Kembalinya Suamiku

Kembalinya Suamiku
Part 50 - Kembalinya Suamiku


__ADS_3

Setelah memastikan tidak ada yang terluka dari tubuh istrinya, Azka mengantar wanita itu pulang kerumah dan tidak kembali lagi ke kampus. Sepertinya dia akan kembali mengambil cuti, mungkin saat ini Azka akan mengambil satu semester, sampai masalahnya benar-benar selesai. Istri dan putranya aman dari ancaman apapun.


"Nggak ada yang perlu di khawatirkan Sal." Azka tersenyum, mengelus tangan istrinya yang sedari tadi memeluk erat lengannya.


Mata wanita itu masih memancarkan ketakutan yang sangat dalam. Mungkin jika Azka yang ada di posisi Salsa, dia akan melakukan hal yang sama karema takut kehilagan orang yang sangat di cintainya.


"Lepas dulu, aku mau ambil minum buat kamu," pinta Azka dan di jawab gelengan oleh Salsa.


Azka tersenyum, menarik kepala Salsa agar besandar di dada bidangnya. "Sini peluk yang erat, biar pikiran kamu tenang. Mastiin kalau aku baik-baik saja dan nggak bakal pergi kemanapun."


Salsa mendongak untuk menatap wajah tampan Azka. "Kamu nggak marah aku tempelin gini terus? Nggak marah aku larang-larang pergi dari rumah?"


"Nggak Sayang. Aku tau ini demi keselamatan aku, jadi nggak ada yang perlu di sesalkan."


Azka memang tidak marah, tapi dia merasa gelisah karena tidak bisa menantau dan bertindak sendiri seperti lima tahun yang lalu.


Dulu, dia tidak pernah selemah ini, membiarkan penghianat bersenang-senang begitu lama. Tapi apa daya, sekarang memang dirinya melemah, apa lagi sepertinya dia di serang dari dalam.


"Bibi?" Panggil Azka pada pembantu di rumahnya. "Tolong ambilin minum sama cemilan ya! Istri saya mau minum obat," pinta Azka.


"Baik Tuan."


Azka beralih pada sang istri yang masih sibuk memeluknya. Dia mengecup puncuk kepala Salsa.


"Seandainya ada yang berkhianat di antara Inti Avegas, apa yang harus aku lakukan Sal?" tanya Azka dengan mimik wajah sangat serius.


"Aku nggak yakin kalau mereka tega khianatin kamu Ka. Sekarang kamu punya banyak musuh, mungkin ajakan, mereka juga mau ngadu domba dan memecah ke kompakan Avegas, biar kalian nggak konsen nyari musuh yang sebenarnya, dan malah sibuk saling mencurigai satu sama lain," jawab Salsa.


"Kalaupun memang ada yang berkhianat, tanya alasan dia sebelum kamu beri pelajaran, mungkin saja dia ada masalah yang membuatnya nggak bisa berkutik," lanjut Salsa.


Wanita itu mendongak, mengelu rahang tegas Azka dengan senyuman. "Kamu udah punya anak, mungkin sekarang lebih dewasa. Jadi jangan terlalu gegabah ngambil keputusan."


"Kamu emang bisa buat aku tenang, Sal," ucap Azka, mengecup bibir pink sang istri.


Sebenarnya Azka rindu akan kehadiran anak kecil di rumahnya, tetapi tidak memungkin Angkara tinggal bersama mereka untuk saat ini, apa lagi Salsa sekarang butuh perhatian lebih agar teralihkan dari teror yang selalu menghantui.


Azka dan Samuel tidak mencari tahu siapa peneror itu sebenarnya, karena mereka tahu itu hanya pengecoh agar pikiran mereka teralihkan dan menunda-nunda mencari tahu keberadaan Riko, kaka dari Leo yang telah bebas dari penjara.


Tugas Azka hanya menjaga Salsa agar tidak terluka dan stres memikirkan itu semua.

__ADS_1


"Ini Tuan!" Bi Siti menyerahkan nampang berisi air putih juga beberapa cemilan di atasnya.


Azka mengangguk seraya mengucapkan terimakasih. Laki-laki itu melerai pelukan Salsa.


"Minum obat dari dokter dulu, biar lebih tenang!" pinta Azka.


Usai membantu Salsa minum obat, Azka mengantar wanita itu ke kamar untuk istirahat karena mengatakan sangat ngantuk.


Azka membaringkan diri di ranjang dengan Salsa si pelukannya, dia menepuk-nepuk punggung Salsa sebagai pengantar tidur.


Setelah di rasa terlelap, dan hari masih sangat terang, Azka memutuskan untuk pergi menemui teman-temannya yang mungkin saja ada di markas.


***


Azka sampai di markas, setelah menitipkan Salsa pada pambantunya. Wajah datar dan terkesan dingin Azka perlihatkan saat melintasi pintu utama, membuat anggota Avegas bungkam.


Mungkin merasa bersalah karena teledor menjalankan amanah, hingga resepsi ketuanya harus hancur karena penyusup.


Regan langsung menunduk. "Maaf bang, kita nggak ...." Ucapan Regan terhenti ketika Azka menepuk pundaknya.


"Manusia kan?" tanya Azka.


"Tempatnya salah."


Azka semakin melangkah mendekati para sahabatnya yang kebetulan sedang berkumpul di ruangan khusus mereka-mereka saja.


"Gimana? Ada petunjuk tentang keberadaan Riko?" tanya Azka.


"Belum, dia hilang tanpa jejak lagi," jawab Dito yang membantu Samuel mencari informasi tentang Riko, memang itu tugasnya dalam Avegas.


"Gue harap kita bisa temuin dia sebelum membuat kekacauan besar."


"Gue masih nggak nyangka Riko, adalah kakaknya Leo," gumam Keenan.


"Kenapa nggak? Bukannya sifat mereka sama ya? Sama-sama suka nyamar kek bunglon, kentara banget pengecutnya," geram Ricky.


Inti Avegas selain Azka dan Samuel, baru tahu tentang Riko setelah kekacauan di Villa. Mereka sempat tak percaya, bahwa orang yang mereka cari sangat dekat dengan mereka.


Azka melirik satu persatu sahabatnya. "Ada yang mau ngomong atau jelasin sesuatu, sebelum gue bicara?" tanya Azka.

__ADS_1


Laki-laki itu tidak ingin membuang waktu lama, selagi dia bisa keluar rumah seperti ini tanpa sepengetahun Salsa.


"Ray, lo nggak mau ngomong sesuatu?" tanya Azka dengan sorot mata tajamnya.


"Lah kok gue, gue mana ada mau ngomong sesuatu," balas Rayhan berhasil memancing emosi Azka.


Bugh


Azka sontak melayangkan bogeman tepat di wajah tampan Rayhan yang baru saja menyunggingkan senyuman.


Laki-laki itu mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


Rayhan meludah kesamping untuk mengeluarkan darah di dalam mulutnya, pukulan Azka tidak ada tandingannya jika sedang di liputi amarah.


"Ngapain lo nonjok gue goblok? Ok gue tau gue salah karena teledor jaga keamanan padahal nyiapinnya dua hari, tapi gue juga manusia yang bisa buat kesalahan!" ucap Rayhan penuh penekanan.


Azka senyum sinis, tatapannya kian menajam pada Rayhan. Inti Avegas yang lain tak ada yang ikut campur, hanya asik melihat kedua sahabatnya.


Terutama Keenan dan Samuel yang juga merasa aneh dengan tingkah Rayhan belakangan ini, keduanya tidak membicarakan pada Azka karena takut hanya kesalahpahaman saja.


"Gue nggak ada masalah tentang resepsi yang berhasil di bobol kalau saja lo nggak mencurigakan Ray!" ucap Azka dengan gigi bergemelutuk.


"Lo bisa jelasin, kenapa selama ini lo berusaha nyembunyiin identitas Riko dari yang lain, hm?" Azka menarik kerah kemeja Rayhan, seakan menantang peperangan.


"Nggak bisa kan? Karena sejak dulu lo emang berniat ngehianatin kita!" bentaknya mendorong tubuh Rayhan hingga membentur dinding.


"Tujuan lo apa? Mau jadi ketua? Lo tinggal bilang, gue lebih baik mundur daripada harus berselisih seperti ini. Gue kecewa sama lo, orang yang sangat gue percaya malah nyembunyiin hal yang sangat penting yang hampir saja melukai istri gue sendiri. Untung aja, Glora nggak jadi korban keegoisan lo itu!"


"Yang Egois itu Lo!" balas Rayhan dengan mata memerah, amarah yang selama ini di pendamnya memuncak dan siap meledak.


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπŸ₯°πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉ


Follow untuk melihat visual


IG: Tantye005


Tiktok: Istri sahnya Eunwoo

__ADS_1


__ADS_2