
Keenan langsung beranjak dari duduknya dan menjauhi teman-temannya untuk menjawab panggil dari polisi itu.
Dia berdehem, sebelum berbicara.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Keenan.
"Benar ini Tuan Adreas?"
"Benar, Pak. Kenapa?"
"Maaf menganggu waktunya, saya hanya ingin mengonfirmasi tentang laporan pak Adreas semalam. Semuanya telah di usut tuntas dan pelaku akan segera di amankan, kami sangat berterimaksih karena pak Adreas melapor secepat mungkin hingga tidak ada korban selanjutnya."
"Kembali kasih Pak, kalau bisa hukum tersangka seberat-beratnya, saya belum terima dia melukai sahabat saya."
Usai bertukar suara dengan polisi, Keenan kembali menghampiri teman-temannya, duduk dengan senyuman di wajahnya.
"Beres," ucapnya.
"Beres apa nih?" tanya Rikcy.
"Jert di tangkap polisi karena membunuh Riko," jawab Keenan sesantai mungkin.
Membuat yang ada di ruangan itu mines Samuel terkejut bukan main.
__ADS_1
"Bukannya yang bunuh El?" tanya Dito dengan suara sangat lirih.
"Apa sih, yang nggak bisa gue lakuin? Cuma menghilangkan jejak di TKP mah, gampang." Keenan bersedekap dada, mulai menyombongkan dirinya.
Memang di antara mereka, Keenan yang selalu membereskan TKP, laki-laki itu sangat pandai memanipulasi bukti.
Semalam, setelah Samuel menghajar Riko hingga merengang nyawa, Keenan menghilangkan jejak Avegas, dan menyuruh anggotanya agar membawa Jery ke TKP. Setelahnya, dia menelpon polisi atas kasus perkelahian antar anggota karena posisi menjadi ketua geng motor.
Apa lagi, tidak ada penyelidikan lebih lanjut, karena orang tua Riko tidak ingin ada autopsi di lakukan. Alhasil jejak ataupun sidir jari Samuel tidak ditemukan, terlebih laki-laki itu sudah antisipasi dengan sarung tangan.
Sidik jari Jery di temukan pada senjata api, karena Keenan yang membuat Jery memegangnya sebelum pergi.
Bukan hanya Jeri yang akan masuk penjara atas kematian Riko, tetapi beberapa Anggota Wiltar juga, dengan tuduhan sering meresahkan warga sekitar.
"Lah, bukannya bagus?" bingung Rayhan.
"Bagus pala lo, hukum bakal hancur kalau ada Keenan yang lain jadi Jaksa, untung-untung kalau nggak terlena sogokan yang lebih berkuasa," balas Azka.
"Iya juga sih." Rayhan mengaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Sans aja, gue juga nggak minat masuk hukum, jadi CEO aja lah, kasian pak Adreas kerja mulu," sahut Keenan.
"Syukurlah, om Dilan punya anak waras, nggak kayak om Elvan dan Om Daren,"
__ADS_1
"Lah kok gue?" Samuel dan Rayhan menunjuk dirinya.
"Nggak ada yang mau nerusin bisnis orang tua," ejak Azka.
"Halah, lo aja kalau nggak di janjiin nikah sama Salsa nggak bakal mau jadi CEO, cita-cita lo kan sama kek Samuel," cibir Dito.
Salsa sontak melirik Azka, dia baru tahu kalau suaminya ternyata bercita-cita menjadi Pilot, tetapi kenapa malah mengambil jurusan manajemen?
"Benar, Ka?"
"Dulu Say ... Sal pas belum ketemu kamu, sekarang mana tega aku ninggalin istri berhari-hari kalau ada jadwal penerbangan," jawab Azka.
"Halah, gue tau, lo tadi mau manggil Sayang kan, ngaku lo pak ketua bucin," todong Ricky.
"Lah, kok lo yang sewot, terserah dialah makanya nyari cewe," ledek Keenan.
"Lagi proses brader, nih gue mau coba-coba jadi guru di SMA Angkasa, siapa tau Hoky kayak pak Alvi, nikah sama siswa sendiri."
Ya, memang di antara yang lain, hanya Rikcy yang memilih menjadi seorang guru. Namun, tujuannya sangatlah sesat, bukan ingin membagi ilmu, melainkan mencari calon istri.
"Siapa tau kan, ada yang manggil gue." Ricky menjeda, memperagakan seorang perempuan yang tengah menyingkap rambutnya kebelakang telinga. "Hay pak Ricky."
...****************...
__ADS_1
...Like dan komen, atau author ngambek💩...