
Azka sampai di rumah dan tidak mendapati siapapun, dia sangat terkejut melihat darah dan bau amis yang sangat menyengat.
"Sialan!" maki Azka saat melihat sesuatu yang tak seharusnya ada di dalam rumah.
"Salsa, Kara!" panggil Azka, menghindari noda darah itu agar tidak mengenai sepatunya, dia berlari ke lantai dua untuk mencari istri dan putranya.
Langsung membuka pintu kamar utama tapi tak menemukamnya di sana, terakhir dia membuka pintu kamar Angkara, bisa bernafas lega melihat kedua orang tersayangnya.
"Az-azka," ucap Salsa terbata, dia sedari tadi menahan ketakutan dan tangis agar Angkara tidak ikut takut. Salsa mengigit bibir bawahnya.
"It's okey, semuanya akan baik-baik aja," bisik Azka lembut langsung menarik Salsa kedalam dekapannya, sementara Angkara diam membisu, sangat bingung dengan keadaan yang ada, bocah kecil itu hanya memperhatikan kedua orang tuanya.
"Kamu dari mana? Kenapa baru pulang hah? aku takut Ka," lirih Salsa, tangisnya pecah dalam pelukan Azka.
"Papa, Mama kenapa nangis?" tanya Angkara penasaran.
"Nggak papa Nak, Mama nangis karena sakit, tapi bentar lagi sembuh," jawab Azka.
"Mama sakit?" Angkara melangkah mendekat, menarik tangan Mamanya kemudian menciumnya. "Cepat sembuh Mama, jangan sakit! Kalau Mama sakit siapa yang bakal jagain Kara?" ucapnya. Dia beralih memeluk Mamanya dari samping.
Azka tersenyum, melerai pelukannya dan membawa Angkara dalam pangkuannya.
"Udah Sayang, nggak ada yang perlu di takutkan. Aku disini," bujuk Azka.
"Is-isi paket itu," ucap Salsa sesegukan. "Aku takut kamu ninggalin Aku kayak dulu."
"Nggak akan Sayang." Tak tega melihat Salsa terus menangis, Azka menarik kepala sang istri agar bersandar di pundak sebelah kanannya, karena Angkara duduk di paha kirinya.
Dia mengambil ponselnya kemudian menghubungi seseorang.
"Halo, Mami sibuk ya?" tanya Azka.
"Nggak sibuk-sibuk banget, kenapa Nak? Salsa sama Angkara baik-baik saja kan? Kok kayak Salsa lagi nangis? Kamu apain menantu Mami?"
"Kara sama Salsa baik-baik aja, nggak mungkin juga Azka buat Salsa nangis Mi. Ini, Azka mau minta tolong sama Mami, jemput Kara dulu, Salsa nggak enak badan soalnya."
"Gimana kamu ini! Katanya Menantu sama cucu Mami baik-baik aja, tapi kok Salsa sakit? Udah panggil dokter? Mami kesana sekarang!"
"Mi, tolong bawa asisten rumah tangga, satu buat di rumah Azka."
"Iya."
Tut
Setelah sambungan terputus, Azka meletakkan ponselnya di meja, dia melirik Angkara yang sedang memainkan ujung bajunya, putranya masih bingung dengan siatuasi yang ada, dan Salsa masih menangis dalam pelukannya.
__ADS_1
"Kara, duduk di sana dulu Ya! Papa mau nenangin Mama, pinjam hp Papa," bujuk Azka.
"Beneran boleh main hp Papa?" mata Angkara seketika berbinar, sudah lama dia ingin seperti teman-temannya, bermain dan menonton di ponsel, tapi kedua orang tuanya tidak pernah membiarkan.
Angkara bisa mendapatkan apa saja yang dia mau, selain ponsel.
"Boleh, atau sekalian Angkara tidur di kasur, jangan keluar kamar Ya! Papa kunci nggak Papa?" tanya Azka.
"Iya Papa," jawab Angkara.
Mendapat persetujuan dan meyakinkan Angkara tidak akan keluar kamar yang berakhir melihat kekacauan di lantai bawah, Azka segera mengendong Salsa ala bridal style kekamar utama tanpa mengunci kamar Angkara. Tidak mungkin Azka tega mengunci putranya seorang diri. Dia mengatakan itu semua agar Angara tidak keluar kerena mengira pintu benar-benar di kunci.
Setelah sampai di kamar, Azka membaringnya Salsa di ranjang, hendak pergi, tapi pelukan Salsa semakin erat.
