
"Kara, dengerin Mama Ya! Kara, nggak boleh keluar dari kamar sebelum Mama yang nyuruh ya, nanti Mama balik lagi," pesan Salsa sebelum meninggalkan putranya.
Dia tidak ingin Angkara melihatnya bertengkar dengan Azka.
"Kenapa Mama?" tanya Angkara.
"Pokoknya nggak boleh ya!"
Dengan berat hati, Angkara menganggukan kepalanya.
Salsa menuju kamar setelah memastikan Angkara mematuhi perintahnya, setelah sampai di kamar, dia mendapati Azka duduk di sofa dengan mata terpejam.
Kali ini, emosi Salsa sedikit tersulut, kalimat Azka saat di meja makan sudah terlewat batas untuknya. Sekarang, Azkanya memang sudah berubah.
"Maksud kamu apa tadi Ka?" tanya Salsa.
Azka membuka matanya, melirik Salsa sekilas tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Aku mau melakukan tes DNA," ucap Azka.
"Tes DNA? Buat apa? Kamu raguin Angkara anak kamu? Atas dasar apa?" Kekecewaan Salsa semakin dalam.
Matanya memanas, siap menumpahkan bulir-bulir bening.
"Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk setia, apa lagi status aku udah mati. Mungkin saja kan, dia anak dari ...."
Plak
Tangan Salsa bergetar setelah melayangkan tamparan di pipi Azka, bulir-bulir bening yang sedari tadi di tahannya akhirnya tumpah.
"Kau menuduhku selingkuh? Kamu tau sesulit apa aku menjalani hidup setelah kepergianmu?"
"Aku nggak nuduh kamu, aku hanya ...."
"Cukup Azka! Dengan kamu mau melakukan tes DNA, itu sudah mewakili semuanya. Kau meragukan Angkara putramu, kau menuduhku selingkun!"
"Baiklah, aku bersedia melakulan tes DNA, tapi sebelum itu kau harus berjanji satu hal." Salsa menjeda, untuk menarik nafas dalam-dalam demi menetralisir rasa sakit di hatinya. "Positif atau nggak hasilnya nanti, kau bersedia meninggalkan aku dengan putraku!" ucap Salsa tegas.
Azka membeku, bukan ini yang dia ingingkan, dia hanya ingin mencari pembenaran.
Salsa semakin maju, menarik leher baju Azka. "Untuk pertama kalinya aku menyesal mempertahankan hubungan kita. Disini, hanya aku yang berjuang Azka, kamu nggak pernah. Hanya aku yang merasakan sakit karena semu pelakuanmu itu!"
"Dulu aku mungkin mengatakan, bahwa ingatan nggak penting buat aku selama kamu ada di sampingku. Namun, aku tarik semua itu Azka, aku lebih baik kehilangan kamu daripada harus menderita!"
__ADS_1
"Aku mungkin masih terima kalau kamu nyakitin aku, tapi nggak dengan anak aku Azka." Salsa menghapus air matanya kasar. "Aku mungkin sudah terbiasa tanpamu, tapi nggak buat Angkara."
"Salsa aku ...."
"Mungkin kenangan manis nggak bisa balikin ingatan kamu, maka dengarkan ini baik-baik. Mengenal dirimu sejak kelas 2 SMA banyak mengajarkanku luka Azka. Selama kenal sama kamu, aku terus merasakan penderitaan, tapi aku bertahan karena cinta!"
"Aku menerima semua kekurangan kamu, sakit mental kamu! Sikap kasar juga egoismu, aku menerima semuanya! Bahkan aku maafin kamu setelah menyebabkan ayahku meninggal dunia!" teriak Salsa histeris.
"Karenamu, aku di hina habis-habisan oleh ayahmu Azka. Aku di anggap wanita murahan yang hanya mengingingkan harta semata."
Salsa terduduk di lantai, menepuk dadanya yang terasa sesak. Dia memejamkan matanya. "Pergi!" usir Salsa.
"Nggak, aku cuma mau tes DNA, bukan ninggalin kamu."
"Baiklah." Salsa berdiri, berjalan menuju lemari.
Mengeluarkan koper lumayan besar dan mengisinya benda-benda yang mungkin di perlukan.
"Hiduplah sesuai keinginan kamu Azka, aku menyerah mempertahankan hubungan ini."
"Jangan pergi!" cegah Azka.
Salsa menepis kasar tangan Azka, menarik kopernya keluar dari kamar menuju kamar putranya.
"Ayo nak, kita kerumah Nenek. Ini bukan rumah kita lagi, pemiliknya udah pulang." Salsa memasang jaket tebal di tubuh Angkara, tak lupa mengambil pakaian putranya.
"Tapi kenapa Mama? Mama sama Papa bertengkar? Kata ibu guru, nggak boleh tertengkar apa lagi musuhan, dosa Mama."
Salsa mengeleng, tak kuasa menatap mata putranya. "Mama lelah nak," lirih Salsa sesegukan. "Kamu mau kan ikut Mama?"
Angkara bergeming, hingga tak lama kemudian, dia bangkit dari duduknya. "Mama jangan nangis, Kara juga nangis kalau Mama nangis." Angkara memeluk Mamanya erat. "Kara bakal ikut mama kemanapun, Kara sayang sama Mama."
"Nggak ada yang boleh pergi dari rumah ini, aku cuma mau melakukan tes DNA, bukan berpisah."
Azka bersujud di depan Angkara. "Jangan biarkan Mama pergi nak, maafin Papa!"
"Papa jahat, buat Mama nangis! Papa juga jahat kasar sama Kara. Papa buat Mama nangis padahal Mama lagi sakit."
"Salsa aku mohon jangan pergi!" cegah Azka, namun Salsa tetap pada pendiriannya, meninggalkan Azka seorang diri di rumah yang penuh akan kenangan mereka berdua.
"Aaaarrrrgggg!" erang Azka memegangi kepalanya, dia bersujud kelantai, demi menetralisir rasa sakit di kepalanya.
Rasa sakit ini melebihi rasa sakit saat di Kafe. Bayangan dia menyiksa Salsa bermunculan satu persatu.
__ADS_1
***
Reni kaget melihat kedatangan cucu juga anaknya malam-malam seperti ini, apa lagi mata Salsa sebab seperti habis menangis.
"Nak, kamu kenapa?"
Salsa tak menjawab, langsung memeluk Mamanya sangat erat, tangis wanita itu semakin pecah dalam pelukan hangat mamanya. Reni yang mengerti rasa sedih yang di rasakan putrinya, memanggil asisten rumah tangga, agar membawa Angkara ke kamar lebih dulu.
Cucunya masih kecil untuk mengenal sesuatu yang tek seharusnya.
"Tenangkan diri kamu Sal!" ujar Reni.
"Mama, Salsa salah apa? Kenapa Salsa nggak pernah bahagia?"
"Kamu bertengkar sama Azka?"
"Dia nuduh aku selingkuh dan ngira Kara bukan anaknya. Apa kesetian aku selama ini sia-sia? Aku bahkan menutup hati cuma untuknya Ma. Aku menolak semua laki-laki yang ingin menjadi ayah sambung Kara karena menghargainya walau aku tau dia udah nggak ada. Tapi kenapa Azka tega nuduh aku?"
"Azka lupa ingatan nak." Reni mengingatkan.
"Sampai kapan? Sampai kapan aku harus membenarkan semua tindakannya dengan alasan lupa ingatan? Aku juga punya hati Ma, hati aku sakit. Aku nggak sanggup lagi."
Reni ikut menangis, dia seperti merasakan rasa sakit yang di derita putrinya. "Maafin Mama, ini semua salah Mama. Mama gagal jadi dokter yang baik buat suami kamu," sesal Reni.
Salsa mengeleng. "Ini bukan salah Mama." Wanita itu melerai pelukannya. "Aku mau ke bandung sama Kara, aku mau nenangin diri di sana Ma. Lakukan tes DNA seperti yang di inginkan Azka! Setelah hasilnya keluar, berikan padanya dan katakan, dia nggak perlu nyari aku."
"Sayang, tenangkan diri kamu dulu! Jangan membuat keputusan dalam keadaan emosi, Mama tau kamu nggak mungkin serius ninggalin Azka. Badan kamu panas lagi, istirahat dulu ya Nak!"
Salsa memgangguk, menuruti keinginan mamanya untuk istirahat. Namun, untuk pergi dari kehidupan Azka, dia akan melakukannya.
Percuma bertahan dalam sebuah hubungan yang hanya dia yang berjuang. Hubungan terjalin karena dua orang, dan hubungan akan hancur jika cuma salah satu yang berjuang.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
__ADS_1