Kembalinya Suamiku

Kembalinya Suamiku
Part 56 - Kembalinya Suamiku


__ADS_3

Salsa kembali ke kamar setelah memastikan Mamanya baik-baik saja. Dia tersenyum melihat Azka tengah berbaring di samping Angkara.


Laki-laki itu sibuk mencium wajah Angkara yang tengah tertidur pulas. Karena tak ingin menganggu kedekatan keduanya, Salsa memutuskan untuk duduk di sofa seraya bermain ponsel.


Toh, jarum jam masih menunjukkan angka 8, masih terlalu dini untuk tidur.


"Sayang, sini!" panggil Azka menepuk tempat di sampingnya.


"Nggak mau," balas Salsa tanpa menoleh pada Azka.


Tanpa dia sadari, Azka beranjak dari tempat tidur dan mendekatinya. Laki-laki itu langsung berbaring di pangkuang sang istri.


"Sal, caranya ngilangin tamu kamu biar nggak datang setiap bulan, gimana sih?" tanya Azka asal, seraya menyantuh perut rata istrinya.


Walau sudah mempunyai anak, tubuh Salsa masih seperti seorang gadis, terutama di bagian perut. Jika Azka bertanya, kenapa bisa seperti itu.


Salsa akan menjawab, itu semua karena mertuanya, setelah melahirkan Salsa sangat di manja, bahkan tidak di suruh ini- itu oleh mertua juga Mamanya.


Menyarankan berbagai obat, agar tubuh Salsa kembali seperti gadis, walau bukan gadis lagi.


"Sayang," panggil Azka, ketika tak ada sahutan dari sang istri. Dia merebut ponsel di tangan Salsa. "Liatin apaan sih, sampai nyuekin suami sendiri," gumam Azka dengan nada ngedumel.


"Ini kak Riko chat aku, katanya pengen ketemu berdua aja," jawab Salsa santai, bahkan ketika benda pipihnya sudah berada di tangan Azka.


Toh, tidak ada yang mencurigakan tentang chat mereka. Selama ini Salsa juga belum tau, kalau Riko adalah musuh Azka yang sebenarnya.


Azka tidak pernah menceritakan apapun pada Salsa, bukan tidak ingin jujur, hanya saja Azka tidak ingin istrinya terlalu banyak berpikir.


"Terus diterima?" tanya Azka dengan suara dinginnya. Ekpresi laki-laki itu berubah datar.


"Nggak lah, suami aku cemburuan, baru mau nolak," jawab Salsa. "Sini Azka, aku mau balas dulu." Dia merebut ponsel di tangan Azka, namun tenaganya jauh di bawah laki-laki itu hingga tidak mendapatkan ponselnya.


"Biar aku yang balas."


"Mau kemana Ka?" tanya Salsa ketika Azka beranjak dari pangkuannya, bahkan berjalan menuju pintu, seperti akan keluar.


"Perpustakaan Ayah," jawab Azka.


***


Azka mendudukkan diri di kursi setelah berada di dalam perpustakaan.


Dia mengeluarkan ponselnya juga ponsel Salsa, mengirim kontak Riko di Grup chat inti Avegas.


...Avegas Solehot๐Ÿ’ฉ...


^^^Azka:^^^


^^^Send kontak^^^


Samuel:


Punya siapa?

__ADS_1


^^^Azka:^^^


^^^Riko, coba lo lacak!^^^


Rayhan:


Otw


Ricky:


Ada yang mau gue omongin, ngumpul besok bisa?


^^^Azka:^^^


^^^Bisa^^^


Keenan:


Lah, bukannya lo ada di bandung?


^^^Azka:^^^


^^^Ngampanglah itu, cuma bandung^^^


Setelah mengirim pesan pada grup intip Avegas, Azka kembali ke kamar untuk menemui sang istri. Dia tidak marah, Riko menghubungi istrinya, tetapi senang, karena bisa melacak keberadaan Riko melalui pesan yang baru saja di kirimnya.


Satu pertanyaan yang muncul di otaknya. Kenapa Riko mengajak istrinya bertemu? Apa lagi rencana laki-laki licik itu?


"Nggak, tadi ada urusan." Azka menyerahkan benda pipih pada Salsa. "Kamu belum jawab pertanyaan aku Sal. Cara ngilangi tamu kamu biar nggak datang tiap bulan gimana sih? Aku tuh paling nggak suka kalau di cegah-cegah gini," gerutu Azka.


Senyum Salsa mengembang. "Hamil, dengan hamil maka tamu aku nggak bakal datang," jawabnya.


Azka menyeringai. "Kalau gitu, ayo sayang!"


