
Salsa langsung berdiri ketika hampir setengah jam di hiraukan oleh dua orang yang dicintainya. Apa yang dia lakukan juga tidak salah, menerima bantuan dari orang lain, bukan berniat selingkuh atau semacamnya.
Sepertinya Azka kali ini salah memilih lawan karena tidak menyadari bahwa Salsa sedang datang bulan, hingga sedikit sensitif dan mudah tersingung.
"Mama mau kemana?" tanya Angkara menarik tangan Salsa agar tidak pergi.
Bocah cilik itu tidak tahu apa permasalahan orang tuanya, dia hanya terlalu asik bermain dengan Azka.
"Pulang kerumah Nenek," jawab Salsa melirik Azka sekilas.
"Kok Kala nggak di ajak, Ma?"
"Kara sama Papa kan musuhin Mama, padahal Mama nggak salah apa-apa."
Angkara mengeleng, turun dari pangkuan Azka, kemudian memeluk kaki Salsa. "Kala, nggak mushin Mama. Kala sayang sama Mama." Dia mendongak. "Mama sama Papa musuhan?"
"Nggak, Papa kamu aja yang baperan," sindir Salsa.
"Kala halus milih siapa?" tanya Angkara dengan polosnya. "Kalena Kala lebih sayang sama Mama, Kala bela Mama." Angkara berbalik menatap Azka yang juga memperhatikan dirinya sedari tadi.
"Maaf ya Papa."
Salsa tersenyum, kali ini dia menang lagi. Bagimanapun situasinya, Angkara tetap akan membela dirinya.
Wanita itu menarik putranya ke kamar sebelah untuk tidur karena besok harus sekolah. Salsa membacakan dongen seperti biasa untuk sang putra.
Setelah di rasa terlelap, Salsa menuju dapur untuk memasak mie instan, entah kenapa ia sangat mengingingkannya.
Dia tersentak ketika seseorang memeluknya dari belakang, namun urung untuk berbalik ketika aroma Azka menyengat indera penciumannya. Aroma yang selalu membuat dirinya merasa sangat nyaman.
"Maaf, kalau sikap aku berlebihan dan terkesan ke kanak-kanakan," gumam Azka dengan nada penyesalan.
Setelah di tinggal sendiri di kamar, Azka memikirkan perlakuannya yang terlewat batas pada Salsa. Tidak seharusnya dia cemburu dan berujung menyakiti wanitanya.
Wanitanya? Mungkin jika suatu hari nanti ingatannya sudah kembali dan Salsa bukan istrinya, mampukah laki-laki itu berpisah?
Salsa bergeming, tetap pada kegiatannya walau dadanya sedang berdebar. Hatinya berbunga-bunga, perutnya seperti di gelitik ribuan kupu-kupu. Rasa kesal yang semula terpatri di hatinya kian memudar seiring rasa nyaman yang di berikan Azka.
"Aku juga lapar, tolong buatkan sesuatu," bisik Azka sebelum melepaskan pelukanya.
Azka membalikan tubuhnya membelakangi Salsa, hingga posisi keduanya saling membelakangi. Keduanya serempak menyetuh dada seraya tersenyum tanpa mereka ketahui satu sama lain.
Azka berbalik bertepatan Salsa juga berbalik hingga tatapan keduanya bertemu.
"Ma-makanlah, aku buat yang baru aja," gugup Salsa menyerahkan semangkung mie pada Azka.
"Okey."
Karena lapar dan aroma mie itu sangat menggoda, Azka makan lebih dulu tanpa menunggu Salsa. Keduanya belum sepat makan malam karena perang dingin seperti anak-anak.
"Azka, apa aku boleh nanya sesuatu?" tanya Salsa ikut duduk setelah mienya sudah masak.
"Hm." Masih sibuk makan.
__ADS_1
"Apa kamu udah jatuh cinta sama aku?"
Uhuk
Azka langsung tersedak mienya. Dengan sigap Salsa memberikan air minum. "Hati-hati Ka, makannya."
"Belum," bohong Azka.
"Benarkah? Aku kalah dong kalau gitu," gumam Salsa.
Azka senyum tipis, biarkan hanya dia dan sang pencipta yang tahu bahwa bukan Salsa yang kalah tapi dirinya karena terlalu cepat jatuh cinta.
***
Azka dan Salsa mendapat kelas pagi, hingga berangkat bersama, tapi sebelum itu keduanya mengantar Angkara ke sekolah.
"Belajar yang rajin anaknya Mama." Salsa mengacak-acak rambut putranya.
Di lihat dari segimanapun, Angkara tetaplah tampan.
