
Usai menemani Angkara tidur, Salsa segera menyusul Azka ke kamar. Ini saat yang pas untuk membicarakan tentang mereka. Salsa tidak berani berdebat karena ada Angkara tadi.
Saat membuka pintu, dia melihat Azka sedang bermain game di sofa, tanpa mengatakan apapun, dia segera duduk di samping suaminya.
"Azka kamu marah sama aku? Maaf," lirih Salsa.
"Aku nggak bermaksud buat kamu cemburu tadi, jangan cuekin aku." Pintanya seraya *******-***** jari-jari tangannya.
Azka langsung meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian menatap Salsa dengan tatapan yang sulit di artikan. Dia merentangkan kedua tangannya.
"Sini peluk!"
Tanpa bertanya, Salsa langsung masuk kepelukan suaminya. Dia merindukan pelukan ini sejak pagi tadi. Rasanya di cuekin oleh Azka adalah hal paling membosankan untuknya.
"Maaf," lirih Salsa.
"Ternyata diemin kamu nggak bisa buat marah aku reda Sal," gumam Azka, dia semakin erat memeluk istrinya, menghirum aroma wangi yang menguar di rambut sebahu Salsa.
Seharian ini Azka memutuskan mendiami Salsa agar amarahnya reda, bukannya reda dia malah urung-uringan sendiri.
"Peluk aku seerat mungkin Sal. Hanya berada di pelukan kamu yang mampu meredakan rasa marah juga emosiku."
Salsa semakin mengeratkan pelukan seperti yang di perintahkan Azka. "Udah?"
"Masih, kenapa sih, aku nggak bisa marah sama kamu Sal?" tanya Azka heran sendiri.
Laki-laki itu menyangah kepalanya di pundak Salsa yang tengah bersandar di pengangan sofa.
"Karena suami aku ini udah bucin, makanya nggak bisa marah. Aku senang Ka, emosi kamu nggak meledak-ledak kayak dulu. Sekarang kamu udah bisa ngendaliin sendiri tanpa harus lepas kontrol lebih dulu." Salsa menunduk hanya untuk mencium rahang tegas Azka.
"Katanya ada teman cewek, tapi pas di Kafe kok nggak ada? Kamu bohongin aku?" tanya Azka seraya memainkan kacing piyama sang istri.
Kalau saja Salsa melihat wajah cemberutnya, mungkin wanita itu akan tertawa meledekinya.
"Nggak, mana berani aku bohongin suami aku. Tadi emang aku sama Leli, tapi dia buru-buru pulang karena ada urusan, makanya aku sedirian perempuan. Lagiankan di tempat itu ramai Ka, aku juga nggak ngapa-ngapain," jelas Salsa.
Salsa menahan tangan Azka yang terus memainkan kancing piyamanya, jika terus di biarkan, maka tangan itu akan masuk begitu saja.
"Ketawa kamu cantik, jadi cuma aku yang boleh liat Sal."
"Iya Sayangnya Salsa, senyum sama tawa aku cuma Azka yang boleh liat, jadi jangan merajuk lagi dong. Tega banget tadi diemin aku."
Azka terdiam, semakin mengeratkan pelukannya hingga tubuh Salsa seperti di ikat, mulai sesak tapi tidak berani mengeluh atau Azka akan semakin ngambek.
"Ambilin tisu basah," gumam Azka.
"Mau ngapain?" tanya Salsa.
"Ambilin aja sih, susah banget perasaan."
"Ya udah lepasin dulu!"
Bukannya melepaskan, Azka malah semakin mencari posisi ternyaman.
__ADS_1
"Tisu basah sini!" panggil Azka.
Pletak.
Salsa langsung menyentil kening Azka karena gemas. Jika suaminya dalam mode seperti ini, maka mengemaskannya melebihi Angkara.
"Sakit sayang." Keluh Azka.
"Kamu juga, ya kali tisu bisa jalan sendiri. Emangnya tisunya mau di apain?"
"Buat lap tangan kamu, nggak sudi rasanya bekas Riko nyentuh aku."
Salsa memutar bola matah jengah. "Aku udah mandi, masak, sikat gigi, otomatis kuman Riko juga udah hilang Ka. Udah deh, mending kita buat dedeknya Kara aja, mau nggak?"
"Mau banget, tapi kamu yang mimpin."
"Siap pak Ketua!"
***
Hari libur, Salsa manfaatkan untuk istirahat di rumah bersama Angkara, karena Azka sibuk mengurus kesempurnaan resepsi yang akan di adakan di Villa. Laki-laki itu juga sibuk mengurus Avegas.
