
Setelah mengerjakan semua tugas-tugasnya, Azka tak langsung membangungkan Salsa, melainkan ikut merebahkan kepalanya menghadap wanita itu.
Azka juga tak lupa menutupi tubuh Salsa dengan jaketnya karena udara sedikit dingin, mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
Sama seperti Salsa, Azka tidur dengan lengan sebagai tumpuan, menatap wajah damai Salsa yang sedang tertidur.
Tangannya terulur untuk menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pandangannya.
"Kamu hebat Sal, bisa buat aku jatuh cinta untuk kedua kalinya dalam waktu singkat," gumam Azka.
Ternyata benar, jodoh tidak akan tertukar, sejauh apapun kita pergi. Buktinya Azka dan Salsa. Banyak rintangan yang mereka alami, restu orang tua, kisah masa lalu, Kematian berujung lupa ingatan.
Tetapi itu semua tak mampu mengikis rasa cinta Azka pada Salsa. Awalnya memang dia merasa asing pada wanita itu, tetapi sering bersama kembali menumbuhkan cinta lagi.
"Cintai aku sepuas yang kamu mau Sal, buat aku betekuk lutut di hadapan mu!"
Senyum yang sempat terbit di bibir Azka langsung memudar ketika Salsa membuka mata. Gengsi laki-laki itu masih di atas rata-rata, tak ingin mengakui dengan mudah bahwa dia telah kalah. Perkataan Salsa satu bulan yang lalu terbukti.
Dia berhasil mencintai Salsa kembali.
"Indah banget pemandangannya," gumam Salsa membalas tatapan Azka.
Salsa senang, saat membuka mata, wajah yang sangat ia cintai dia dapatkan.
"Ayo, katanya mau makan siang. Aku masih ada kelas 20 menit lagi." Azka langsung beranjak.
"Iya."
Salsa ikut berdiri setelah selesai merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Dia semakin melebarkan langkahnya untuk menyamai langkah Azka.
"Istri kamu ketinggalan, Ka," ujar Salsa langsung memeluk lengan Azka.
Keduanya sedikit menjadi pusat perhatian penghuni kantin. Terutama Azka yang sedikit mencolok dari yang lain.
Sejak SMA sampai di bangku Kuliah, pesona Azka masih sama, mampu membungkam para kaum hawa.
"Mereka ngeliatin kamu sampai segitunya Ka, aku cemburu," jujur Salsa.
"Mereka punya mata ya wajar, yang salah kalau dia rebut aku dari kamu."
"Tapi nggak gitu," protes Salsa.
"Makanan kamu keburu dingin kalau ngurusin orang lain."
Karena tak ingin mendapat semprotan lagi, Salsa segera memakan makanannya, begitu pula dengan Azka.
"Kelas kamu sampai jam berapa Ka?"
"Tiga sore kalau nggak salah. Kamu?" tanya balik Azka.
"Udah selesai, makanya nemuin kamu." Salsa melirik jam tangannya. "Masih ada tiga jam, aku nunggu di kantin ini aja kalau gitu."
"Nggak udah nunggu, kamu pulang aja naik taksi, bentar lagi hujan aku nggak bawa mantel."
"Tapi ...."
__ADS_1
"Sekalian jemput Kara di rumah Mami!"
Dengan terpaksa, Salsa mengikuti perintah Azka untuk pulang lebih dulu. Padahal dia ingin memantau Azka dari ulet bulu yang mencoba menempel pada suaminya.
Sebelum kembali ke kelas, Azka terlebih dahulu mengantar Salsa ke depan kampus untuk menyetop taksi.
"Nggak udah jemput Kara, langsung pulang aja! Biar aku yang jemput nanti."
"Iya, jangan lama-lama pulangnya. Hati-hati Ka."
"Aku yang harusnya ngomong gitu. Hati-hati di jalan." Azka melirik sopir taksi. "Hati-hati pak mengemudinya!" peringatan Azka.
"Siap Den."
***
Jam tiga sore, barulah Azka pulang. Di perjalanan, dia merasa aneh seperti ada yang mengikutinya sejak keluar dari gerbang.
Tak ingin membuat masalah pada orang lain, Azka semakin menambah kecepatan motornya. Lagi pula dia tidak ingat apapun, jangan sampai teman di kira musuh dan musuh di kira teman.
Samuel sudah memperingatkannya agar tidak terlalu percaya pada orang lain selain Inti Avegas, Salsa juga orang tuanya.
Citttt
Ban motor Azka berdecit karena tiba-tiba ngerem di saat kecepan motor berada di atas rata-rata. Di depan sana dua motor berwarna hitam tengah menghadang seperti menawarkan perkelahian.
"Siapa kalian?" tanya Azka tanpa turun dari motornya.
"Yang pastinya bukan malaikat," sahut pria di balik helm full face berwarna hitam.
Seketika beberapa motor bermunculan bersiap menyerang Azka.
"Sialan!" maki Azka kembali menyalakan motornya. Melakukan atraksi di tengah-tengah kepungan hingga beberapa menyingkir karena tak ingin di tabrak.
Merasa mendapat jalan, Azka kemudian melajukan motornya meninggalkan segerombolan motor yang lumayan banyak.
Bukan tak mampu melawan, tapi dia tidak tahu permasalahan di sini.
Azka baru sampai di rumahnya menjelang magrib karena menghindari kejaran pria bermotor itu.
"Akhirnya pulang juga, aku khawatir banget. Aku telpon juga nggak di angkat, kamu dari mana Ka?" tanya Salsa khawatir.
Azka pulang malam dengan mengendarai motor menjadi trauma tersendiri untuk Salsa. Bayangan saat Azka pulang berlumuran darah masih melekat di otaknya hingga saat ini.
"Kara mana?"
"Aku nggak jemput karena sesuatu," jawab Azka.
Laki-laki itu melepas jaketnya kemudian duduk di sofa ruang tamu.
"Sal, tolong ambilin aku air dingin," gumam Azka hampir tak terdengar.
Namun, sepertinya Salsa mendengar gumaman Azka, terbukti wanita itu berjalan kearah dapur dan kembali membawa sebotol air minum.
"Aku istirahat dulu setelah itu jemput Kara," ujar Azka setelah meneguk air dingin pemberian Salsa hingga setengahnya.
__ADS_1
"Nggak usah Ka, nanti aku telpon Mami biar Kara nginap di sana, pasti Mami senang. Lagian besok dia libur karena gurunya ada rapat."
"Oh gitu."
"Aku siapin air hangat buat kamu ya, kayaknya lelah banget."
"Nggak usah Sal, aku aja."
Azka segera beranjak dari duduknya, mengambil tas juga jaketnya untuk dia bawa ke kamar.
Azka berbalik sebelum melangkah. "Kamu tau siapa aja musuh aku lima tahun yang lalu?"
Salsa terdiam, mencoba mencerna pertanyaan Azka.
"Aku taunya cuma Leo sama Rio. Tapi kamu sama Rio baikan lima tahun lalu. Dia donorin ginjalnya ke aku, dan kata mama dia juga donorin jantungnya ke kamu setelah meninggal, kalau Leo dua tahun lalu udah di hukum mati sesuai hukum."
"Oh gitu."
Jika rasa penasaran Azka sudah terjawab, lain halnya dengan Salsa yang kini penasaran dengan pertanyaan Azka.
Wanita itu mengikuti sang suami hingga ke kamar. Duduk di pinggir ranjang menunggu Azka selesai mandi.
"Kenapa?" tanya Azka. Dia sedikit heran Salsa terus memperhatikannya sejak keluar dari kamar mandi.
"Kamu ingat sesuatu, atau ketemu sesuatu di luar sana? Kenapa tiba-tiba nanya tentang musuh?"
"Nggak, cuma nanya aja. Takutnya aku ada musuh nggak aku tau dan tiba-tiba nyerang pas aku lengah."
Salsa mengangguk mengerti. "Kalau ada sesuatu cerita sama aku ya, Ka! Jangan di simpan sendiri. Istirahat aja dulu, aku mau nyiapin makan malam."
"Nggak udah Sal, aku mau keluar lagi ketemu Samuel. Mungkin pulangnya agak malam."
"Jangan!" cegah Salsa.
"Kenapa?"
"Aku takut kalau kamu keluar malam-malam. Aku trauma," lirih Salsa.
"Yaudah nggak jadi." Azka kembali duduk.
Salsa sudah menceritakan kisah tragis itu dan kenapa wanita itu sangat trauma yang namanya pergi di malam hari. Anehnya, tak satupun yang melintas di bayangannya.
Di ibaratkan memori, sepertinya semua data-data di hapus permanen hingga tidak bisa kembali lagi.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
__ADS_1