Kembalinya Suamiku

Kembalinya Suamiku
Part 18 - Kembalinya Suamiku


__ADS_3

Setelah semua sarapan siap di atas meja makan, barulah Salsa membersihkan tangannya dan kembali ke kamar untuk menemui sang suami.


"Sayang, ayo sarapan dulu."


"Hm," gumam Azka mengikuti langkah Salsa keluar dari kamar.


Seraya berjalan, Azka merapikan kemeja yang ia pakai. Hari ini ia memutuskan untuk mengambil alih Cafe yang di kelola Salsa selama ini.


Katanya Kafe itu adalah mahar untuk Salsa saat pernikahan mereka lima tahun yang lalu. Percayalah, Azka sangat penasaran seberapa bucin dirinya pada Salsa hingga memberikan mahar lumayan fantastis.


Laki-laki itu tersenyum ketika melihat Salsa berjalan mendekat sembari mengandeng tangan Angkara yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


"Kenapa belum makan, Ka?" tanya Salsa menarik kursi untuk putranya.


"Katanya kamu mau mulai dari awal, kan?"


"Iya."


"Kalau begitu bersikap sebagai suami istri sesungguhnya, lakukan tugas kamu sebagai seorang istri."


Salsa tersenyum ketika mengerti arah pembicaraan Azka. "Nggak usah bertele-tele kali Ka," gumam Salsa.


Wanita itu mengambil piring dan mengisinya dengan nasi, kemudian menyerahkan pada Azka. "Makan yang banyak suamiku."


"Mama cantik kalau lagi senyum," celetuk Angkara tiba-tiba. "Kalena Papa udah balik, Mama nggak boleh nangis lagi."


"Karena," ralat Azka. "Kara nggak lupa sama perjanjian Papa semalam kan?"


"Hampir lupa Pa," cengir Angkara tanpa dosa.


Setelah sarapan bersama, Salsa mengantar suami dan anaknya sampai teras.


"Hati-hati sayang, jangan terlalu lelah. Oh iya ini bekal buat makan siang nanti." Salsa menyerahkan kotak makan pada Azka.


"Nanti Kara aku yang jemput aja Ka."


"Hm."


Sepeninggalan Azka, Salsa merombak habis kamarnya. Memajang sesuatu yang mungkin bisa memicu ingatan Azka agar kembali.


Wanita itu berkacak pinggang setelah semua pekerjaanya selesai.


"Semoga usaha aku nggak sia-sia," guman Salsa.


Kali ini banyak foto-foto dan beberapa benda berada di kamarnya.


Foto saat Azka melamarnya di lapangan di saksikan Anggota Avegas, foto pernikahan juga beberapa foto liburan mereka.


Boneka yang dulunya berada di lemari, Salsa sengaja letakkan di tempat tidur. Boneka itu hasil capit saat ia ke pasar malam dan Azka tiba-tiba datang membantu dirinya.


***


Karena tak mengenal siapapun, Azka hanya sibuk dengan dunianya sendiri di dalam ruangan khusus manajer untuk memeriksa keuangan dan mengelola beberapa keperluan Kafe.


Walau tertidur selama lima tahun, bukan berarti otak cerdas Azka hilang, tidak.


Karena ingin mengetahui seluk beluk Cafe, Azka turun tangan sendiri memeriksa dapur, memeriksa beberapa bahan yang mungkin rusak dan kurang di perhatikan.

__ADS_1


"Ini dagingnya udah dari kapan?" tanya Azka pada salah satu Chef.


"Baru kemarin Tuan."


Azka langsung membuang daging itu ke tempat sampah. "Lain kali perhatikan bahan-bahan makanan. Warna dagingnya sudah gelap."


"Maaf Tuan."


Azka hanya menganggukan kepalanya. Kembali berjalan untuk memperhatikan yang lain.


Sebenarnya laki-laki itu di suruh memimpin perusahaan Papinya, tetapi ia menolak karena belum kuliah, apa kata rekan kerja Papinya. Hanya karena ia anak pengusaha, dengan mudahnya menempati jabatan tinggi tanpa melewati peryaratan perusahaan.


Brugh!


"Maaf," ucap seorang lelaki yang baru saja menabrak tubuh Azka.


"Wangi itu?" gumam Azka.


Azka berbalik untuk memastikan orang itu sekali lagi. Wangi parfum pria itu seperti tidak asing untuknya, tapi ia lupa siapa pemiliknya.


"Shitt," umpat Azka ketika merasakan kepalanya kembali berdenyut.


