak guru, Kara sama Papa dulu ya!"


"Mama nyusul?"


"Iya Sayang. Mama nyusul setelah selesai."


Angkara menganggukkan kepalanya, berlari menghampiri Azka kembali.


Sementara Salsa menatap tak enak pada teman-teman kelompoknya, dia meringis.


"Maaf ya, diskusi kita buyar karena anak aku," ucapnya tak enak.


"Santai aja kali, namanya juga anak-anak. Tapi nggak nyangka aja sih, incaran angkatan kita ternyata udah berpawang, parahnya lagi dah ada ekor," seloroh laki-laki bernama Doni.


"Bisa aja, kalau gitu kita lanjut."


Salsa kembali melanjutkan diskusinya, sesekali tertawa jika di dalam pembicaraan mereka ada yang lucu, dan di saat itu pula api di dalam hati Azka semakim berkobar, tapi apa boleh buat Salsa sedang kerja kelompok, Azka tidak boleh egois.


Sudah untung Salsa memilih tempat terbuka seperti ini.


"Eh." Salsa terkejut kala tangannya tiba-tiba di tarik oleh Riko. Saat itu juga, tatapan Azka semakin menajam seperti ingin menelan Riko hidup-hidup.


"Perhitungan kamu salah Sal, harusnya tuh gini." Tanpa rasa bersalah, Riko menjelaskan kesalahan Salsa, merumuskan di telapak tangan wanita itu, padahal di hadapan mereka banyak kertas kosong.


"Nggak gitu juga kali Ko, kertas banyak tuh." Tegur Doni.


"Tau, kesempatan banget."

__ADS_1


"Woi lo gila Ko? Noh suaminya dari tadi natap."


Salsa yang masih dalam mode terkejut segera menarik tangannya dari Riko, dia lansung melirik Azka yang bahkan tak berkedip sekalipun.


"Tinggal di rangkum kan? Biar aku yang kerjain semuanya, kalian terima beres aja. Aku pamit dulu ya!" Salsa langsung membereskan buku-buku di hadapannya. Berpamitan pada teman-teman yang lain, lalu menghampiri Azka.


"Lama ya?" tanya Salsa basa-basi setelah duduk di hadapan Azka.


"Udah makannya Nak?" Azka menghiraukan keberadaan Salsa.


"Dikit lagi Papa," jawab Angkara semakin mempercepat menghabiskan es krimnya. "Mama udah selesai?"


"Iya Sayang, hati-hati makannya ntar keselek lagi."


Salsa menatap Azka. "Kamu nggak pesan makanan gitu Ka?"


"Kenapa? Kamu lapar?" tanya Azka balik, di jawab gelengan oleh Salsa.


Terjadi perang dingin antara Azka dan Salsa, dan satu yang di sukuri Salsa saat ini, karena Azka tidak mengamuk seperti sebelum-sebelumnya jika melihat dia bersama laki-laki lain.


"Kara, ikut Mama aja biar bisa sandar, Papa ngikut dari belakang," ucap Azka membukakan pintu mobil untuk putranya, tapi tidak untuk Salsa.


Seperti yang Azka katakan, Dia mengawal istri dan putranya hingga sampai di rumah. Azka turun dari motor tanpa mengatakan apapun, masuk ke kamar hanya untuk menganti baju setelah itu keluar lagi tanpa mengajak Salsa bicara sedikitpun. Dia masih marah pada istrinya.


"Ka, kamu udah makan? Mau aku masakin apa?" tanya Salsa.


Namun, Azka menghiraukan begitu saja. Laki-laki itu melewatinya dan menghampiri Angkara.


"Mau, pasti Kara menang dari Papa." Bocah kecil itu langsung berlari keluar rumah untuk mengambil sepedanya, begitupun dengan Azka.


"Tunggu!" panggil Salsa. "Mama boleh ikut?" tanya Salsa berdiri di samping Angkara.


"Boleh Mama, ayo!" sahut Angkara.


Tapi bukan itu yang di ingingkan Salsa, dia ingin Azka yang menyahut, nyatanya laki-laki itu seperti acuh.


"Ayo Kara!" ajak Azka.


"Hati-hati Sayang."


"Iya Mama."


Angkara terus mengekori Azka yang berada di depan, ketika Papanya memelankan laju sepeda, Angkara langsung mengayuh lebih cepat agar sejajar.


"Papa!" pekik Angkara.


"Kenapa bocil?"


"Lepasin roda kecil sepeda Kara! Kara udah pintar Papa."

__ADS_1


"Nggak boleh, kamu luka Papa yang di marahin," tolak Azka.


Bukan hanya Salsa yang akan memarahinya, tetapi orang tua juga mertuanya akan merah jika cucu satu-satu mereka terluka.


Angkara mengembungkan pipinya. "Papa nggak asik, cape deh." Dia menepuk keningnya sendiri, melihat itu, Azka langsung tertawa seraya mengacak-acak rambut Angkara dengan sebelah tangannya, sementara yang lain memegang setir sepeda.


Azka menghentikan sepedanya di pinggir jalan kompleks, membalik topinya begitupun dengan Angkara. "Nah gini kan keren, Bro."


"Kara Tampan!" seru Kara mengepalkan tangannya.


Keduanya kembali melaju menuju lapangan yang sering di gunakan untuk olahraga sore seperti ini.


"Papa, papa!" panggil Angkara. "Papa musuhan sama Mama? Mama mau ikut tadi, tapi Papa langsung pergi."


"Ah masa sih? Kayaknya Papa nggak dengar, lain kali aja kita ajak Mama," sahut Azka, pura-pura tidak tahu padahal memang dia sengaja mengacuhkan istrinya.


***


Karena di hiraukan oleh Azka, Salsa memutuskan istirahat sebentar di sofa dengan kaki di selonjorkan. Setelah lama istirahat, barulah dia kedapur untuk menyiapkan makan malam.


Tepat saat kegiatan memasaknya selesai, sorakan dan suara tawa terdengar di halaman rumah, pertanda Kara dan Azka baru saja pulang.


Mengerti apa yang di butuhkan jika habis olahraga sore-sore, Salsa langsung menyiapkan jus kesukaan masing-masing dan mengantarnya kedepan.


"Minum dulu Ka." Menyerahkan jus pada Azka juga Angkara.


"Hm."


"Makasih Mama."


"Sama-sama sayang." Salsa ikut duduk di samping Angkara. "Senang olah raga sama Papa?"


"Senang banget Mama, Kara di beliin eskrim lagi sama Papa. Kalau Mama larang-larang Kara terus."


Seketika Salsa langsung menatap Azka. "Jangan keseringan ngasih Kara eskrim Ka!"


"Santai aja kali, nggak usah terlalu di batasin," gumam Azka.


Azka langsung beranjak, meninggalkan Angkara dan Salsa di teras depan.


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπŸ₯°πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉ


Follow untuk melihat visual


IG: Tantye005


Tiktok: Istri sahnya Eunwoo

__ADS_1



__ADS_2