
Gerimis di pagi hari, membuat semua orang sangat malas untuk beraktivitas dan lebih memilih melanjutkan tidurnya.
Sama seperti yang di lakukan Azka saat ini. Laki-laki itu sudah terbangun setengah jam yang lalu, tetapi urung untuk turun dari ranjang karena udara lumayan dingin.
Dia lebih memilih, memeluk wanita cantik yang berstatus sebagai istrinya. Azka menyetel dinginnya Ac, agar Salsa tidak ikut kedinginan sepertinya.
Dia mengecup seluruh wajah wanita itu tanpa menyisakan satu incipun.
"Kalau tidur gini, udah kayak bayi," gumam Azka gemes sendiri, mengigit pipi Salsa.
Laki-laki itu memang tidak suka jika ada sesuatu yang menganggu tidur nyeyak wanitanya, tetapi dia sendiri tidak sadar bahwa apa yang di lakukan sudah mengusik ketenangan Salsa.
"Jangan di gigit Azka," gumam Salsa, semakin mengeratkan pelukannya karena dingin.
Tubuhnya terasa sangat hangat kerena menyentuh kulit Azka di balik selimut tebal.
"Hari ini ada rencana mau kemana, hm?"
Salsa mengeleng, masih dengan mata terpejam. "Ngapain sih Ka, pakai ngambil cuti satu semester? Kita baru masuk kuliah, di rumah juga nggak ngapa-ngapain," protes Salsa.
"Pengen aja, biar bisa berdua terus di rumah."
"Dih, berduaan, tapi pas aku tidur sering ngilang ke markas. Seru-seruan sama teman-temannya, aku sendiri kek orang gila di rumah, nggak tau mau kerja apa."
Azka tersenyum, kembali mengigit pipi Salsa. "Ya udah, hari ini kita jalan-jalan, ajak Kara deh."
"Kemana?" Salsa merubah posisinya agar duduk, tapi masih memeluk sang suami.
"Kemana aja yang buat kamu sama anak kita senang."
"Mama, papa!"
Atensi Salsa dan Azka teralihkan pada pintu kamar yang tak pernah mereka kunci. Senyum Salsa mengembang melihat buah hatinya sudah rapi dengan seragam sekolah.
"Kara, sama siapa Nak?" tanya Salsa hendak turun, tapi pingganya di tahan oleh Azka, alhasil dia tidak bisa bergerak.
"Sama Oma, tapi udah pergi. Katanya Kara berangkat sama Papa dulu," jawab Angkara.
Bocah kecil itu melangkah mendekati kedua orang tuanya di ranjang. Tanpa mengeluarkan sepatunya, dia merangkak naik ke tempat tidur.
Berjalan dengan bantuan Azka.
"Uuuugggghhhh." Azka melenguh, ketika kaki kecil Angkara menginjak tongkat bisbolnya.
"Kenapa Papa?" tanya Angkara dengan polosnya.
"Nggak papa Nak." Azka menarik Angkara agar duduk di pangkuannya. Sementara Salsa masih bersandar di pundaknya.
"Hari ini anak Mama masuk jam 10 kan? Nanti Mama sama Papa anter Kara," ucap Salsa.
__ADS_1
"Yey," sorak Angkara kegirangan.
"Bro, Oma mau kemana? Kok buru-buru sampai nggak nelpon papa?" tanya Azka.
"Katanya ada urusan Papa, Kara nggak tau."
"Peluk Mama dulu Sayang, setelah itu Mama masakin sesuatu yang enak buat Kara." Salsa merentangkan tangannya, menunggu Angkara memeluk dirinya.
Dengan senang hati bocah kecil itu memeluk Salsa sangat erat, tak lupa mencium pipi Mamanya seperti yang sering dia lihat.
"Kara, mau tinggal sama Mama. Kara nggak mau pisah lagi," rengek bocah kecil itu dalam pelukan Mamanya.
Azka yang mendengarnya segera mengendong putranya. "Hari ini dan seterusnya, Kara bakal tinggal sama Mama dan Papa. Oke Bro? Jadi jangan sedih! Anak laki-laki nggak boleh sedih apa lagi nangis."
Angkara hanya mengangguk dalam gendongan Azka. Semantara Salsa langsung masuk ke kamar mandi setelah anak dan suaminya menghilang di balik pintu kamar.
Wanita cantik itu hanya menyikat gigi juga cuci muka lalu menyusul Azka.
"Dua panggeran Mama mau makan apa nih?" tanya Salsa setelah berada di dapur.
"Makan Mama."
"Es Krim!"
Ujar Angkara dan Azka berbarengan. Sontak tatapan Salsa memicing pada sang suami. Kalimat laki-laki itu sangat ambingu di telinganya.
"Papa mau makan Mama?" tanya Angkara.
***
Mendengar Mamanya sedang ada di rumah, Salsa memutuskan untuk datang bertamu. Lagi pula, akhir-akhir ini dia jarang bertemu Mamanya karena banyak Hal. Entah Reni yang sibuk dengan pekerjaanya, atau Salsa yang tidak bisa datang karena Azka tidak mengizinkan keluar rumah seorang diri.
"Mama, Kara udah tampan? Gigi Kara udah bersih?" Angkara mencecar Salsa berbagai pertanyaan tentang penampilan dirinya.
Selalu saja Angkara bersikap seperti itu jika akan bertandang kerumah Neneknya. Bocah kecil itu paling tidak suka di tegur jorok oleh ibu dokter hanya karena ada gigi yang berlubang.
Alhasil, Angkara selalu ingin tampil rapi dan sempurna jika bertemu sang nenek.
"Anak mama udah tampan banget, gigi juga udah putih, tapi ..." Salsa menjeda dengan senyuman di wajahnya, dan itu berhasil membuat Angkara murung.
"Gigi ada lubangnya, siapa suruh makan es krim mulu." Salsa menyentil hidung Angkara.
Pundak bocah kecil itu merosot ke bawah. "Yah, Nenek bakal bilangin Kara jelek dong." cemberutnya.
"Kara nggak jelek, anak Mama tampan pakai banget, kayak Papanya," puji Salsa.
Angkara mengeleng. "Kara lebih ganteng dari Papa!"
"Iya, Kara yang paling ganteng di sini."
__ADS_1
Atensi Salsa beralih pada sang suami yang sudah rapi dengan pakaiannya.
"Mama, gimana? Papa udah tampan 'kan?" tanya Azka menyugar rambutnya kebelakang.
"Papa jelek," ejek Angkara.
***
Salsa sampai di bandung setelah hari mulai gelap. Wanita cantik itu mengetuk pintu beberapa kali, tapi tak ada sahutan dari dalam.
Karena udara lumayan dingin dan Angkara tertidur dalam gendongan Azka. Salsa langsung saja membuka pintu rumah, dan mendapatinya sangat gelap.
"Ka, kamu duduk di ruang tamu dulu, biar aku nyalain lampu," ucap Salsa berjalan menuju dapur, dimana semua saklar yang ada di lantai bawah berada.
Sejak beberapa bulan yang lalu, Reni pindah ke Bandung, dengan alasan ingin tinggal di rumah peninggalan suaminya, dan Salsa tidak keberatan sama sekali, walau sedih karena jarak antara mereka cukup jauh.
Setelah menyalakan semua lampu, barulah Salsa menghampiri suami dan putranya di ruang tamu.
"Kayaknya Mama nggak ada di rumah Ka, padahal tadi pas aku telpon ada," ucap Salsa.
"Mungkin ada keadaan darurat di rumah sakit, makanya belum pulang."
Salsa mengangguk mengerti. Wanita cantik itu menyuruh Azka agar membawa Angkara ke kamar terlebih dahulu, sementara dia mampir ke kamar Mamanya.
Semakin dekat langkahnya, suara tangisan semakin terdengar di dalam kamar. Tanpa mengetuk pintu, Salsa membuka pintu kamar dan mendapati Mamanya sedang menangis seraya memeluk sesuatu.
Salsa tidak tahu apa yang Mamanya peluk, karena wanita paruh bayah itu menangis membelakanginya.
Air mata Salsa ikut menetes ketika mendengar suara serak Mamanya menyebut nama orang yang sangat dia sayangi.
"Ayah," gumam Salsa.
Dia menutup pintu perlahan dan menghampiri Mamanya, memeluk wanita paruh baya itu dari samping.
"Mama, Salsa rindu," lirih Salsa terus memeluk tubuh bergetar Reni.
Wanita paruh baya itu langsung menghapus air matanya, ketika menyadari kedatangan Salsa.
"Kamu udah datang Nak? Suami sama anak kamu mana?" tanya Reni.
"Di kamar," jawab Salsa. "Kenapa Mama nangis sendiri? Harusnya Mama panggil Salsa."
"Mama nggak Papa nak, cuma keingat sama ayah kamu, pas nggak sengaja liat seragamnya di lemari."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
__ADS_1
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo