Kembalinya Suamiku

Kembalinya Suamiku
Part 53 - Kembalinya Suamiku


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, rencana Avegas untuk memancing keluarnya Riko dari persembunyian tetap berjalan lancar. Anggota Avegas tetap membantai anggota Wiltar yang mereka temui di jalan tanpa mengenal ampun, hingga tak satupun anggota Wiltar yang berani memunculkan batang hidungnya di jalan.


Tujuan Azka untuk membantai bukan untuk menghabisi geng Wiltar melainkan, mengambil jaket kebanggan mereka.


Hari ini, semua kembali berkumpul di markas, merencenakan penyerangan besar-besaran.


"Udah siap?" tanya Azka pada teman-temannya.


Motor besar kini berjejer di depan Markas, bersiap meluncur untuk menyerang markas wiltar agar semua tuntas.


"Sipa pak Ketu!" seru mereka serempak.


"Go!" teriak Keenan mengepalkan tangannya keatas.


Satu persatu motor besar itu keluar dari pekarangan rumah sederhana, membelah padatnya jalan raya.


Suara bising mulai terdengar memecah kesunyian di antara terik matari yang lumayan menyengat kulit mereka.


Melalu jalan raya hingga sampai di sebuah gang menuju markas tersembunyi Wiltar.


Azka menghentikan motornya tepat si depan bangunan lumayan tua bertingkat. Dia lebih dulu turun dari motor di ikuti yang lainnya.


"Kayaknya nggak ada deh," ucap Keenan, laki-laki itu ikut maju memandangi markas Wiltar yang terlihat sangat sunyi.


"Cari Jery sampai ketemu, gue yakin dia ada di sekitar sini!" perintah Azka.


Laki-laki itu melangkah memasuki bangunan tua yang terlihat sangat menyeramkan. Menendang pintu ruangan, hingga daun pintu itu rusak.


"Lo yakin Ray, ini markas mereka yang baru?" tanya Dito tak percaya.


"Yakinlah, markas yang mereka perlihatkan cuma sebagai alibi biar kita nggak nemuin tempat ini," sahut Rayhan.


Azka dan teman-temannya semakin dalam menjelajahi bangunan tua itu, mencari keberadaan seseorang.


"Woy berhenti lo!" teriakan Regan mengalihkan atensi yang lain.


"Gue juga bilang apa, Jery ada di dalam. Kejar goblok!" bentak Rayhan.


Beberapa anggota termasuk Azka dan Keenan membantu Regan mengejar Jery yang terus berlari, melewati beberapa lahan kosong yang di tumbuhi rumput.


Hanya dalam waktu singkat, Azka berhasil melumpuhkan Jery di tengah lahan luas. Azka benar-benar menyiksa laki-laki itu di bawah panasnya matahari.


Bugh!


"Lo pantas nerima ini semua sialan!" bentak Azka.


Bugh!


Langkah Azka mundur selangkah, ketika dadanya mendapat tendangan lumayan keras dari Jery.


Perkelahian terjadi antara keduanya tanpa ada yang menyela, anggota Avegas hanya diam menjadi penonton karena permintaan Azka sendiri.


Pukul memukul terjadi antara Azka dan Jery. Azka cukup mengakui, ilmu bela diri Jery jauh lebih baik jika di bandingkan dulu, tetapi itu tidak akan mampu melumpuhkan Azka, mungkin terluka dia akan dapatkan di bagian wajah, tapi tidak yang lainnya.

__ADS_1


Krak!


Suara tulang-tulang dari pundak Jery terdengar, ketika Azka memelintir lengan itu kebelakang dan merapatkanya kedepan.


"Suami lo akan mati di tangan gue! Lo ingat kalimat itu, hm?" bisik Azka, tak peduli dengan rintihan yang di keluarkan Jeri.


"Ayo bunuh gue sekarang sialan!"


"Lepasin gue anji*ng! Lo menang karena bawa rombongan, cuih!" pekik Jery kesakitan.


Azka tertawa menyeramkan, dia memang membawa rombongan, tapi tidak ada sejarahnya Avegas main keroyokan, mereka akan melayan sesuai jumlah lawan saja.


"Hari ini lo bakal mati di tangan gue." Azka turun dari tubuh Jery, menarik laki-laki itu agar berdiri menghadapnya. Baru saja Azka ingin memberikan tendangan, Samuel langsung melerai.


"Belum saatnya lo bunuh dia, kita masih butuh," ucap Samuel, memisahkan Azkan dan Jery.