Ini sangat aneh menurutnya, jantungnya yang bermasalah tetapi kepalanya yang sakit jika berusaha mengingat sesuatu.


"Anda tidak apa-apa tuan?" tanya pelayan.


"Pergilah!" usir Azka menepis tangan pelayan wanita itu.


Azka memutuskan untuk pulang kerumah sebelum makan siang. Sepanjang jalan ia terus memikirkan wangi parfum itu.


"Siapa orang itu?" gumam Azka.


"Halo El, bisa ketemu sekarang?"


"Kemarkas!"


Azka menyetujui perintah Samuel, ia membanting setir kemudi untuk putar balik menuju markas. Sesampainya di sana, sangat sepi hanya ada anggota inti, itupun hanya Samuel dan Keenan.


"Ada apa?" tanya Keenan kepo.


"Gue nggak sengaja nyium parfum aroma mint tapi aroma ini beda sama aroma pada umunya. Kesannya khas seseorang, tapi gue nggak ingat. El, lo tau siapa pemiliknya, siapa tau dia orang terdekat gue atau ...."


"Bukan ...." Potong Samuel.


"Tunggu, Aroma Mint? Apa ada wangi tumbuhan juga dan semacamnya?" tanya Keenan.


"Sepertinya."


Keenan terdiam, jangan sampai orang itu benar orang yang selama ini mereka takutkan kembali. Dan sekarang berada di sekitar Azka?


"Lo tau?"


"Nggak, itu cuma perasaan lo aja kali," sanggah Samuel. "Tapi hati-hati aja, gue takut mereka gunain kelemahan lo untuk sekarang!"


***


Azka pulang kerumahnya menjelang sore, laki-laki itu menghabiskan waktunya di Markas, berbaur dengan yang lain berharap sesuatu kembali menghinggapi pikirannya.

__ADS_1


"Papa!" Sambut Angkara langsung berlari memeluk Azka.


"Kenapa?"


"Kala ada tugas, Papa mau ajalin Kala? Kata Mama, Papa pintal banget."


"Benarkah?" Azka melirik Salsa yang tengah senyum-senyum sendiri.


"Mau mulai dari awal kan? Mulai dari ajarin anak kita ya. Dia kayak kamu pengen tau segala hal."


"Nanti Papa ajarin, sekarang Kara main dulu ya!" pinta Azka kemudian melangkah pergi, kepalanya masih terasa pening.


Tanpa sadar, Salsa mengikutinya dari belakang.


"Kayaknya kamu lelah banget Ka. Kalau emang belum bisa beraktivitas istirahat aja dulu."


"Aku nggak papa, mungkin belum terbiasa."


"Aku buat kopi hangat buat kamu kalau gitu."


Wanita itu segera meninggalkan Azka, menuju dapur untuk membuatkan suaminya secangkir kopi. Saat kembali ke kamar, ia mendapati Azka tengah duduk di sofa seraya memainkan ponselnya.


Salsa meletakkan kopi di meja, kemudian ikut duduk di samping Azka. Tanpa izin ia menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.


"Wangi banget suami aku," gumam Salsa seraya memejamkan matanya.


"Makasih kopinya," ujar Azka menyeruput kopi yang di bawa Salsa.


"Sayang, apa kamu belum ingat sesuatu tentang aku?"


"Belum. Mau mulai malam ini?"


"Nggak papa? Takutnya kamu sakit."


"Nggak, daripada berlarut-larut."


Salsa mebgangguk semakin mengeratkan pelukannya pada Azka.


"Aku mau cerita tentang lamaran dulu." Salsa senyum-senyum sendiri tanpa Azka ketahui.


Belum bercerita saja, Salsa sudah tersipu malu. Mengingat betapa romantisnya Azka saat melamar dirinya.


"Sebelum bercerita, coba kamu liat foto itu." Tunjuk Salsa pada foto di dekat Rak buku. "Itu foto saat kamu lamar aku."


"Sejak kapan itu ada di sana?"


"Tadi."


"Azka, kamu tau malam itu adalah malam paling bahagia yang aku rasakan. Di hari ulang tahunku, kamu melamar aku di depan teman-teman kamu."


"Benarkah?"


"Iya, katanya kamu bakal wujutin semua adengan yang ada di novel yang aku baca, Menikah dan mempunyai anak udah kamu wujudkan Ka, tapi belum dengan keluarga bahagia."


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπŸ₯°πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉ

__ADS_1



__ADS_2