
Azka menyandarkan tubuhnya di tembok depan kelas Salsa seraya memainkan ponselnya. Banyak pasang mata yang memperhatikan betapa tampan dan sempurna pahatan wajah Azka.
Tak sedikit yang curi-curi pandang pada lelaki itu, namun tak satupun yang bisa mengalihkan perhatian Azka, hingga seorang wanita datang dan langsung mengecup pipi Azka seperti biasa.
"Lama ya nunggu?" tanya Salsa yang baru saja keluar kelas.
"Baru aja sampai, ayo!" Azka langsung mengenggam tangan Salsa dengan wajah datarnya.
Berjalan beriringan menuju kantin tanpa melepaskan tautan tangan satu sama lain. Keduanya makan dengan lahap dan berpisah ketika masuk ke kelas masing-masing.
***
Sore harinya, Azka sengaja menunggu Salsa di parkiran untuk pulang bersama. Dia senyum tipis ketika melihat sang istri melambai seraya berjalan ke arahnya.
"Kirain udah di tinggalin," ucap Salsa dengan senyuman. Menerima begitu saja saat Azka memasangkan helm di kepalanya.
Sungguh, sangat sulit bagi Salsa untuk mencari topik jika ingin berbicara dengan Azka. Lelaki itu sangat garing dan sering mengakhiri pembicaraan begitu saja tanpa tahu betapa sulitnya bagi Salsa untuk memulai.
"Azka, sebelum pulang kita jalan-jalan dulu yuk. Udah lama kita cuma belajar terus, sekali-kali refresing nggak ada salahnya," ucap Salsa sedikit berteriak karena takut suaranya tenggelam karena angin.
"Mau kemana?"
"Kemana aja yang penting sama kamu," sahut Salsa semakin erat memeluk Azka.
"Aku lupa dimana aja tempat kesukaan kamu Sal, ngomong aja kita kesana sekarang!" perintah Azka.
Salsa sedikit berfikir sebelum berbicara, mungkin ini saatnya dia memancing ingatan Azka.
"Bukit tempat kita sering ngabisin waktu liburan."
"Sesering itu aku pergi sama kamu?"
Salsa tertawa. "Dulu, kamu nggak pernah absen ngapelin aku tiap malam maupun pulang sekolah pas pacaran, Sayang. Pokoknya kamu tuh bucin akut."
"Sepertinya," gumam Azka tak membantah, sekarang saja dia mulai merasakannya lagi.
"Kamu ngakuin itu?"
"Nggak, aku nggak percaya pernah sebucin itu sama kamu," sanggah Azka masih tak ingin mengakui.
Azka melajukan motornya semakin cepat menuju bukit yang di beritahu Salsa. Namun, dia harus memotong arah jalan dan putar balik ketika melihat motor yang beberapa hari lalu mengikutinya dan ingin menyerang dirinya.
"Azka ini bukan jalan ...."
"Pegangan yang erat Sal!" perintah Azka.
Lelaki itu menambah kecepatana motornya untuk menghindari kejaran para geng motor berwarna hitam.
"Kenapa Ka?" tanya Salsa penasaran, semakin erat memeluk Azka karena takut jatuh.
"Nggak papa, jangan menoleh kebelakang!" perintah Azka.
__ADS_1
Sialnya, motor Azka berhasil di kepung di jalanan lumayan sepi. Melakukan atraksi? Tidak mungkin Azka melakukan itu yang bisa membahayakan Salsa.
"Az-Azka, siapa mereka?" lirih Salsa semakin takut.
Dia paling membenci tawuran yang bisa saja melukai suaminya.
"Aku juga nggak tau, tapi katanya mereka geng Wiltar," jawab Azka.
Mata Salsa sontak terbebelak. Semakin erat memeluk Azka. Wiltar penyebab suaminya terluka. Karena perbuatan Wiltar yang memancing keributan di sekolah lima tahun yang lalu, membuat Avegas membalaskan dendam malam itu.
"Jangan takut," bisik Azka.
Dia turun dari motor setelah melepaskan pelukan Salsa di pinggangnya. "Jangan turun dari motor apapun yang terjadi!" perintah Azka menepuk-nepuk helm Salsa tak berminat untuk melepasnya.
Salsa mengeleng, tak ingin melepaskan ngenggaman tangan Azka. Apa lagi ketika para geng motor itu membuka helm masih-masing dengan seringai liciknya. Mereka bersiap untuk menyerang Azka.
"Je-Jery?" kaget Salsa ketika mengenali seseorang diantara 7 orang di depannya.
Azka langsung menoleh menghadap Salsa yang terlihat sangat ketakutan. Tangan wanita itu terasa sangat dingin. Dengan terpaksa, Azka membuka helm yang di pakai Salsa kemudian mengusap keringat di kening Salsa.
"Kamu kenal sama salah satu dari mereka?" tanya Azka.
"Iya, di-dia."
Bugh
Azka meringis ketika helm membentur punggungnya sangat keras, tentu saja itu serangan dari geng Wiltar karena Azka tak kunjung melawan, malah romantis-romantisan dengan istrinya.
Azka berlalik, kembali melempar helm itu pada salah satu geng Wiltar. Mungkin penyakit temperamen Azka sudah sembuh, tapi sikap emosi laki-laki itu tak pernah hilang.
Sekali mengusik, jangan berharap Azka akan diam sama.
"Maksud kalian apa cegat gue di tengah jalan? Gue nggak punya urusan sama kalian!" tegas Azka.
Cih
Jery berdecih, meludah ke aspal, setelahnya menatap tajam Azka.
"Tentu saja gue punya urusan sama lo. Bisa-bisanya lo hidup setelah buat gue mendekam di penjara!"
"Tunggu apa lagi serang!" perintah Jery pada teman-temannya.
Geng Wiltar kembali berjaya karena bekingan seseorang yang lumayan berpengaruh di jalanan.
Azka maju, meladani geng wiltar. Satu lawan tujuh memang bukan lawan sebanding, tetapi mau tidak mau Azka harus melawannya untuk membawa Salsa pergi dari sana.
Bugh
Azka melayangkan pukulan terakhir setelah membuat semua anggota Wiltar terkapar dengan wajah bebak belur.
Dia mengusap sudut bibirnya yang berdarah karena pukulan Jery.
__ADS_1
Sementara, Salsa sedari tadi menangis tak tahu harus melakukan apa, sejak dulu dia tak pernah berani melihat Azka berkelahi dengan orang lain, dia membenci itu.
Dia membenci perkelahian, sayangnya, dia mencintai laki-laki yang menjabat sebagai ketua yang mempunyai banyak musuh dimana-mana.
Mata Salsa terbebelak, ketika Jery bangun tepat di belakang Azka. Lelaki itu mengeluarkan belatih berukuran kecil di dalam jaketnya.
"Azka pisau!" teriak Salsa langsung berlari untuk memeluk tubuh Azka, melindungi suaminya dari benda tajam yang sangat berbahaya itu.
Karena tubrukan tiba-tiba dari Salsa, membuat tubuh Azka sedikit linglung hingga berputar menghadap Jery.
Tes
Darah menetes begitu derasnya menodai aspal yang sangat panas karena sinar matahari. Azka menahan ringisannya.
Dengan sebelah tangan dia mendorong kepala Salsa agar bersembunyi di dada bidangnya, tak membiarkan wanita itu melihat darah yang menetes dari telapat tangannya. Azka berhasil menghalang pisau itu mengenai pinggang Salsa dengan menganggamnya.
"Tutup mata kamu," bisik Azka.
Azka langsung melepaskan benda tajam itu, kemudian dengan sigap memelintir tangan Jery hingga belatih itu terjatuh ke aspal.
"Sialan!" kesal Jery karena gagal melukai Azka.
Bugh
Dengan satu tendangan, Azka berhasil menyingkirkan Jeri di sekitarnya. Namun, perkelahian tidak sampai di disitu saja ketika yang lain ikut bangun untuk menyerang kembali.
Walau sedikit kesusahan karena Salsa di pelukannya, Azka tetep mawalan dan menangkis beberapa serangan.
Srettt
Ujung belatih berhasil mengores jekat kulit Azka hingga bagian lengannya robek. Bertepatan dengan itu, Keenan datang. Lelaki itu tidak sengaja lewat dan mengenali motor Azka.
Keenan membantuh melumpuhkan yang lain, hingga mereka kabur karena kelelahan.
"Tangan lo." Keenan melirik tangan Azka yang penuh darah.
"Nggak papa, dan makasih udah nolongin gue."
"Santai aja kali Ka, kayak siapa aja."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
__ADS_1