"Kak Angka!" Lagi, penganggu datang pagi-pagi.
Angkara langsung bersembunyi di balik tubuh Azka. "Papa, dia pelempuan yang Kala celitain, Kala nggak suka sama Alana, dia celewet kayak maklampil."
"Eh nggak boleh ngomong gitu, Sayang! Mama nggak pernah ngajarin Kara ngejek apa lagi ngatain orang."
"Tapi Ayah Layhan, seling ngomong kalau olang celewet itu maklampil."
"Hadeuh, Rayhan lagi," guman Salsa. Tidak Arga tidak Angkara semuanya ketularan oleh virus Rayhan, tapi lebih parah Arga.
Kali ini bukan Angkara yang menghindar, melainkan Alana yang langsung bersembunyi di balik tubuh Daddynya, dia sangat membenci Arga.
"Senang deh liat kalian berdua gini," ucap Alana yang kebetulan mengantar Arga bersama Alvi.
"Belum ingat sama aku Ka?" tanya Alana di jawab gelengan oleh Azka.
"Nggak masalah sih, nggak penting juga. Lain cerita kalau Aa aku yang amnesia."
"Iya deh pasangan bucin," sindir Salsa. "Gimana ponakan aku, kapan louncing?"
"Beberapa bulan lagi, nyusul buruan!"
Salsa tertawa. "Ntaran aja ya Ka? Nunggu waktunya pas."
"Alga jelek!" Teriakan dari Alana kecil berhasil mengalihkan perhatian yang lain.
"Arga, jangan gangguan Alana, Sayang!" tegur Alvi.
"Alga cuma mau temenan sama Alana, Daddy. Tapi Alana maunya sama Kala doang."
"Itu karena kamu jahil, Sayang. Jangan di jahilin Alana lagi," ucap Alana.
"To, maafin Arga ya!" Alana tidak enak pada Dito.
__ADS_1
"Sans aja, namanya juga anak-anak."
Setelah berbincang cukup lama, Salsa pamit lebih dulu karena takut terlambat. Lagipula dia kasihan melihat Azka diam saja karena tidak tahu harus bagaimana.
Salsa melingkarkan tangannya di pinggan Azka dengan nyaman. Ya Azka mengantar Angkara ke sekolah naik motor, mereka bonceng tiga karena keinginan bocah kecil itu.
"Sayang, kayaknya bakal hujan deh."
"Iya," sahut Azka.
"Kok cuma iya? Balas sayang napa Ka!"
"Nggak bisa, aku belum cinta sama kamu."
"Oh gitu."
Tepat saat mereka sampai di kampus, hujan turun dengan derasnya membasahi bumi. Azka langsung menarik Salsa agar berteduh di sekitar parkiran.
"Yah hujan," ******* pasrah terdengar dari Salsa. Parkiran dan fakultas kedokteran lumayan jauh. Belum lagi lebih banyak lapangan yang bakal di lewatinya dibadingkan koridor.
"Tunggu disini!" perintah Azka.
"Mau kemana?" Salsa tak melanjutkan pertanyaanya lagi. Percuma Azka sudah berlari meninggalkannya.
Azka berlari di bawah lindungan jaket kulitnya keluar dari kampus menuju indoapril terdekat untuk membeli payung. Mana tega dia membiarkan Salsa kehujanan.
Laki-laki itu balik memegang dua payung sekaligus, satu dia pakai untuk berlindung satunya lagi belum di buka. Azka menyerahkan pada Salsa.
"Buruan masuk, ntar kamu telat lagi!"
Senyuman Salsah merekah. "Makasih sayangnya Salsa, perhatian banget deh. Jadi nggak yakin kamu belum cinta."
Cup
Salsa mengecup pipi Azka. "Salam perpisahan, nanti aku nemuin kamu buat makan siang."
"Nggak usah, kelas aku cepat selesai, biar aku yang nyamperin."
"Yaudah, dah Azka." Salsa melambaikan tangannya sebelum meninggalkan tepat berteduh.
Lagi, Azka melakukan hal seperti biasanya, menyentuh bekas ciuman Salsa.
"Berbahagialah sepuas yang kamu bisa sebelum kebahagian itu lenyap. Ternyata benar dugaan gue, Azka lupa ingatan," gumam seseorang yang tak jauh dari tempat berteduh Salsa dan Azka.
Selama ini dia diam-diam mengikuti Azka kemanapun hanya untuk mencari tahu sesuatu. Sepertinya dia sudah mendapatkan kelemahan Azka untuk saat ini, yaitu ingatannya. Tanpa ingatan, sangat mudah untuk memprovokasi siapapun, memutar balikan fakta.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
__ADS_1
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo