
Pagi harinya, Azka mengantar Salsa kekampus terlebih dahulu sebelum bertemu Samuel di markas.
Kali ini, dia mengendari mobil agar lebih aman.
"Nanti aku jemput," ujar Azka.
"Kamu nggak ada kelas hari ini?" tanya Salsa.
"Ada, tapi setelah makan siang. Aku mau ketemu El dulu, dia ada penerbangan sore jadi aku harus ketemu pagi."
"Oh gitu, hati-hati tapi, jangan ngebut."
Azka menganggukan kepalanya, membuka pintu mobil.
"Azka tunggu!" cegah Salsa membuat Azka berbalik.
Cup
"Dah suamiku." Salsa melambaikan tangannya, meninggalkan Azka di parkiran setelah memberikan satu kecupan di bibir hang mampu membuat Azka diam membeku.
Hari demi hari, tingkah Salsa semakin membuat Azka jatuh cinta. Azka senyum tipis, langsung masuk ke mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju Markas.
Kali ini, di markas banyak anak-anak Avegas angkatan satu dan dua. Avegas akan di perbaharui 3 tahun sekali. Azka ketua angkatan satu, dan dua tahun yang lalu Ketua angkatan Dua telah di lantik.
Namun, sebanyak apapun menganti ketua, Inti Avegas adalah pemenangnya.
"Gue senang nih kalau pak ketua mau gabung walau ingatannya hilang," gurau Ricky menyambut kedatangan Azka.
"Sama woi, kita lengkap lagi."
"Kenapa lagi?" tanya Samuel.
"Gue kemarin di cegat beberapa pria bermotor hitam, kayaknya geng motor, di liat dari jaketnya yang seragam seperti kalian."
Hening, tak ada gurauan yang terdengar, mereka semua mendengarkan cerita Azka dengan seksama.
"Warna jeketnya gimana?" tanya Keenan.
"Warna tanah dan hitam, di belakangnya tergambar burung Elang."
"Fiks Wiltar, gue juga bilang apa mereka kembali dan sekarang ngintai Azka," sahut Dito sangat yakin.
"Apa dia tau Azka lupa ingatan? Makanya dia cuma ganggu Azka?"
"Filing gue sih gitu."
Hembusahan nafas terdengar secara bersamaan, sepertinya setelah beristirahat dengan tenang selama beberapa tahun, mereka kembali di pusingkan dengan Wiltar.
Geng motor yang tak pernah mau menerima kekalahan. Tapi pertanyaanya, siapa ketua Wiltar sekarang? Bukankah Leo sudah di hukum mati?
"Sebenarnya masalah kalian sama mereka apa, dan kenapa dia cuma ngincar gue?" bingung Azka.
"Karena lo ketua kita, dan mereka tau lo hidup kembali, semetara Leo nggak. Otomatis dendam mereka semakin banyak," ucap Keenan.
Rayhan? Laki-laki itu terlihat aneh, sejak membicarakan Wiltar dia diam saja dan sibuk dengan dunianya, seperti tidak peduli sama sekali.
"Ray, tumben lo nggak heboh."
"Gue harus gimana? Bukannya emang Wiltar selalu nyari masalah ya?" sahut Rayhan.
"Merinding gue njir, lo kalem gini." Ricky memeluk tubuhnya sendiri.
***
__ADS_1
Salsa baru saja menyelesaikan kelas pertamanya untuk hari ini, dan kelas kedua adalah praktikum lagi. Saat SMA dia sangat suka apapun berbau praktikum, tapi sepertinya di kampus dia akan bosan sendiri.
Fakultas kedokteran, materi dan Praktiknya hampir seimbang. Selesai satu materi, maka akan di susul praktek di kelas berikutnya.
Salsa mendudukkan diri di taman sekitar kelasnya, rasa panas membuatnya sangat haus. Dia mengibas-ibaskan buku untuk meredam rasa panas, belum sanggup berjalan ke kantin untuk membeli minum.
"Gimana pelajarannya?" Salsa menoleh ketika seseorang duduk di sampingnya, dia adalah Riko teman sekelasnya, siswa lumayan pintar. Selalu membantu dirinya jika kesusahan.
"Lumahan susah," jawab Salsa.
"Kayaknya kamu haus deh Sal, nih aku bawain minum." Riko memberikan sebotol air minum pada Salsa.
Karena haus, Salsa tak menolak pemberian Riko.
