Kembalinya Suamiku

Kembalinya Suamiku
Part 33 - Kembalinya Suamiku


__ADS_3

"Kenapa murung gitu Sal?" tanya Azka.


Sudah setengah jam lamanya Salsa ada di ruangan Azka. Tapi tak sekalipun wanita itu mengeluarkan suara, bahkan wajahnya sedikit di tekuk seperti kesal akan sesuatu.


Azka ikut duduk di sofa, menarik pinggang Salsa agar mendekat padanya. "Kenapa, Hm?" tanya Azka sekali lagi.


"Aku kangen sama Kara, tapi nggak enak kalau nyuruh Mami pulang cepat," lirih Salsa.


Ini kali pertama Salsa berpisahan dengan putranya cukup jauh. Biasanya hanya setengah hari, itupun cuma di rumah Mama atau mertuanya.


"Nggak ada yang lain?"


"Nggak ada, selain nggak suka sama cara ngomong kamu tadi Ka. Kesannya kasar banget, jangan di ulangi lagi ya, apa lagi pas ada Kara, takutnya dia niru." Salsa menyandarkan kepalanya di pundak Azka.


Dia ikut mengelus salah satu tangan Azka yang kini melingkar di pinggangnya.


Salsa mendongak, untuk menatap sang suami ketika tidak ada sahutan.


"Azka aku nggak bermaksud ...." Salsa membeku, ketika bibirnya mendarat dengan sempurna di bibir seksi Azka.


Dia tidak sadar tadi bahwa Azka tengah mencium puncuk kepalanya, hingga saat mendongak terjadilah ciuman.


Waktu seakan berhenti detik itu juga, hidung yang saling menyentuh dan mata yang bertaut satu sama lain, membawa kesan yang mendebarkan.


Perlahan tapi pasti, Azka mengerakkan bibirnya untuk menelusiri mulut Salsa semakin dalam. Tangannya mulai bergerak tak karuan mencari sesuatu yang pas untuk dia raba.


Tanpa sadar dan mungkin terbawa suasana, Salsa sudah berada di pangkuan Azka. Laki-laki itu mencengram rahang Salsa agar pangutannya semakin dalam.


Tok ... tok ... tok.


"Tuan, makan siangnya!" ucap seseorang pelayan di balik pintu.


Seketika Salsa langsung tersadar, dia mendorong dada Azka agar menjauh darinya.


"A-Azka, tadi aku nggak sengaja, bukan agresif," gugup Salsa.


"Manis sayang, setelah makan siang kita pulang," sahut Azka semakin erat memeluk pinggang Salsa agar tidak turun dari pangkuannya.


"Masuk!" perintahnya pada pelayan.


"Ma-maaf menganggu waktunya Tuan, Nona," sesal sang pelayan yang mengantar makanan.


"Santai aja mbak, makasih makannya," ucap Salsa


"Sama-sama."


***


Usai makan siang di Kafe, Azka benar-benar mengajak Salsa pulang, tetapi bukan untuk kerumah, melainkan jalan-jalan terlebih dahulu. Tapi sebelum itu, Azka menyempatkan diri ke toko untuk membeli celana untuk sang istri.

__ADS_1


Sudah lama dia tidak jalan-jalan bersama istrinya, dan sekarang Azka akan menghabiskan wakutnya sepuas mungkin, untuk menganti masa-masa sulit istrinya beberapa tahun yang lalu.


Sepanjang jalan, Azka tak pernah melepaskan ngenggaman tangannya, bahkan sesekali mengecup jari-jari Salsa seraya menyetir dengan sebelah tangan.


"Tangan kamu kecil banget Sal, nggak ada yang berubah," ucap Azka.


"Iyalah Ka, ya kali makin besar padahal tubuh aku gini-gini aja."


"Sal, maaf kalau ucapan aku tadi sedikit kasar, aku kelepasan karena marah. Aku paling nggak suka kalau kamu berpakaian seperti itu," sesalnya.


"Maaf di terima suamiku."


"Sebelum ke pantai, kita mampir ke Markas dulu ya!" Salsa mengangguk.


Keduanya sampai di markas setelah menempuh perjalan kurang lebih 15 menit. Di halaman rumah sederhana itu tak ada satupun yang di kenal Azka, pertanda inti Avegas tidak ada di dalamnya.


Walau begitu, Azka tetap melanjutkan langkahnya memasuki rumah.


"Bang Azka," sambut anak-anak Avegas, terutama Regan, sebagai ketua angkatan 2.


"Regan, ketua Avegas sekarang bukan?" tanya Azka.


Pasalnya dia sering mendengar nama itu di sebut oleh inti Avegas. Kepemimpinan Regan 11,12 sepertinya, tidak mudah goyah dan di pukul mundur oleh musuh.


Hanya beberapa yang berbeda, Regan ramah, humoris dan tentu saja tidak mudah tersulut emosi.


"Iya Bang," jawab Regan.


"Keen, sama yang lain mana?"


"Dua hari ini nggak ada yang datang Bang, kayaknya sibuk."


Azka mengangguk mengerti, melangkah menuju sofa dan menyuruh Salsa duduk di sana seorang diri, sementara dia melanjutkan menjelajahi markas.


Tidak ada yang berubah dengan markasnya selain wajah-wajah baru. Dia kembali menghampiri Regan di sofa lainnya.


"Bayangan masih aktif?" tanyanya.


"Aktif bang, ini dua hari lagi ada misi. Bang Keen sama Bang El, nyuruh aku yang handel karena mudah, cuma mastiin seseorang keluar dari bandara tanpa pengetahuan orang lain."


Azka memgangguk mengerti, hendak pergi, tetapi langkahnya tertahan karena kalimat Regan.


"Belakangan ini kita sering di serang geng motor bang, kayaknya masih baru."


"Baru?"


"Iya, geng motor jaket hitam campur warna tanah."


Azka senyum miring, nepuk pundak Regan. "Dia bukan geng motor baru, dia geng motor yang udah lama ngincar kehancuran Avegas. Hati-hati, mereka berbahaya."

__ADS_1


Setelah berbincang cukup lama dengan Regan, Azka menyusul Salsa dan duduk di samping wanita itu. Dia juga sudah menghubungi Inti Avegas agar berkumpul di markas, dan sangat di untungnya kelima sahatnya punya waktu luang.


Azka ingin memberitahu mereka bahwa ingatannya sudah pulih. Banyak yang harus dia ketahui tentang Wiltar yang ternyata semakin berjaya, padahal dia berharap, setelah kabar kematiannya dulu tersebar, Leo di penjara dan Wiltar musnah.


"Pasti mereka senang banget dengarnya Ka," ucap Salsa.


"Nggak yakin, El sama Keen lagi marah sama aku."


"Kok?" bingung Salsa.


"Wajar mereka marah, aku lebih percaya orang lain di banding istri sendiri."


Salsa tersenyum, meraih tangan Azka untuk di genggamnya. "Tau nggak Ka? Sejak kamu nggak ada, mereka tuh peduli banget sama aku. Mereka jagain aku sama seperti dulu saat kita sekolah. Pokoknya dia sahabat terbaik kamu Ka. Setia walau ngira kamu nggak mungkin kembali."


"Mungkin tanpa mereka aku nggak bakal sekuat ini. Aku hampir nyerah pas masa-masa ngandung Angkara, tapi mereka selalu support aku, nyempetin waktu kerumah bareng-bareng, ada Ara dan Giani juga, sayangnya sekarang dua orang itu udah pergi jauh karena kecewa." Mata Salsa berkaca-kaca menceritakan bagaimana kompaknya inti Avegas menjaga dirinya.


"Kamu tau? Sampai sekarang, kamu masih nyandang ketua Avegas, karena mereka nggak mau gantiin posisi kamu. Katanya, mereka nggak pantas jadi ketua."


Azka menghapus air mata di pipi Salsa. "Maaf, karena buat kamu dalam kesulitan Sal," sesal Azka.


"Nggak papa, ini juga demi anak kita."


"Ekhem ... ingat tempat napa," cibir Ricky yang lebih dulu datang di banding yang lain.


"Makanya nikah!"


"Wait!" Pekik Ricky. Dia langsung duduk di samping Azka, dan memegang kedua pundak laki-laki itu. "Lo beneran Azka? Lo nyahutin candaan gue, dan nggak ngambil hati?" tanyanya tak percaya.


"Lepasin nggak tangan lo!" Azka melirik kedua tangan Ricky agar berpindah tempat.


"Sal, jelasin sama gue sekarang!"


Salsa tertawa, melihat ekspresi Ricky. "Dia Azka yang dulu, ketua kamu udah balik seluruhnya. Dia ingat kamu dan semuanya."


"Daebak."


Plak


Azka menepis tangan Ricky yang hampir memeluknya, sangat Alay dan berlebihan.


"Ketua gue kembali njir!" teriak Ricky.


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπŸ₯°πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉ


Follow untuk melihat visual


IG: Tantye005

__ADS_1


Tiktok: Istri sahnya Eunwoo



__ADS_2