
"Mama."
Salsa langsung berbalik ketika mendengar seseorang memanggilnya. Senyuman merekah tercetak jelas di bibirnya. Kedua laki-laki yang sangat di cintainya kini berdiri di ambang pintu.
Azka dan Angkara baru saja memanggil Salsa Mama.
"Kesayangan Mama udah pada bangun ternyata, ayo sarapan dulu!"
Salsa langsung mencuci tangannya kemudian menyiapkan sarapan di atas meja makan. Mengisi piring Azka dengan nasi begitupun Angkara.
"Azka, kamu mau nemenin aku ke makam Rio setelah ini?" tanya Salsa di sela-sela aktivitas makan mereka.
"Rio? Rio yang kata kamu udah berkorban buat kita?" tanya balik Azka memastikan.
"Iya, mau kan? Sekalian Family time."
"Boleh." Azka menyetujui.
Mereka kembali makan dengan khidmat hingga Angkara tiba-tiba mengucapkan kalimat yang membuat Azka tersedak makanan.
"Kala juga mau dedek!"
Bukan hanya Azka yang terkejut, Salsa pun sama tekejutnya. "Kok tiba-tiba nak?" tanya Salsa heran.
"Kemalin Alga celita, katanya bental lagi punya dedek. Kala kapan, Mama?"
Salsa meringis seraya melirik Azka yang sepertinya tidak terganggu lagi dengan percakapannya dengan Angkara. Tak ingin pertanyaan Angkara semakin menjadi, wanita itu beranjak dari duduknya, kebetulan dia sudah selesai makan.
"Mama mau nyuci piring dulu," ujar Salsa.
"Jawab dulu Mama!" paksa Angkara.
"Jangan tanya Mama, tanya Papa tuh!" Salsa melempar semuanya pada Azka membuat laki-laki itu melongo tidak percaya.
***
Karena ulah Salsa saat di meja makan tadi, kini Angkara semakin melantur, terus meminta adik pada Azka. Bahkan saat mereka di mobil menuju pemakaman, Angkara masih saja membahasnya.
"Yaudah, kalau nanti Kala bisa sebut Ert, hadiahnya Dedek aja, tapi nggak mau bagi dua sama Mama."
"Hah?" Salsa terkejut, sungguh putranya memang ajaib jika mengiginkan sesuatu.
Mungkin karena dari kecil semua kebutuhan dan keinginannya terpenuhi. Entah dari segi jalan-jalan, mainan.
"Papa nggak bisa janji."
"Kenapa nggak bisa Papa? Katanya mau wujutin keinginan Kala yang lain, kenapa sekalang belubah?" Angkara mengerjapkan matanya lucu.
Bocah kecil itu berada di pangkuan Salsa karena tak ingin duduk sendiri.
"It-itu karena Papa nggak bisa nak!"
"Usahain dong Papa!" gumam Salsa mengalihkan atensi keluar jendela, tak kuasa menahan senyumnya karena gemas.
"Salsa, berhenti aneh-aneh!" tegur Azka.
__ADS_1
"Aku nggak aneh-aneh kok Ka."
"Papa, mau kan?"
"Iya, ntar malam Papa sama Mama buat dedek," pasrah Azka.
Mata Salsa membulat seketika, refleks dia menoleh pada Azka yang menatapnya dengan seringai menyeramkan.
"Li-liat kedapan Ka, ntar nabrak lagi," gugup Salsa. Apa lagi Azka hanya mengemudi dengan sebelah tangan, karena tangan satunya terluka.
Sebenarnya Salsa sudah menawarkan diri biar dia saja yang membawa mobil, tetapi Azka tetap keras kepala.
Lagipula, kata Azka rasanya aneh jika seorang perempuan menyetir padahal dia juga bisa.
Mereka sampai di pemakaman umum setelah menempuh perjalanan cukup jauh.
"Mama, sebenalnya kita mau kemana?" tanya Angkara mengikuti langkah kedua orang tuanya.
"Ke rumah om Rio," jawab Salsa.
"Om Rio? Siapa dia Ma? Kenapa lumahnya selam dan banyak bunga?" tanya bocah kecil itu lagi karena penasaran.
Brugh
Angkara tersungkur ke tanah karena tak memperhatikan jalan. Salah dia sendiri tidak ingin di gandeng orang tuanya.
Melihat itu, Salsa hendak membantu Angkara berdiri, tetapi Azka mencegahnya.
"Azka, Kara ...."
"Tapi aku nggak tega," lirih Salsa memperhatikan Angkara bangun sendiri dan menepuk lutut juga tangannya agar bersih dari rerumputan.
"Mama, Papa. Kala jatuh."
"Anak Papa jago bisa bangun sendiri." Azka mengacak-acak rambut Angkara ketika berada di dekatnya.
Beberapa hari ini, Azka semakin jatuh cinta pada sosok Angkara yang begitu mirip dengannya. Bukan hanya wajah, sepertinya sikap mereka juga mendekati.
Salsa merangkul lengan Azka dengan senyuman, sementara laki-laki itu mengandeng tangan Angkara agar tidak ketinggalan.
Dia ikut berjongkok ketika Salsa berjongkok di dekat sebuah makam bertuliskan, Rio. Azka tak mengeluarkan kalimat lain selain berterimaksih atas apa yang di berikan Rio untuknya.
Mungkin rasa terimakasih saja tidak cukup. Rio, telah memberikannya kehidupan.
"Makasih Rio, udah berkorban banyak buat aku sama Azka. Berkat kamu, Suami aku kembali lagi." Air mata Salsa menetes begitu saja. "Makasih juga udah donorin ginjal kamu buat aku. Aku nggak nyangka kamu setulus ini temenan sama aku."
"Kenapa Mama nangis?"
"Mama nggak papa Nak. Intinya Mama nangis bukan karena sakit jadi Kara ngqgak usah khawatir," ujar Azka.
"Tapi Kala nggak suka Mama nangis, Papa. Kala sedih kalau Mama nangis."
Cukup lama Salsa dan Azka di makam Rio, mengirimkan Do'a yang terbaik untuk laki-laki itu sebelum pergi. Dan selama itu pula, Azka tak sekalipun melepaskan genggaman tangannya.
"Masih ada waktu, mau jalan-jalan?" tawar Azka.
__ADS_1
"Yey jalan-jalan!" Seru Angkara. "Kala mau ke ...." Bocah itu menjeda kemudian melirik Salsa. "Kemana Ma?"
"Kara, maunya kemana?" tanya Salsa balik, dia merapikan rambut putranya yang sedikit berantakan.
"Kelumah om El aja gimana Ma? Kara mau liat anaknya Jack, katanya istlinya balu lahilan."
Salsa tertawa, mana ada Harimau mempunyai istri, putranya ada-ada saja. Karena tak ingin menolak ajakan Angkara, Azka dan Salsa menuju rumah Samuel, semoga lelaki itu sudah pulang dan ada di rumah.
"Om El!" teriak Angkara ketika sampai di rumah Samuel.
"Kala," sambut anak perempuan dengan rambut di kepang.
Anak perempuan itu langsung memeluk Angkara sangat erat, hingga wajah Angkara memerah karena sesak.
"Lepasin Alana!" ketus Angkara.
"Wih, pak ketua datang nih. Ayo masuk, anggap aja rumah orang."
Rayhan menyambut kedatangan Salsa dan Azka dengan gembira.
"Ray? Kok ada di sini juga?" tanya Salsa.
"Bukan cuma gue, di dalam juga ada Dito. Biasalah, anak-anak kalau hari gini pasti mau liat Jack Family."
"Benar juga, sampai lupa." Salsa tertawa lepas.
Memang mereka sering bertemu di tempat Samuel. Rayhan selalu membawa Arga kesini, begitupun dengan Dito.
Terutama, diantara yang lain, hanya Samuel yang tak berpawang, rumahnya selalu sepi tanpa penghuni. Laki-laki itu pernah berpawang, namun terpisah karena sesuatu.
Mereka langsung menuju taman belakang dimana kandang Harimau Samuel. Disana ada beberapa penjaga yang sudah berpengalaman menjaga dan merawat hewan peliharaan Samuel.
"Yang punya rumah mana?" tanya Azka.
"Di kamarnya," jawab Dito.
"Oh iya Ka, katanya lo di serang kemarin sama geng Wiltar ya?" tanya Rayhan.
Mereka berkumpul di kursi busa tempat istirahat yang punya rumah.
"Hm, gue nggak sabar pengen ingat semuanya, sepertinya ada misteri yang belum terpecahkan."
"Gue tunggu waktu itu tiba Ka. Apa perlu gue jedotin kepala lo ke tembok?" gurau Rayhan.
"Itu mah bukan nge bantu, ngunuh ketua iya," timpal Dito.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
__ADS_1