"Makasih."
Malu untuk meminta bantuan Riko, membuka segel air minum, Salsa membukanya sendiri walau sedikit susah, hingga dia tak sengaja memencet botol terlalu dalam.
Byur
Tutup botol terbuka membasahi kemeja putihnya hingga taktop bagian dalamnya sedikit terlihat.
"Baju kamu ...."
"Nggak papa, nitip buku ya Ko, aku ke kamar mandi dulu."
"Pakai ini, pakaian dalam ... eum itu keliatan," ujar Riko tak enak.
Tidak mungkin dia membiarkan perempuan yang dia sukai menjadi tontonan orang lain.
"Makasih." Salsa langsung menyambar jaket Riko tanpa pikir panjang.
***
"Kenapa?"
"Kamu dimana? Udah di kampus?"
"Udah, ini ada di parkiran."
"Kemeja aku basah, kamu bawa jaket?"
"Kamu dimana? Aku kesana sekarang."
"Di taman depan kelas ...."
Tut
Azka langsung memutuskan sambungan telpon begitu saja, melangkahkan kaki lebarnya menuju fakultas kedokteran yang lumayan jauh dari mobilnya terparkir.
Tak lupa laki-laki itu membawa jaket. Alis Azka saling bertaut melihat Salsa berdiri dengan laki-laki lain di taman itu.
Entah kenapa hatinya merasa tak suka melihat semuanya.
"Salsa?" panggil Azka dengan suara datarnya.
"Azka, akhirnya kamu datang juga."
Azka tak menyahut, hanya menatap Riko dengan tatapan lumayan mematikan. Langsung menarik Salsa agar menjauh dari Riko.
Dia melepas jaket yang melekat di tubuh Salsa sedikit kasar kemudian melemparnya pada Riko.
"Istri saya tidak butuh jaket Anda!" tekan Azka.
__ADS_1
"Azka kamu apa-apaan. Riko cuma nolong aku."
"Yakin nolong tanpa ada niat apapun?" todong Azka mencengkram lengan Salsa sedikit kuat hingga menimbulkan bekas kemerahan.
Riko senyum tipis, menunduk untuk mengambil jaketnya yang tergeletak di rumput kerana ulah Azka.
"Anda boleh cumburu, tapi tidak sampai menyakiti seperti itu," sindir Riko ketika menyadari raut wajah Salsa yang kesakitan.
Riko berlalu pergi begitu saja. Ternyata wanita yang selama ini dia incar mempunyai suami.
"Azka sakit," lirih Salsa.
Azka langsung melepaskan cengramannya kemudian melempar jaket kearah Salsa begitu saja lalu pergi.
"Azka!" teriak Salsa namun Azka menghiraukannya.
***
Salsa pulang kerumah sendiri, karena Azka sangat sulit di hubungi setelah pertemuan tadi. Entahlah, kalau Azka memang cemburu kenapa sekasar itu? Mana perlakuan manis yang baru saja dia dapatkan?
"Mama, Kala kangen." Sambut anak kecil di ambang pintu membuat rasa lelah Salsa hilang seketika.
Wanita itu langsung bersujud mensejajarkan tingginya dengan tinggi sang putra.
"Mama juga kangen sama Kara. Pulang sama siapa tadi?"
"Pulang sama Oma."
"Papa." Angkara langsung melerai pelukannya ketika melihat Azka berdiri di belakang Salsa.
"Papa, Kala kangen. Papa juga kangen sama Kara kan? Kalau gitu, ayo gendong Kala!" Angkara merentangkan tangannya.
"Mama, Kala telbang yey," seru Kara dalam gendongan Azka.
Azka membawa Angkara ke kamar, tanpa memperdulikan keberadaan Salsa yang mengikuti dari belekang. Dia masih kesal karena Salsa dekat dengan lelaki lain.
"Kara."
"Iya papa?"
"Kalau Mama dekat sama cowok lain, Kara marah nggak?" tanya Azka sengaja menyindir Salsa yang sedari tadi terdiam.
"Malah banget. Mama 'kan cuma milik Kala sama Papa," jawab Angkara sesuai keinginan Azka.
"Anak pintar. Kalau Mama dekat sama cowok hukumannya apa?"
"Apa ya?" Angkara mengentuk-etuk keningnya pertanda sedang berpikir. "Musuhin aja, Pa."
"Benarkah?"
"Iya, jangan di ajak bicala."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
__ADS_1