
"Ayo Nak, waktunya tidur," bujuk Salsa merapikan semua buku juga pensil di atas meja. Dia juga kasihan jika harus melihat Azka selalu kebingungan ketika mendapati pertanyaan seperti itu dari putranya.
"Tapi Mama, Kara mau tau dedeknya masuk dimana? Kenpa ada di perut Mama?"
Salsa tersenyum, berjongkok untuk menatap wajah mengemaskan putranya.
"Sebelum lahir, dedeknya memang harus ada di perut mama dulu, nanti setelah perut Mama besar dan siap di lahirkan, baru dedeknya Kara bisa di cium dan gendong," jelas Salsa.
"Perut Mama akan besar?"
"Iya Sayang, itu pertanda dedeknya sehat, mau di elus nggak?"
Angkara mengangguk seraya menatap Azka yang berdiri di belakang Salsa.
"Ayo, kita ke kamar." Baru saja akan mengendong Angkara, tangan Salsa sudah di tepis oleh Azka.
"Kamu mau ngapain, hm? Itu anak kita kalau kengencet gimana?"
Salsa memutar bola mata jengah, kehamilannya belum pasti, tetapi Azka mulai posesif akan dirinya, bagaimana jika benar-benar hamil? Entah bagaimana hidupnya selama sembilan bulan kedepan.
"Papa, perut aku belum besar, masih bisa gendong Kara, nggak usah berlebihan," balas Salsa.
Namun, tetap saja Azka tidak membiarkan, laki-laki itu berjongkok dan mengendong putranya ke kamar, menidurkan perlahan-lahan di ranjang.
"Bobonya sama Papa," pinta Azka tetapi di jawab gelengan oleh Angkara.
__ADS_1
"Mau sama Mama, Kara pengen cium dedek."
Mendengar itu, senyum Salsa mengembang, dia mengelus lengan Azka.
"Denger sendiri Papa? Kara maunya tidur sama Mama."
"Sal, ini baru jam 8 malam, ayo kerumah sakit! Kita pastiin kandungan kamu baik-baik saja, siapa tahu di dalam sana butuh sesuatu!" bujuk Azka.
Ini bukan yang pertama Azka mengajak Salsa kerumah sakit setelah melihat dua garis merah tadi, ajakan itu sudah tidak terhitung lagi.
Azka langsung berubah cerewet dan overprotektif pada Salsa setelah mengetahuinya.
"Besok aja, udah malam. Lagian Kara mau tidur, semuanya baik-baik saja Papa. Ini bukan yang pertama untuk aku."
"Tapi pertama buat aku Sayang." Azka mend*esah pasrah, ketika melihat Salsa malah berbaring di samping putranya.
Tidak membutuhkan waktu lama jika menunggu Angkara tidur, bocah kecil itu sangat mudah terlelap asal berada dalam pelukan mamanya.
Saat Salsa akan turun dari tempat tidur, Azka berdiri dan memegangi tangan sang istri.
"Kamu ngapain Azka?" heran Salsa.
"Bantuin kamu tidur, takut kepleset atau kebentur sesuatu."
Demi apapun, Salsa ingin tertawa melihat keposesifan suaminya.
__ADS_1
"Azka, aku nggak kenapa-napa, bisa jalan sendiri, bukan orang sakit. Tubuh aku segar bugar."
"Ck, nurut aja kenapa?" decak Azka.
Hingga sampai di kamar sebelah, Azka memegangi tangan Salsa, dengan alasan, lantai bisa saja licin dan istrinya terjatuh. Jika itu terjadi, otomatis janin di kandungan istrinya dalam bahaya.
Sesampainya di kamar, Azka membimbing Salsa agar tidur di ranjang, menyelimuti hingga dada. Sementara respon yang di keluarkan Salsa hanya senyuman.
Akhirnya, dia akan merasakan bagaimana kasih sayang seorang suami saat dia mengandung, dulu dia harus bejuang sendiri, sampai harus operasi karena tak sanggup mengedang.
Melahirkan Angkara adalah hal terhancur dalam hidupnya. Menangis dan menangis karena teringat sosok Azka, membuatnya sangat lemah.
"Aku telpon dokter aja ya, buat periksa kamu." Salsa mengeleng.
"Besok saja Sayang, mending peluk aku."
"Nggak papa? Nggak ada yang sakit gitu? Perut kamu terasa nyeri? Mual? Mau makan sesuatu? Katakan Sal, aku siap lakuin apa aja buat kamu."
"Papanya Kara, aku nggak butuh apapun selain pelukan kamu."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
__ADS_1
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo