
Azka berangkat kuliah seperti biasa, berbeda dengan Salsa yang mengambil cuti karena sedang tidak enak badan. Wanita itu berbaring di atas tempat tidur.
Tubuhnya terasa sangat lemas entah karena apa, perutnya selalu sakit tiba-tiba tanpa ada penyebab. Sebenarnya Azka ingin ikut cuti untuk menemi Salsa, tetapi wanita itu melarang.
"Mama, Kara punya kabar bahagia!" teriakan bocah berusia 5 tahun terdengar.
Kebiasan putranya jika pulang sekolah, bukannya mengucap salam, malah berteriak tidak jelas jika sedang gembira.
Walau sedikit demam dan tak ingin merepotkan orang tuanya, Salsa beranjak dari tempat tidur menghampiri putranya.
"Kara punya kabar bahagia apa sayang?" tanya Salsa.
"Kara dapat hadiah dari ibu guru karena dapat nilai tinggi. Kara juga udah bisa nyebut R," bangga Angkara dengan binar bahagia di wajahnya.
Salsa tersenyum seraya memeluk putranya. "Anak Mama hebat banget, kalau di targetin waktu pasti bisa ngebuktiin dan nyelesain semuanya. Selamat ya sayang, kita tunggu Papa pulang."
Angkara mengangguk. "Papa pasti senang tau Kara udah bisa nyebut R Mama. Mama, Mama ... kira-kira Kara minta hadiah apa sama Papa? Kalau dedek nggak bisa bagi dua, padahal Kara janji hadiahnya bagi dua."
"Mama nggak perlu dapat bagian, Sayang. Semuanya buat Kara aja. Minta sama Papa sesuka Kara."
"Oke Mama. Kara sayang sama Mama." Angkara kembali memeluk Salsa sangat erat.
Bocah kecil itu melerai ketika merasakan suhu tubuh Mamanya semakin panas.
"Mama sakit?" tanya Angkara.
"Nggak sayang, Mama nggak sakit." Bohong Salsa walau suhu tubuhnya semakin naik, padahal saat Azka pergi dia baik-baik saja, itulah mengapa dia menyuruh Azka pergi.
"Tapi Mama ...."
"Udah jangan mikirin Mama, ganti baju sama Bibi, habis itu makan dan tidur siang! Mama ke kamar dulu," ujar Salsa kemudian beranjak.
Dia sudah tidak mampu jika terus berjalan. Untung saja dia menelpon Mamanya tadi agar menyuryh asisten rumah tangga Reni kerumahnya untuk membantu sementara.
"Mama beneran nggak papa? Kara telpon Papa."
"Jangan, Sayang. Papa lagi sibuk."
***
Salsa membaringkan tubuhnya di tempat tidur seperti tadi, menyelimuti tubuhnya sendiri yang sedikit dingin bercampur panas. Dia sudah minum obat, berharap demamnya akan turun saat dia terbangun.
__ADS_1
Sebelum benar-benar tidur, sayup-sayup dia merasakan tangan mungil menyentuh keningnya.
"Hiks ... sakit," gumam Angkara dengan mata berkaca-kaca.
Dia mengecup kening Mamanya yang sudah terlelap. Turun dari ranjang bertujuan untuk menemui bibi yang ada di rumah itu.
"Bibi, Mama Kara sakit. Ayo telpon Nenek, biar kesini obatin Mama Kara!" pinta anak kecil itu seraya mengusap air matanya.
Karena tak tega, Bibi yang betugas di rumah Salsa segera menelpon majikannya dan memberitahu bahwa Salsa sedang sakit dan Angkara menangis.
***
Pulang dari kampus, Azka berniat untuk pulang karena tahu kondisi Salsa sedang tidak baik-baik saja. Akhir-akhir ini dia sering mendapati Salsa mual atau muntah di kamar mandi. Ketika di tanya, Salsa akan mengatakan baik-baik saja.
Tujuan Azka untuk pulang kerumah harus tertunda karena mendapat telpon dari pihak Cafe bahwa ada seseorang yang membuat gaduh karena tidak puas dengan pelayanan Kafe.
Azka langsung menuju staf yang menelponnya tadi setelah sampai di Cafe untuk mengetahui lebih jelasnya.
"Ada masalah apa, dimana pelanggan itu?" tanya Azka.
"Dia ada di ruangan, Tuan. Dia bersihkeras ingin bertemu dengan Anda, katanya jika tidak bisa bertemu hari ini, maka dia akan menuntut Cafe karena hampir meracuninya, padahal tidak ada yang aneh dengan makananya."
Azka menggangkat tangannya menyuruh bawahannya berhenti bicara. "Saya mengerti," ujarnya, kemudian langsung menuju ruangannya.
"Azka?" Lara pura-pura kaget ketika melihat Azka, padahal memang itu tujuannya mencari masalah, agar bisa bertemu Azka secepatnya.
Menunggu terlalu lama membuat Lara takut. Takut ingatan Azka kembali dan dia tidak punya kesempatan lagi.
"Anda kenal Saya?" tanya Azka.
"Kamu beneran lupa sama Aku? Aku wanita yang ketemu kamu di kampus itu loh, aku Lara, mantan pacar kamu." Lara langsung memperkenalkan dirinya tanpa rasa malu, mulai menggungkit sesuatu yang sedikit sensitif.
Memang Azka mantan pacarnya, itu bukan kebohongan.
"Mantan pacar?" Kalimat itu langsung melekat di otak Azka.
Azka sampai melupakan tujuannya menemui wanita itu, sepertinya ingatan jauh lebih penting untuk saat ini. Sudah lama Azka ingin bertemu Lara, sejak pertemuan di kampus. Namun, Salsa selalu menghalangi.
Dia ikut duduk di hadapan Lara. Penampilan wanita di depannya sangat jauh berbeda dengan Salsa. Lara sangat seksi dan bodi yang lumayan memikat kaum adam.
"Iya, aku mantan kamu, sayangnya kita putus karena ...." Lara menjeda, memasang wajah sesedih mungkin, sudah saatnya dia memainkan trik penipuan.
__ADS_1
"Karena?" penasaran Azka.
"Kamu mutusin aku karena wanita nggak tahu diri itu. Salsa fitnah aku selingkuh bahkan dorong aku di kamar mandi karena pacaran sama kamu. Dia lakuin segala cara buat ngambil kamu dari aku Azka."
Mata Azka terbebelak, sedikit tidak percaya dengan cerita Lara, tetapi dia juga penasaran dengan kisah selanjutnya.
"Pasti selama ini dia senang kamu kembali lupa ingatan. Pasti dia manfaatin ini semua buat nutupin perselingkuhannya."
"Perselingkuhan?" Azka semakin bingung.
"Iya, dia selingkuh dengan sabahat kamu saat pacaran, dia selingkuh sama Keenan tapi saat itu kamu maafin dia. Saat menikah dia melakukannya lagi sama musuh kamu. Dia selingkuh dengan Leo. Salsa nggak benar-benar cinta sama kamu Azka, dia cuma nggak suka kita hidup bahagia." Lara menangis tersedu-sedu, mencoba mengambil simpati Azka.
Jika di lihat-lihat, Azka mulai hanyut dalam karangannya.
"Nggak mungkin, perempuan sebaik Salsa ngelakuin itu, selama ini ...."
"Itu semua cuma topeng Azka. Tau kenapa kamu bisa terluka? Itu karena kamu marah saat tau Salsa selingkuh dengan Leo. Kamu melihat dia berhubungan di kamar hotel. Karena marah, kamu memukul Leo, tetapi Leo malah menembak jantung kamu!"
"Nggak mungkin Salsa selicik itu!" Azka memegangi kepalanya yang mulai berdenyut, potongan ingatan mulai bermunculan di kepalanya, ingatan Salsa berpelukan dengan Keenan salah satunya.
"Dia mempunyai anak setelah kamu pergi, apa benar anak laki-laki itu anak kamu, atau hasil perselingkuhan?"
"Aaaakkkhhhh ... Cukup!" bentak Azka, rasa sakit di kepalanya tak tertahankan.
Bayangan demi bayangan semakin banyak menghinggapi pikirannya.
Saat peluru menembus dadanya, Salsa berpelukan dengan Keenan. Salsa memakinya mempunyai penyakit dan tak ingin hidup bersamanya.
Semua bayangan yang menyakitkan, Azka temui. Tak satupun bayangan kenangan indah bersama Salsa dia dapatkan.
Lara menyeringai. "Jika aku nggak bisa dapatin kamu, maka Salsa juga nggak," batin Lara, kemudian meninggalkan ruangan itu.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
__ADS_1