
Azka langsung menghentikan langkahnya ketika berada di pinggir lapangan, ia merasa sedikit terganggu dengan sikap Salsa yang sedikit kasar pada wanita yang baru saja memanggil namanya.
"Kenapa buru-buru pergi, dia siapa dan kenapa kamu bersikap kasar?"
"Dia bukan siapa-siapa Azka."
"Apa kamu memyembunyikan sesuatu pada Saya?"
"Nggak. Udah stop pertanyain itu sama aku Ka. Lara bukan siapa-siapa di hidup kamu. Dia cuma masa lalu."
"Masa lalu?"
"Kamu nggak perlu tau." Salsa langsung melenggan pergi.
Sekarang rasa takutnya semakin besar karena kehadiran Lara tadi, kenapa pula ia harus bertemu Lara di saat-saat seperti ini. Jangan sampai kejadian di masa lalu kembali terulang lagi dalam hidupnya.
"Saya perlu tau semuanya agar bisa mengemblikan ingatan, mungkin saja saya bisa ingat jika bicara dengannya."
"Dia nggak ada hubungannya sama masa lalumu!" bentak Salsa tiba-tiba.
"Lalu kenapa kau semarah ini?"
"Udahlah, aku lelah Ka." Salsa berjalan semakin jauh dengan mata berkaca-kaca.
"Woy minggir!"
Tubuh Salsa sedikit terhuyung kebelakang karena tarikan seseorang. "Dasar ceroboh!" maki Azka setelah Salsa berada dalam pelukannya.
__ADS_1
Jika laki-laki itu terlambat sedikit saja, mungkin Salsa sudah terhantam bola basket.
Salsa mendongak dengan mata kercaka-kaca, menatap wajah Azka yang tanpa ekpresi. Di saat laki-laki itu ingin melerai, Salsa semakin memeluknya sangat erat.
"Aku cemburu kalau kamu nanya tentang wanita lain Azka, aku takut kehilangan kamu untuk kesekian kalinya. Kamu cuma milik aku. Kamu suami aku."
"Saya tau kamu istri Saya Salsa, tapi saya hanya ingin tau dia siapa, mungkin berbicara dengannya bisa mengingatkanku akan sesuatu."
"Nggak, aku nggak bakal ngisinin," gumam Salsa.
Wanita itu sangat takut Lara belum berubah, takut Lara mengetahui bahwa Azka hilang ingatan dan mengambil kesempatan yang ada.
***
Sepulang dari kampus, Salsa mengajak Azka berkunjung ke kamarkas yang kebetulan mereka lewati. Samuel baru saja menghubunginya dan mengatakan sedang berkumpul di markas.
"Welcome pak Ketua Angkatan 1!" Sambut Rayhan heboh.
Jika biasanya Salsa yang mengenggam tangan lebih dulu, kini Azka yang bernisiati sendiri ketika mendapati banyak laki-laki di rumah sederhana itu.
Semantara Salsa hanya bisa menunduk dengan senyuman di wajahnya memperhatilan tangan Azka.
Ingatannya memang hilang, tapi tidak dengan rasa cemburu juga posesifnya
"El?"
Sontak anggota Inti Angkatan satu langsung melotot pada Azka.
__ADS_1
"Lo kenal gue?" tanya Samuel tak percaya.
Laki-laki itu sudah pulang, dan sedikit terkejut mendengar berita kembalinya Azka. Laki-laki yang paling terpukul dari anggota lainnya saat kepergian Azka. Namun, heboh dan bersikap konyol seperti yang lainnya? Jangan harap kalian akan melihat itu dari Samuel.
"Hm."
Senyum tipis tersunging di bibir Samuel, laki-laki itu berdiri dan menghampiri Azka, berpelukan ala laki-laki.
"Selamat datang kembali pak Ketua, gue senang lo kembali lagi."
"Anjirlah, nggak adil ini mah. Gue yang pertama kali ketemu Azka beberapa hari yang lalu masa di lupain gitu aja," protes Rayhan.
"Lah, lebih sakit mana gue yang dari janin sahabatan sama Azka nggak di ingat," celetuk Keenan.
"Dari Janin nggak tuh," celetuk Ricky.
"Yaudah sih terima nasib aja, mungkin Azka ingatnya sama kembaran doang. Sama-sama kulkas 1000 pintu," sindir Ricky menghembuskan asap rokoknya.
"Ekhem, lupa ingatan aja masih posesif ye," sindir Dito ketika melihat tangan Azka terus menganggam tangan Salsa.
"Cinta dari sini men." Rayhan menunjuk dadanya. "Bukan dari sini." Laki-laki itu beralih menunjuk kepala.
"Kalau kepala mah namanya nafs*u!"
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
__ADS_1