Kembalinya Suamiku

Kembalinya Suamiku
Part 65 - Kembalinya Suamiku


__ADS_3

Salsa menganga tak percaya melihat semua belanjaan suami juga putra kecilnya, kedua manusia tampan itu seperti ingin mengambil semua barang yang ada di toko. Matanya memicing, melihat beberapa mainan di tangan Azka juga mobil-mobilan besar dalam pelukan Angkara.


Ini mah borong mainan berkedok bahan-bahan kue.


"Mama, Kara punya banyak mainan!" pekik bocah kecil itu dengan binar bahagia di wajahnya.


Salsa hanya bisa memijit pelipisnya yang mulai berdenyut, sepertinya dia harus menyetok sabar sebanyak-banyaknya menghadapi kedua orang tercintainya.


"Gemes banget sih kalian." Salsa mengepalkan tangannya, antara gemes, kesal dan marah bercampur menjadi satu.


"Iya dong Mama, bukan cuma gemes tapi kita tampan," sahut Azka tanpa dosa.


Laki-laki itu meletakkan semua belanjaan yang di tuliskan Salsa, kemudian mengecup pipi istrinya tanpa ada rasa bersalah.


"Jangan cemberut terus, nanti cepat tua."


"Papa, Kara!" pekik Salsa.


"Iya Mama?" sahut keduanya.


"Sudahlah, kalian buat Mama pusing. Kamu mau apain semua Mainan Nak? Mainan kamu hampir penuh satu kamar. Kamar di sebelah kamar kamu tuh hampir nggak muat."


"Di simpan Mama, semua itu udah jelek dan tua, Kara punya yang baru!" seru bocah kecil itu tanpa tahu kegemasan Mamanya.

__ADS_1


Dan sebentar lagi, kegemesan itu akan berimbas pada Azka, biang dari masalah yang terjadi.


Salsa menatap Azka dengan tatapan penuh peperangan.


"Angkara yang mau Sayang. Anak kita yang ngumpulin mainan, aku nggak salah apapun, cuma bayar doang," cengir Azka.


"Total?"


"Ngapain mau total sih? Nggak usah di bayar juga Sal, aku ikhlas lahir batin nafkahin kamu dan Kara ... ssssttttt sakit Sayang," ringis Azka di akhir kalimat ketika Salsa mencubit pinggangnya sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Angkara yang mulai sibuk, unboxing mainan baru kurang lebih 10 dus, dan semuanya lumayan besar.


"Tidur di luar, aku cape mau tidur lebih awal," bisik Salsa segera meninggalkan putra dan suaminya di ruang keluarga.


"Mama kuenya gimana? Terus Angkara?" teriak Azka.


"Beneran mau di kunciin aku?" guman Azka segera menyusul istrinya, dan benar pintu kamar terkunci, dia mengambil nafas panjang sebelum bicara.


"Sayang, Aku cuma nyenangin Kara, suka aja kalau dia tersenyum karena sesuatu, lagian cuma mainan, harganya nggak seberapa. Aku tuh cuma mau nebus waktu yang pernah aku lewatkan sama putra kita," ucap Azka.


"Bukan itu Azka, aku nggak peduli nominalnya. Tapi kamu tuh terlalu nurutin semua keinginan Kara dan terlalu manjain dia. Aku takutnya besar nanti dia jadi anak yang suka seenaknya, menilai sesuatu dengan uang, aku nggak mau itu terjadi!"


"Nggak akan Sayang, aku janji Angkara akan tumbuh menjadi laki-laki yang bertanggung jawab tanpa meremehkan apapun," janji Azka sunguh-sungguh.


Dia akan mendidik putranya agar menghargai seorang perempuan paling pertama.

__ADS_1


"Ya udah."


"Kok yaudah? Pintunya gimana?" tanya Azka.


"Tidur sama Angkara!"


"Terus proses buat dedeknya gimana Sal kalau kita pisah tidur lagi? Nggak bakal jadi-jadi kalau nggak di semprot tiap hari."


Di balik pintu, tawa Salsa hampir pecah karena kalimat terakhir Azka. Menyemprot? Kenapa bahasa itu sangat lucu menurutnya?


"Ya udah deh, nggak papa, cuma malam ini 'kan? Aku bisa tidur sama Kara. Besok pagi liat aja." Kalimat terakhir sengaja Azka kecilkan agar Salsa tidak mendengarnya.


Karena berdua saja dengan sang putra, Azka memutuskan untuk membuat kue berbekal resep dari media sosial.


"Bro, ayo buat kue untuk Mama!" panggil Azka.


Angkara yang di panggil segera mendekat, meninggalkan semua mainannya.


"Kue? Hore!"


...****************...


Semoga aja anak dan Bapak nggak buat masalah lagi🧐

__ADS_1


Komen dan like buruan! Sebelum ketinggalan pesawat💃


__ADS_2