Laki-laki yang tak kalah menyeramkanya dari Azka itu, menyeret Jery yang tak berdaya lagi. Samuel hanya menarik kerah baju Jery yang berlumuran darah kembali ke markas.


Akan sangat terhina, jika seorang ketua di sekap, di kerajaanya sendiri.


Azka senyum sinis memandangi tubuh tak berdaya Jery yang kini di ikat.


"Pertunjukan seru akan segera di mulai" ucap Azka dengan seringai jahatnya.


Mungkin orang-orang lupa dengan semboyong Avegas, karena melihat akhir-akhir ini mereka seperti orang bodoh, saling mencurigai satu sama lain.


BERANI MENGUSIK, PULANG TINGGAL NAMA!


"Gimana?" tanya Azka pada Keenan.


"Mereka masih di jalan," jawab Keenan.


Karena semua orang belum datang, anggota Avegas memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum melakukan pertunjukan.


Azka duduk di teras depan markas Wiltar, mengambil sebetang rokok di tangan Rayhan dan menyulutnya dengan api.


Dia menyesap batang rokok itu sangat dalam, kemudian menghembuskan perlahan dengan mata terpejam. Sudah lama dia tidak menikmati benda bernikotin itu lagi.


"Anjir damage nya dapat banget pak ketu, foto ah terus kirim ke ...."


"Kirim aja, dan lo bakal pulang tanpa tangan!" potong Azka.


"Etdah, buset. Padahal gue belum selesai ngomong."


Tawa di antara mereka mulai terdengar, Azka dan Rayhan jika tidak punya masalah, selalu saja bisa menghibur orang lain dengan cara masing-masing.


Hari mulai gelap, tetapi orang yang mereka tunggu belum juga datang. Azka merongoh sakunya untuk mengambil benda pipih di sana. Berjalan menjauhi teman-temannya untuk menelpon sang istri.


Tak butuh waktu lama, Salsa menjawab panggilan.


"Kenapa belum pulang? Katanya cuma sampai sore." Baru saja sambungan terhubung, Azka sudah mendapat omelan.


"Aku nggak bisa pulang cepat, mungkin jam sepuluh," ucap Azka.

__ADS_1


"Ngapain sih? Kamu dimana?"


"Di markas sama yang lain."


"Azka kamu nggak lagi ...."


"Nggak sayang, aku janji pulang jam 10 malam. Kalau ngantuk langsung tidur aja!" ucap Azka dengan suara sangat lembut, tak seperti jika bersama teman-temannya.


"Kamu kan tau Ka, aku takut kalau kamu pulang malam hari."


"Yang buat kamu takut bukan orang lain atau keadaan Sal, tapi pikiran kamu sendiri. Coba sesekali, kalau aku keluar rumah, kamu positif thingking, mikirin hal-hal baik, pasti perasaan kamu tenang."


Hening, tak ada suara lagi yang terdengar.


"Sayang?" panggil Azka.


"Iya."


"Iya apa?" tanya Azka bingung.


"Iya udah, tapi pulangnya jam 10 jangan lewat, kalau pulang beliin aku pembalut."


"Lah, kok pembalut? Aku gimana?" Azka menghembuskan nafas panjang, mendengar pembalut menbuat moodnya langsung berubah tiba-tiba.


"Papanya Kara, hati-hati, jangan sampai terluka di sana ya."


"Hm."


Azka langsung memutuskan sambungan telpon, saat berbalik dia kaget melihat Rayhan dengan cengiran khasnya.


"Ngapain lo?" tanya Azka dengan nada ketus.


"Jiah, pembalut, roman-romannya bakal puasa seminggu," ledek Rayhan.


Sangat di untungkan mereka hanya berdua saja di belakang markas. Sebenarnya Rayhan tidak ada niatan untuk menguping, dia hanya ingin memanggil Azka, bahwa orang yang mereka tunggu sudah datang.


Namun, Rayhan malah mendapat sesuatu yang mengelikan dari ketuanya. Baru saja dia melihat Azka sangat keren saat menyesap rokok, sekarang malah di jatuhkan karena tingkah bucinnya.


"Daripada lo, bakal dapat bekas musuh sendiri," sindir Azka.


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπŸ₯°πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉ


Follow untuk melihat visual


IG: Tantye005


Tiktok: Istri sahnya Eunwoo


Jangan di culik papanya Kara


__ADS_1


__ADS_2