
Salsa memandangi wajah tampan putranya. Lagi, air mata kembali membasahi pipinya, merasa sangat bersalah karena akan memisahkan ayah dan anak itu.
"Maafin Mama nak. Karena kegoisan Mama, kamu harus menanggung semuanya. Mama janji setelah hati Mama sedikit tenang, Mama bakal bawa kamu ketemu Papa."
Salsa mengelus pipi Angkara pelan, agar bocah kecil itu tidak terbangun dari tidur lelapnya.
"Mama bukannya mau misahin kalian nak. Mama cuma takut kamu benci sama Papa karena sering liat Mama nangis."
Setelah puas berbicara dengan putranya yang masih tertidur. Salsa bersiap-siap untuk ke Bandung, lagi pula rumah mamanya masih ada di sana.
***
Tari memandangi wajah pucat Azka yang kini terbaring di atas berangkar. Azka di larikan ke rumah sakit karena jatuh tak sadarkan diri di rumahnya setelah kepergian Salsa.
Sangat di untungkan penjaga cepat mengabari, hingga Azka di tangani lebih cepat. Saat itu juga, Reni langsung menuju rumah sakit tanpa memberitahukan Salsa bawah Azka masuk rumah sakit.
"Tidak ada yang serius, kamu tidak perlu khawatir," ujar Reni setelah memeriksa keadaan Azka.
"Aku tidak mengkhawatirkan Azka. Aku lagi mikirin Salsa dan Kara, apa mereka baik-baik saja?" tanya Tari.
"Dia baik-baik aja, kamu tidak perlu khawatir. Aku bakal beritahu Salsa tentang kondisi Azka."
"Jangan!" cegah Tari. "Biarkan Salsa pergi, aku setuju sama dia. Azka memang pantas mendapatkan pelajaran."
Tari sangat geram ketika mengetahui anak dan menantunya bertengkar hebat, dimana Azka menuduh Salsa selingkuh, itu sangat mengecewakan untuknya.
"Tapi Salsa harus tau kalau Azka ...."
"Jangan terlalu baik Reni! Pikirkan anak kamu juga, Azka hanya menantu, tidak perlu sepeduli itu padanya."
Reni tersenyum, bersyukur putrinya mendapat mertua sebaik Tari.
"Sepertinya kau melupakan sesuatu, Salsa hanya menantu bukan anakmu, kenapa kau sepeduli itu." Reni membalik perkataan Tari.
Kedua wanita paruh baya itu tertawa, merasa konyol sendiri membela menantu masing-masing.
Reni pamit pulang setelah memastikan kondisi Azka baik-baik saja. Lelaki itu pingsang karena tak sanggup menanggung rasa sakit di kepalanya.
***
Azka terbangun ketika sinar matahari menerpa wajahnya, dia memperhatikan sekitar dan mendapati ruangan serbah putih.
Diliriknya selang infus di tangannya. Ingatanya sudah kembali karena pertengkaran semalam bersama Salsa. Dia menyesali semuanya, dia sudah keterlaluan karena menuduh istrinya selingkuh dan meragukan Angkara sebagai putranya.
Sepeninggalan Salsa semalam, terjadi guncangan hebat di otak dan pikiran Azka. Semua banyangan masa lalu muncul di permukaan hingga dia tak sadarkan diri.
"Maafin aku lupain kamu selama ini Sal, maaf udah buat kamu menderita," sesal Azka.
Dia sudah mengingat semuanya, dan penyesalan kembali mengerogoti hatinya.
"Akhirnya lo bangun juga."
Azka menoleh ketika seseorang muncul di ambang pintu. Disana, Samuel berdiri dengan wajah datarnya.
Samuel baru saja mendapat cerita dari Tari tentang masalah Azka dan Salsa. Dia sangat geram karena Azka tidak mendengarkannya.
__ADS_1
Samuel melangkah semakin dekat, langsung melayangkan tinjunya tepat di wajah Azka tanpa memperdulikan bahwa laki-laki itu sedang sakit.
"Bodoh! Gue udah bilang jangan percaya sama siapapun, tapi lo malah terhasut sama orang!" geram Samuel dengan tangan terkepal.
Azka menunduk, kali ini dia tak melawan sama sekali, dia sadar dirinya salah.
"Mati lo sekalian Azka, nggak perlu lo hidup!"
Azka mendongak, membalas tatapan tajam Samuel. "Nanti, setelah gue bahagian anak dan istri gue," jawab Azka.
"Anak? Bukannya Angkara putra gue?" Keenan langsung menyahuti perkataan Azka.
Inti Avegas bukan bermaksud ikut campur urusan rumah tangga ketuanya, tapi sepertinya mereka harus andil untuk menyadarkan Azka.
Mereka mengira Azka masih hilang ingatan, padahal laki-laki itu sudah mengingat semuanya setelah pertengkaran hebat terjadi.
"Bacot kali!" bentak Azka. Dia melepas jarum infus di tangannya, kemudian meninggalkan brangkar begitu saja.
"Mau kemana lo?"
"Nyari istri sama anak gue!" jawab Azka menghilang di balik pintu.
Keenan dan Samuel saling melirik.
"Mungkinkah?" tanya Keenan.
"Baguslah!" sahut Samuel, ikut melangkah meninggalkan ruang rawat Azka.
Samuel baru saja pulang dan sudah di sambut berita bertengkarnya Azka dan istrinya. Dia bersikap seperti ini karena tidak ingin Azka mengalami apa yang sedang dia alami.
Penyesal, selalu datang belakangan, dan itulah yang Samuel rasakan.
***
"Kita mau kemana lagi, Mama?" tanya Angkara bingung.
"Ke tempat yang bisa buat Mama sama Kara tersenyum," jawab Azka.
"Papa gimana Ma, apa papa juga ikut?"
"Nggak, kita pergi berdua aja, papa lagi sibuk ...." Kalimat Salsa harus terpotong karena teriakan seseorang yang sangat di kenalanya.
"Salsa!" teriak Azka.
Laki-laki itu bernafas lega ketika mendapati istri dan putranya masih ada di rumah. Namun, kelegaanya tak bertahan lama melihat koper di tangan Salsa.
Dia mendekat dan langsung memeluk Salsa sangat erat. "Maaf, udah nyakitin kamu selama ini. Maaf, baru bisa ingat kamu sekarang," sesal Azka.
Salsa mendorong tubuh Azka sangat kuat agar melepasnya. Tak ada rasa bahagia di hati Salsa mendengar Azka sudah mengingatnya.
"Udah terlambat, semuanya udah kacau karena kamu," ucap Salsa.
Azka berlutut di depan Salsa. "Maafin aku sayang, udah nyakitin hati kamu. Kita mulai dari awal ya."
"Berdiri Azka, jangan buat Angkara berpikiran nggak-nggak tentang kita!" Salsa menjauhkan kakinya dari tangan Azka.
__ADS_1
"Nggak seharusnya kamu bersujud seperti itu. Kau boleh pergi!"
"Salsa."
"Kenapa baru sakarang!" betak Salsa. "Setelah kamu buat hati aku hancur berkeping-keping, kamu datang lagi dan mengatakan mengingat semuanya. Ucapan maaf aja rasanya nggak cukup Ka buat ganti rasa sakit aku."
"Kau menuduhku ...." Suara Salsa tercekat, dia hampir lupa di sampingnya ada Angkara yang terdiam memperhatikan.
"Berdirilah!"
"Nggak!"
"Ada Kara, jangan bersikap seperti itu."
"Maafin aku." mohon Azka. Setetes bulir bening berhasil menetes di manik Azka.
"Kamu cuma mau maaf? Aku maafin, jadi pergi sekarang! Kamu nggak perlu lagi menemuiku!"
Salsa tersentak ketika Angkara meraih tangannya, begitupun dengan Azka.
"Jangan musuhan lagi Mama, Papa," ucap Angkara. Menyatukan tangan Mama dan Papanya.
Bocah kecil itu mengira Mama dan Papanya sedang musuhan seperti yang dia dapati saat di sekolah bersama teman-temannya.
"Kara sedih," lirihnya.
Tangis Salsa pecah, bersujud untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Angkara. Memeluk putranya sangat erat.
"Maafian mama, Sayang," gumam Salsa.
"Maafin papa, nak." Azka ikut memeluk Angkara.
""Sekarang Mama sama Papa temenan lagi?"
Salsa dan Azka saling pandang, dan mengangguk serempak. Walau Salsa masih kecewa dan marah, dia rela menurunkan egonya demi kebahagian Angkara.
Angkara menatap Azka. "Papa, Kara udah bisa nyebut R."
"Selama nak, papa bangga sama kamu." Azka mengecup kening Angkara sangat lama.
Menyesal karena selama ini meragukan darah dagingnya sendiri.
"Kara minta hadiahnya sekarang boleh?"
"Boleh, Kara mau apa, nak?" tanya Azka.
"Kara mau, papa janji nggak bakal buat mama nangis."
Air mata Azka semakin menjadi mendengar permintaan putranya.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
__ADS_1
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo