
Baru saja Azka dan Salsa sampai di rumah, teriakan histeris sudah terdengar nyaring di telinganya.
Wanita beranak satu itu seketika menutup telinganya rapat-rapat, sementara Azka menatap aneh wanita yang tengah hambil besar menangis sambil menyebut namanya.
"Huaaaaaaa ... Azka!" Histeris Alana sedikit berlari dan langsung memeluk laki-laki itu.
"Jadi selama ini kamu nggak meninggal? Cuma bohongin kita-kita? Tega banget hiks, kamu jahat sama aku," tangis Alana terus memeluk Azka.
Wanita yang tengah hamil besar itu mendongak untuk menatap Azka. "Jangan bilang kamu juga lupa sama aku? Kok kamu bego banget si Ka, sampai lupa sama istri sendiri!" Teriak Alana kesal bercampur bahagia.
Sudah lama ia ingin menemui Azka tetapi suaminya selalu melarang karena tak membiarkannya pergi sendiri. Namun, hari ini ia lolos tanpa pengawasan Alvi.
Azka mendorong kasar tubuh Alana. "Lo gila?"
"Ya!" Teriak Alana.
Salsa meringis, sepertinya bakal ada perang dunia ketiga antara Azka dan Alana, apa lagi Azka sedang menghadapi wanita hamil.
"Aku nggak gila, yang gila kamu! Ngapain pakai drama lupa ingatan Hah? Nggak usah hidup sakalian kamu Azka! Kamu hadir tapi kayak orang lain, hati aku aja dengar beritanya sakit, apa lagi istri kamu!
Alana histeris sendiri, memukul dada bidang Azka. Tak terima laki-laki itu lupa ingatan. "Kamu jahat udah lukain hati sahabat aku Azka!"
"Kamu sebenarnya siapa?" Bingung Azka.
__ADS_1
"Aku sahabat kamu dari kecil, sahabat paling cantik dan paling kamu sayang hiks ... masa nggak kenal."
Entahlah, Salsa harus tertawa atau sedih melihat sahabatnya menangis dan terus memukuli suaminya. Seandainya ia bisa seperti Alana. Melampiaskan rasa kesal di hatinya karena Azka tidak menginggatnya, mungkin perasaanya sedikit lega.
Namun, apa daya ia tidak tega jika harus memaki dan memarahi Azka, ini semua bukan kemauan laki-laki itu.
"Mommy lagi ngapain, kok peluk-peluk papa Kala?" teriak bocah kecil usia 4 tahun yang sedang berdiri di ambang pintu. Di belakangnya ada Alvi yang terlihat kesal karena mengetahui istrinya pergi dari rumah.
Alana menghentikan tangisnya, berbalik untuk menatap wajah Arga, putranya.
Sementara Azka langsung menghampiri Salsa untuk berlindung, merasa aneh pada wanita yang sedari tadi memukuli dirinya.
"Mommy mau ganti Daddy?" tanya Arga seraya berkacak pinggang.
"Arga setuju kok Mom, lagian Daddy udah tua."
Seketika tawa Salsa pecah detik itu juga.
"Heh bocil, ngomong apa kamu?" tegur Alvi."Enak aja main ganti Daddy."
***
Malam harinya, seperti biasa mereka akan tidur bersama tanpa bersentuhan sedikitpun. Salsa yang membaringkan tubuhnya terlebih dahulu memperhatikan Azka keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Ia mengenyit heran ketika Azka berbaring menghadap dirinya tanpa meletakkan pembatas di tengah-tengah mereka.
"Pembatasnya?" tanya Salsa.
Azka tersenyum. "Bukannya kamu bilang kita suami istri? Nggak masalah bukan kalau tidur tanpa pembatas."
Salsa terdiam.
"Selama ini aku cuma bilang bantu aku, aku akan berusaha mencintaimu tapi nyata aku terus membuat batas di antara kita. Apa yang di katakan Samuel tadi ada benarnya. Walau aku lupa sama kamu, bukan berarti aku harus menjauh."
"Maaf kalau sikap aku sama kamu terkesan dingin, aku cuma nggak mau larut dalam kekeliruan. Tapi setelah bertemu Samuel, aku percaya kamu memang istriku dan kamu pantas untuk mendapat cintaku.
Tes
Air mata kebahagian mentes begitu saja membasahi bantal Salsa, ia terharu akan kalimat yang di lontarkan Azka padanya.
Wanita itu tersenyum ketika Azka menghapus air matanya.
"Jangan nangis."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
__ADS_1