"Kara, main bola sendiri ya nak, Mama mau masak dulu," ucap Salsa sedikit berteriak.
Dia sudah menemani putranya bermain bola di halaman depan rumah. Karena perutnya mulai merasakan lapar, dia memutuskan memasak sebentar untuknya juga Angkara.
"Iya Mama, buatin Kara ayam goreng yang banyak, biar cepat besar kayak Papa!" sahut Angkara.
"Oke Sayang. Jangan kemana-mana, apa lagi keluar gerbang ya, kalau mau sesuatu minta sama om-om di luar pagar."
Merasa Angkara sudah aman, Salsa masuk kerumahnya untuk membuat sesuatu. Dia berkacak pinggang di depan kulkas, mencari bahan-bahan yang di butuhnya.
Untungnya bahan-bahan masih lengkap, jadi dia tidak perlu repot-repot keluar membeli sesuatu.
"Mama!"
"Iya sayang," sahut Salsa tanpa membalik tubuhnya, masih sibuk memotong-motong sayuran.
"Ini buat Mama, dari om-om pakai motor di depan."
Penasaran apa yang di bawa Angkara, Salsa segera menoleh. Dia mengernyit melihat paket berukuran sedang dalam pelukan Angkara.
"Buat Mama?" tanya Salsa memastikan, pasalnya dia merasa tidak memesan apapun.
"Katanya iya, ayo mama kita buka! Kara penasaran sama isinya. Mama tau isinya?" Kara sangat antusias, menarik Salsa keluar dari dapur, tak berniat memberikan paket di pelukannya.
"Apa dari Papa, Mama? Buat Kara?"
"Mama nggak tau nak, kita buka ya! Ini beneran punya Mama kan?" Angkara mengangguk.
"Iya, kata om-om tadi buat Salsa, nama Mama kan Salsa."
Salsa mengangguk, segera mengambil gunting dan membuka paket itu. Dia membukanya perlahan-lahan, takut isinya sesuatu yang mudah rusak.
__ADS_1
"Aaaaaaahhhhhh!" pekik Salsa ketika melihat isi paketnya, dia reflek melempar kotak itu hingga berserakan di lantai.
Refleks dia menutup mata Angkara agar tidak melihatnya.
Peluh seketika membanjiri kening Salsa, dia sangat terkejut juga ketakutan melihat isinya. Dia balik badan, tak ingin melihatnya untuk kedua kali.
"Mama kok tutup mata Kara? Kara mau liat, lepasin mama!"
"Kara nggak boleh liat, ayo masuk ke kamar!" Salsa langsung menarik putranya menuju kamar. Tak lupa dia mengunci pintu kamar rapat-rapat, setelahnya langsung menelpon sang suami.
"Az-azka pulang cepat!" ucap Salsa terbata setelah sambungan terhubung pada Azka.
"Kenapa Sal?"
"Aku bilang pulang, kamu dimana? Aku takut."
***
"Gimana-gimana, rencana gue cemerlan ya nggak?" antusias Ricky.
"Nggak setuju gue, enak di elonya aja. Gue nggak ada pasangan!" tolak Dito.
Ricky memberi ide, setelah resepsi mereka akan tinggal di Villa beberapa hari bersama pasangan masing-masing, tapi ide itu sangat buruk bagi yang tidak punya pasangan.
"Makanya cariin Alana Mommy."
"Gimana El? Ikut nggak?" tanya Rayhan.
"Lo ledekin gue?" tanya balik Samuel.
"Santai dong, gue aja yang di tinggal nikah nggak sensi-sensi amat kayak lo."
"Gimana nggak sensi epibadeh, dia nyeselnya sampai ubun-ubun, ngira Ara nggak bakal ninggalin," ledek Ricky.
Avegas kembali berkumpul, dan lagi-lagi Keenan tidak ada di antara mereka.
"Gue sih terserah kalian aja, tapi emang benar sih Ky, kasian yang jomblo," ucap Azka mendukung Ricky.
"Njir, sekate-kate lo pak Ketua."
Di saat mereka sedang seru-seruan, ponsel Azka berdering, panggilan dari Salsa.
Raut wajah yang tadinya gembira harus berubah muram ketika mendengar suara ketakutan dari sang istri. Azka langsung memutuskan sambungan telpon begitu saja.
"Gue balik dulu!" pamit Azka. "Jangan lupa keamaan nanti."
"Yoi, biar keamanan resepsi gue yang urus," sahut Rayhan.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
__ADS_1
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo