
Sepeninggalan Azka, Salsa melerai pelukan Angkara, menatap anak semata wayangnya dengan senyuman.
"Kala, nggak boleh benci sama Papa sayang. Papa baru balik karena dulu sakit dan di rawat sama Opa, bukan sengaja ninggalin kita."
"Tapi Kala nggak suka kalau Papa lalang Kala manggil Ayah Keen sama Ayah Layhan."
"Papa larang Kara karena Papa sayang sama Kara. Papa nggak mau putra tampannya ini di ambil sama orang lain, Papa maunya Kara cuma manggil Ayah atau semacamnya ke Papa aja."
Angaka mengembungkan pipinya. "Jadi Kala salah?" tanyanya.
"Bukan salah sayang, tapi sikapnya kurang tepat. Minta maaf sama Papa mau kan?" pinta Salsa.
Bagi Salsa mendidik anak tidak perlu dengan membentak apa lagi kekerasan. Cukup memberitahu bawah itu salah dan membiasakan anak-anak agar meminta maaf lebih dulu.
Karena bersikap selalu benar adalah karakter iblish. Sebagian anak-anak akan lebih patuh jika di nasehati dengan kelembutan di banding dengan kekerasan.
Jika seorang anak sudah merasakan betapa sakit pukulan orang tua, maka anak itu tidak akan takut lagi merasakannya. Itulah yang ada di pikiran Salsa. Biarkan ia mendidik anaknya dengan caranya sendiri.
"Maaf Mama," sesal Angkara.
"Minta maafnya bukan sama Mama sayang, tapi sama Papa. Mau Mama temenin?"
Angkara memganggukan kepalanya.
Anak dan ibu itu segera keluar kamar untuk mencari keberadaan Azka.
"Itu Papa lagi tiduran di sofa depan Tv, ayo nak!"
Angkara segera berlari menghampiri Azka yang tengah menutup mata dengan lengannya.
"Papa?" Panggil Angkara menundukkan kepalanya seraya meremas ujung kaki bajunya.
__ADS_1
"Maafin Kala udah ngomong gitu sama Papa. Kala udah kelewan, janji nggak bakal buat Papa sedih lagi."
Azka bergeming tak menyahut sedikitpun membuat Salsa semakin mendekatik sofa takut Azka benar-benar marah pada Angkara.
"Azka, Angkara nggak bermaksud ...."
Hap
Azka langsung berdiri dan mengendong Angkara dengan sebelah tangannya. "Papa maafin, kita baikan sekarang?" Angkara menganggukan kepalanya.
"Kita baikan Papa," jawab Angkara langsung melingkarkan tangannya di leher Azka. "Ayo ke kamal lagi, Kala ngantuk!" ajaknya.
"Dua panggeran aku akhirnya baikan," gumam Salsa mengikuti langkah Azka menuju kamar.
Karena asik sendiri dengan pikirannya, Salsa tak sadar Azka berhenti melangkah hingga ia membentur tubuh kekar sang suami.
"Auwww." Salsa mengelus hidung dan keningnya.
"Kata Kara, Mamanya harus di gandeng biar nggak lelet," ucap Azka dengan wajah datarnya.
Sesampainya di kamar, ketiganya berbaring seperti posisi semula, kali ini Angkara tidur menghadap Azka bahkan memeluknya.
"Akhilnya keinginan Kala udah terwujud satu," ucap anak kecil itu tiba-tiba.
"Emang keinginan Kara apa?" tanya Salsa.
"Bisa tidul baleng Papa kayak teman-teman yang lain. Besok Kala juga bisa celita sama teman-teman, kalau Kala juga bisa tidul sama Papa."
Nyes, hati Azka terasa teriris melihat senyuman bahagia Angkara. Ternyata banyak kisah pedih Salsa dan Angkara yang tidak ia tahu.
"Katanya Angkara mau cool kayak om El kan?" Azka mengalihkan topik.
__ADS_1
"Mau Papa."
"Om El bisa nyebut R loh, nggak kayak Kara."
"Siapa bilang Kala nggak bisa nyebut Erttss."
"Tuhkan nggak bisa," ledek Azka.
"Bisa," tegas Angkara tidak ingin kalah.
"Coba sebut nama sendiri, Kara!"
"Kattssa. Ish Kala bisa nyebut Errts, tapi libet."
"Kalau dalam waktu satu bulan, Kara bisa nyebut R, Papa bakal menuhin keinginan Kara yang lain," janji Azka.
"Benal?"
"Hm."
Bocah kecil itu lansung merubah posisi tidurnya menghadap Salsa.
"Mama bantuin Kala ya, nanti hadianya bagi dua!"
"Pasti sayang."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
__ADS_1