Kembalinya Suamiku

Kembalinya Suamiku
Part 66 - Kembalinya Suamiku


__ADS_3

Seperti biasa, wanita cantik beranak satu itu, selalu bangun pagi-pagi hanya untuk menyiapkan keperluan putra dan suaminya, baik jika akan pergi bekerja, atau di hari libur sekalipun.


Salsa mencepol rambutnya asal, kemudian masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka juga sikat gigi. Dia menumpu tangannya di wastafel, seraya memperhatikan wajahnya yang sedikit pucat.


"Ya ampun, aku lupa kalau ngunciin Azka," gumam Salsa.


Wanita itu langsung keluar dari kamar mandi, sudah di pastikan suaminya melewatkan sholat subuh. Dengan langkah tergesa-gesa, Salsa menuju kamar Angkara dan membukanya perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara apapun.


"Dimana mareka? Kenapa kamar Kara kosong?" bingungnya.


Kaki kecilnya melangkah semakin lebar menuruni satu persatu anak tangga. Perasaanya mulai tidak enak, melihat jejak kaki sangat mungil berada di atas lantai, padahal sebelum tidur dia sudah membersihkan rumah.


Beberapa waktu lalu, Salsa dan Azka memgembalikan bi Siti pada Maminya atas keinginan Salsa sendiri, dan Azka tidak keberatan sama sekali.


Walau berprofesi sebagai ketua geng motor, Azka tak pernah malu membantu Salsa menjemur pakaian atau menyapu di teras depan, dengan catatan Salsa akan bekerja dua kali, karena bukannya bersih, Azka hanya membuat kekacauan.


Tetapi satu yang membuat Salsa senang, suaminya tidak pernah menyuruh mengerjakan sesuatu sendiri, pasti akan membantu jika bisa.


Hembusan nafas panjang mulai terdengar, Salsa berkacak pinggang melihat anak dan suaminya tidur di depan Tv hanya beralaskan karpet bulu, tanpa selimut ataupun yang lainnya.

__ADS_1


Melihat betapa damainya wajah tampan Azka dan Angkara yang tertidur pulas. Dia menunduk dan mengecup kening sang suami.


"Sayang, bangun! Bawa Kara ke kekamar dan kalian lanjut tidur, di sini dingin," bisik Salsa hanya di jawab gumaman oleh sang suami.


"Sayang."


"Iya Mama." Azka membuka matanya walau terasa berat, dia mengecup bibir sang istri sebelum bangun.


Rasa kantuknya masih terasa, dia baru tidur setelah jam 2 bersama putranya, sangat di untungkan hari ini hari libur atau dia akan mendapat omelan dari istri tercinta.


"Bawa Kara ke kamar!"


"Iya Sayang."


Sepeninggalan Azka ke kamar, barulah Salsa menyalakan lampu ruangan, dan terkejut melihat jejak kaki mungil bukan hanya ada dua melainkan hampir memenuhi ruangan, bahkan di atas sofa juga membekas.


Langkahnya mengikuti kemana asal jejak kaki itu hingga sampai di dapur.


"Azka!" teriak Salsa dengan wajah memerah. Baru pagi-pagi seperti ini dia harus di suguhkan dengan pemandangan merusak mata.

__ADS_1


Dapur idamannya yang dia tinggalkan dalam keadaan bersih sekarang seperti terkena ledakan penyerangan perang dunia.


Bahan-bahan kue yang lupa dia simpan, kini berserakan di atas meja pantri, tepung dan sebagainya berjatuhan ke lantai.


Coklat cair manjadi sebuah mahakarya, yaitu jejak kaki mungil yang hampir mengusai rumah. Ternyata putranya menginjak coklat dan berlarian kesana- kemari. Sudah dapat di pastikan siapa biangnya.


Angkara tidak akan berani melakukan sesuatu jika seorang diri, pasti di ajak oleh Azka.


Nafas Salsa semakin memburu melihat ovennya, di dalam sana ada kue yang sangat hitam. Kompor dan alat-alat dapur lainnya berantakan.


Panci mengkilapnya harus gosong karena coklat, entah apa yang di lakukan dua laki-laki kesayangannya itu.


"Sayang, aku nggak bisa tidur kalau nggak di kelonin dulu."


Tubuh Salsa terasa hangat ketika Azka memeluknya dari belakang, gadis itu segera berbalik dan menjewer telinga sang suami.


...****************...


Bakal di hukum nggak ya, papanya Kara?🧐

__ADS_1


Big No, harus komen nggak mau tau💩


__ADS_2