
Setelah pulang dari kampus, Azka mampir sebentar kerumah orang tuanya untuk mengambil undangan, setelahnya dia menuju markas.
Dia sangat heran melihat markas begitu ramai, karena penasaran dia langsung bertanya pada Rayhan yang kebetulan ada di sana.
"Ada apa ini?" tanya Azka tanpa duduk terlebih dahulu.
Rayhan yang di tanya segera berhenti bicara dengan yang lain.
"Regan semalam di gebukin sama Wiltar, sekarang koma di rumah sakit," jawab Rayhan.
Avegas merasa kecolongan tentang hal ini. Ternyata Wiltar semakin bermain licik, mengincar anggota Avegas yang tengah jalan sendiri, menghabisi satu persatu.
Regan yang notabenenya ketua geng motor saja bisa di lumpuhkan, apa lagi anggota lainnya. Terlebih, Wiltar selalu menggunakan senjata.
"Sialan!" Azka mengepalkan tangannya, baru seperti ini dia sudah tersulut emosi, bagaimana nanti, jika Wiltar semakin merajalela?
"Kenapa nggak ada yang ngabarin gue semalam? Regan di rawat di rumah sakit mana?" tanya Azka.
"Rumah sakit tempat Mama gue kerja."
"Berikan penangan terbaik, gue yang bakal bayar semuanya. Ini masalah gue, maka semuanya tanggung jawab gue sekarang."
Azka langsung melepas tas di punggungnya dan meletakkan di sofa.
"Kumpulkan Anggota, gue mau ngasih pengumuman!" perintah Azka.
Rayhan dan yang lainnya langsung mengintrupsi agar semua Anggota berkumpul seperti biasa. Inti Avegas tidak bisa datang keseluruhan karena kesibukan masing-masing.
Samuel ada jawdal penerbangan, Keenan katanya tidak bisa datang di karenakan bersama tunangannya, sementara Dito harus menemani putrinya yang sedang demam.
Setelah semua berkumpul, barulah Azka berjalan kedepan di ikuti Rayhan dan Ricky, keduanya berdiri paling depan menghadap Azka.
Kali ini, aura Azka sangat kuat di antara yang lainnya. Mungkin beberapa hari ini, dia sedikit menye-menye dan tidak memperhatikan Avegas, tapi sekarang tidak lagi, dia akan mengambil alih sampai dendam masa lalu selesai secara tuntas, tidak masalah jika harus pertumpahan darah dan mengambil nyawa sekalipun.
Karena, jika di biarkan terus menerus akan semakin banyak korban, lebih parahnya lagi. Beberapa korban tidak bersalah.
"Gue Azka, ketua Avegas angkatan satu. Gue baru dengar kabar bahwa Regan baru saja di serang semalam hingga koma sampai hari ini."
Azka menatap satu persatu anggotanya, berusaha mengenalinya, agar tahu jika saja ada penyusup atau penghianat di antara mereka, seperti apa yang terjadi 5 tahun yang lalu.
"Gue bakal ngambil kepemimpinan kembali, sebagai ketua Avegas yang akan bertanggung jawab sepenuhnya. Apa yang harus kalian lakukan selanjutnya harus sepengetahuan gue atau inti Avegas lainnya!" Tegas Azka.
"Untuk saat ini, jangan ada yang bepergian sendiri, kalau bisa paling sedikit tiga!"
"Siap!" seru mereka serempak.
Salah satu di antara mereka langsung mengangkat tangan.
"Kapan kita akan menyerang balik? Kami nggak terima kalau menerima kekalahan begitu saja."
Azka tertawa, tapi bukan tawa yang bisa membuat orang ikut tertawa, tawanya sangat menyeramkan.
"Menyerang? Kita akan melakukan itu, tapi nggak sekarang. Ngegabah bukanlah tipe Avegas," jawab Azka.
__ADS_1
"Lalu kapan? Menunggu kita jadi korban satu persatu?"
Tangan Azka terkepal, dia paling tidak suka jika ada anggota yang tidak mendengarkan perintahnya.
"Kalau lo takut akan menjadi korban selanjutnya dan nggak bisa menuruti aturan, pintu terbuka lebar, gue nggak butuh anggota kayak lo!"
Laki-laki itu langsung terdiam, sepertinya dia salah menentang, Azka tidak seperti Regan. Ternyata ketua Avegas yang sebenarnya sangatlah keras.
"Ada lagi?" tanya Azka.
"Jelas!"
"Ok, cuma itu yang mau gue sampaikan, selama perdamaian!"
Setelah semua barisan bubar, Azka kembali ke sofa di mana tasnya berada. Duduk bersama Ricky dan Rayhan.
"Belum ada petunjuk tentang Wiltar?" tanya Azka.
"Belum Ka, kayaknya ada yang bocorin rencana kita deh. Secara tiba-tiba mereka menghilang, dan baru semalam muncul, itupun langsung menyerang," jawab Ricky.
"Penghianat maksud lo?"
"Ay-ayolah, mana ada penghianat di antara kita," sahut Rayhan.
"Gue nggak ada ngomong di antara kita, kenapa lo nyimpulin itu?" Alis Azka salin bertaut, merasa aneh dengan jawaban Rayhan.
Dia tidak menuduh siapapun, tapi Rayhan seakan mengambil diri.
"Ya kali kan?"
"Gue hampir lupa." Azka mengeluarkan undangan di dalam tasnya, dan memberikan pada Rayhan dan Ricky.
"Harus datang, gue nggak mau tau!"
"Dih, maksa kali epibadeh. Kali ini hadiahnya apa ya Ky?" seloroh Rayhan.
Rayhan dan Ricky saling pandang, detik selanjutnya mereka tertawa terpingkal-pingkal. Teringat akan hadiah konyol yang mereka berikan pada Azka saat hari akad.
"Gue yakin, kado gue yang buat Kara ada di dunia ini," ucap Rayhan masih dengan tawa membahananya.
"Kodo gue lah, lingerie tanpa ada tata cara penggunaanya nggak bakal ada manfaatnya." Ricky tak mau kalah, kadonya lebih bermanfaat dari apapun.
"Sesat njir!"
Bugh
Azka melempar dua R dengan bantal sofa. Dia sebenarnya juga ingin tertawa jika mengingat hal-hal konyol di masa sekolah dulu. Namun, segera di urungkan, senyum dan tawanya hanya untuk Salsa.
"Eh, kado Dito apa labar bro? Masih ada nggak?"
"Pastilah, nggak mungkin kan ketua bucin kita pakai itu."
Hanya bertiga di sofa, tetapi kehebohan mereka mengalahkan pesta satu kampung.
__ADS_1
Azka melirik ponselnya ketika ada pesan masuk dari sang istri tercinta.
Salsa: Azka, kalau pulang jangan lupa jemput Kara di rumah Mama ya! Oh iya, sekalian aku mau izin pulang telat, ada kerja kelompok sama teman-teman.
Azka: Di Mana?
Salsa: Kafe dekat kampus, aku banyak kok Ka. Ada Riko, Leli dan 4 orang lainnya.
Azka hanya mengread chat Salsa tanpa berniat membalasnya lagi. Dia memasukkan benda pipihnya ke saku jaket.
"Gue balik duluan ya, harus jemput Kara," pamit Azka.
"Yoi pak ketua. Oh iya, ini beneran di Villa resepsinya?" tanya Rayhan.
"Hm."
"Daebak!"
Bukan hanya mengundang inti Avegas, tetapi Azka mengundang seluruh anggotanya tanpa terkeculi dengan undangan sebagai bentuk menghargai sesama.
Dia melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata menuju rumah mertunya untuk menjemput Angkara.
Selalu seperti itu, jika keduanya sibuk Angkara akan di titipkan di rumah Mama Reni karena lebih dekat dari sekolah, terlebih pembantu di rumah itu sudah di kenal Salsa sejak lama.
"Mama," sapa Azka langsung mencium punggung tangan mertuanya.
Sangat kebetulan, hari ini Reni tidak ada jadwal di rumah sakit, jadi bisa bermain dengan cucu tercinta.
"Papa jemput Kara?" seru Kara terus berlari dan langsung memeluk kaki Azka.
"Hm, mau pulang sekarang?" tanya Azka di jawab anggukan oleh Angkara.
"Pamit sama Nenek kalau gitu nak!"
Sesuai perintah Azka, Angkara berpamitan pada neneknya. Bocah kecil itu mencium kedua pipi Reni, kemudian mengecup punggung tangannya.
"Dadah Nenek, nanti Kara balik lagi." Angkara melambaikan tangan sebelum Azka melajukan motornya.
"Hati-hati."
"Iya Ma," balas Azka.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiah๐ฅฐ๐๐๐๐๐๐๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
Jangan lupa datang yau๐คญ, bawa benda unik masing-masing. Eh kresek besar juga, sultan kita nih yang pesta pasti banyak makanan.
__ADS_1