Tangan Salsa melayang dan menyentuh kening Azka, hingga suara ringisan terdengar.


"Kdrt," cemberut Azka langsung memeluk Salsa dan memyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri.


Sentilan Salsa tidak berasa sama sekali, tetapi Azka hanya ingin di manja.


"Ya udah, laporin aku ke polisi, biar di penjara."


"Kamu udah terpenjara sayang. Di hati aku," bisik Azka.


***


Sejak pagi, senyuman di wajah cantik Salsa sudah menghilang, karena baru saja mendengar bahwa Azka akan ke ibu kota.


Wanita itu mengira, dengan ke Bandung, mereka bisa menghabiskan waktu bersama, liburan bersama, tetapi semua hanya wacana untuknya.


"Nggak bisa di tunda dulu, Ka?" tanya Salsa, menyiapkan pakaian untuk sang suami.


"Setelah urusan aku selesai, aku langsung pulang ke sini, nggak mampir kemanapun," jawab Azka.

__ADS_1


"Urusan apa sih? Sampai nggak bisa di tinggal dulu? Coba jelasin sama aku, biar aku tuh ngerti dan nggak khawatir gini!"


Azka yang hendak masuk ke kamar mandi segera urung, dia menatap istrinya. "Urusan yang sangat penting, dan aku nggak bisa jelasin sama kamu Sal."


"Avegas lagi? Kenapa aku merasa akhir-akhir ini kamu lebih metingin mereka dari pada aku Ka? Ok, aku tau mereka teman-teman kamu. Kamu ada masalah yang aku nggak tau sepenting apa itu. Tapi, ingat. Kamu punya istri dan anak Azka, bisa nggak sih, kamu sisihin waktu sama aku bentar aja?"


Air mata Salsa menetes begitu saja membasahi pipinya. "Kamu memang nggak selingkuh dan nggak punya pacar di luar sana, tapi aku merasa kok jadi yang kedua ya?"


Azka menghembuskan nafas panjang. Dia berjalan mendekat. "Kamu ngomong apa sih Sal?"


"Lebih penting mana aku sama Avegas?"


Azka terdiam, ini pilihan yang sulit untuknya.


"Nggak bisa jawab kan? Kalau kamu pergi hari ini, maka aku menggap Avegas lebih penting dari aku."


Salsa berbalik untuk membekangi Azka. "Kita jauh-jauh ke Bandung dengan rancana ketemu Mama sekalian liburan, tapi kamu malah mau pergi lagi ketemu sama teman-teman kamu," lirihnya.


Tangis Salsa semakin menjadi ketika pelukan Azka terasa di tubuhnya.


"Kamu kan dari awal tau Sal, kalau aku ketua geng motor," gumam Azka.


"Tau, tapi pas kita pacaran, awal menikah, kamu mana pernah ngebatalin rencana yang kita susun demi Avegas? Kamu selalu ngutamain aku, makanya aku nggak keberatan. Selalu jujur apa yang kamu lakuin di luar sana. Pas kita marahan saja, kamu datang kerumah, pamit baik-baik pas mau tawuran sama teman-teman kamu. Sekarang apa Ka? Kamu pergi saat aku tidur, kamu ngebatalin rencana gitu aja. Nggak pernah jujur tentang masalah kamu, sering duduk sendiri kayak orang banyak pikiran. Gunanya aku apa? Ngasuh anak kamu? Temenin kamu tidur, masakin kamu makanan? Cuma itu?"


"Maaf, kalau akhir-akhir ini aku lebih banyak waktu sama mereka," sesal Azka.


"Pergilah, selesaikan semua urusan kamu, aku nggak papa kok kalau nunggu kamu. Dari dulukan, emang gitu, selalu aku yang nunggu, selalu aku yang ngertiin kamu."


"Aku nggak ngelarang kamu jadi ketua, gabung sama teman-teman kamu, tapi tolong! Kurangin."


"Aku ada masalah, Sal."


"Apa?" tanya Salsa.


"Intinya ada, aku bakal selesain secepatnya."


Salsa menghembuskan nafas panjang, dia menyentuh tangan Azka dan menjauhkan dari tubuhnya.


"Sepertinya memang kamu nggak ada niatan cerita apapun ke aku Ka," gumam Salsa.


Wanita itu menghapus air matanya kasar. "Pergilah, kamu pulangnya besok aja. Kalau pulang hari ini juga, kamu bakal lelah," lirih Salsa.


"Maaf, aku agak sensitif," lanjutnya.


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiah๐Ÿฅฐ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Follow untuk melihat visual


IG: Tantye005


Tiktok: Istri sahnya Eunwoo

__ADS_1


__ADS_2