"Jangan pergi Ka, aku takut mereka celakain kamu lagi, aku takut kamu ninggalin aku. Is-isi paket itu." Tangis Salsa semakin menjadi ketika mengingatkan isinya. Isi kotak yang tak tahu siapa pengirimnya, tersirat sebuat ancaman.
"Fo-foto kamu ... darah ... pisau ... ayam dan kepalanya. Aku takut Azka, aku takut Leo masih hidup dan mau celakain kamu."
"Nggak sayang, itu cuma orang iseng, percaya sama aku."
Sebenarnya Azka juga sedikit takut, bukan takut pada dirinya, tapi takut musuhnya malah mengincar Salsa dan Angkara sebagai kelemahan dirinya.
Ini saja, Wiltar mulai menghilang dari jalanan setelah tahu ingatannya kembali, anehnya kenapa bisa wiltar tahu tentang ingatannya, padahal Azka hanya memberitahu orang-orang terdekat?
Wiltar tak seperti dulu yang selalu memancing keributan di jalan, kali ini benar-benar sebuah dendam, ingin menghancurkannya lewat orang-otang terdekat.
"Udah Azka, berhenti ngurusin Avegas, aku beneran takut kehilangan kamu."
"Aku janji nggak bakal ninggalin kamu apapun yang terjadi, aku bisa jaga diri. Udah ya, tenangin diri kamu, jangan pikirkan hal-hal lain apa lagi isi paketnya," bisik Azka, sesekali mengecup daun telinga sang istri.
Azka menepuk-nepuk punggung Salsa pelan untuk menenangkan. "Tidur, biar perasaan kamu lega!"
Lama Azka dalam posisi seperti itu, hingga Salsa benar-benar tertidur dalam pelukannya. Pelan-pelan dia bergerak turun dari ranjang tanpa membangungkan sang istri.
Keluar kamar untuk kelantai bawah, tapi sebelum itu dia memeriksa Angkara di kamar sebelah.
Azka membereskan kekacauan di lantai satu, mengambil bangkai ayam berserta kepalanya, juga pisau dan foto dirinya. Dia membuang itu semua ke tempat sampah di luar pagar rumah.
Membersihkan noda darah hingga benar-benar hilang tanpa ada bekas sedikitpun. Setelah di rasa semuanya selesai, Azka sengaja jalan-jalan di halaman depan, guna mencari sesuatu yang mungkin bisa di jadikan petunjuk.
Dia mengernyit ketika di depan pagar melihat benda yang tak asing di matanya.
"Bukannya ini kalung ...." Tangan Azka terkepal, tentu saja dia mengenal siapa pemilik kalung itu, jelas, disana tertulis namanya.
Kalung tanda persahabatan di antara mereka berenam, kalung dimana terdapat logo Avegas juga nama beserta jabatan masing-masing di sana.
__ADS_1
"Sialan!"
Azka memasukkan benda itu kesaku celananya, menemui Angkara untuk menanyakan sesuatu.
"Kara, kamu tidur nak?" tanya Azka.
"Nggak Papa, hpnya mau di ambil?" tanya balik Angkara.
Azka mengangguk, mengambil ponsel yang di berikan Angkara. Dia duduk di pinggir ranjang seraya menatap putranya.
"Kata Mama yang nerima paket Kara ya? Kara kenal sama om-om itu? Salah satu teman-teman Papa bukan?" tanya Azka, ingin memastikan kecurgiaanya.
Angkara mengeleng. "Kara nggak tau Papa, om-omnya pakai topi, masker, dan kacamata jadi Kara nggak bisa ngenalin."
Azka mengangguk mengerti. "Ya udah, Kara siap-siap ya, bentar lagi Oma jemput. Untuk sementara waktu, Kara tinggal sama Oma dulu, nanti Papa sama Mama jemput."
"Nggak mau Papa, Kara mau rawat Mama."
"Mama, biar Papa yang rawat, Kara harus sekolah."
Dengan pipi mengembung, Angkara menganggukkan kepalanya walau terpaksa.
Azka beranjak, menuju lemari untuk mencari baju yang pas untuk putranya, di saat sibuk mencari baju, ponselnya berdering. Dengan sigap dia menjawab panggilan dari Keenan.
"Kenapa?"
"Salsa di teror?" tanya balik Keenan tanpa basa-basi.
Terdiam, itulah yang di lakukan Azka. Dia tidak langsung menjawab karena merasa heran dengan pertanyaan sahabatnya itu. Bagaimana tidak, Azka belum memberitahu tentang teror ini pada siapapun.
"Nggak, dapat info darimana?"
"Cuma nebak, yaudah, gue tutup Ya masih ada urusan soalnya."
"Hm."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
__ADS_1