
Rencana Azka tinggal di Villa bersama teman-temannya untuk menuntaskan masalah yang ada harus tertunda karena kekeras kepalaan Salsa yang tak ingin pulang jika Azka tidak ikut pulang.
"Maaf, tapi aku nggak mau kamu berantem Azka," gumam Salsa terus memainkan jari-jari kekar Azka.
Sementara laki-laki itu tengah berbaring seraya memeluk pinggang Salsa.
"Aku tau, nggak usah ngerasa bersalah gitu," gumam Azka.
Walau darahnya sudah mendidih ingin memukul seseorang karena mengacaukan resepsinya, dia tidak bisa berbuat apa-apa jika Salsa sudah melarang, apa lagi sekarang sudah malam.
Dia tidak tega jika harus melihat Salsa menangis ketakutan, terlebih setelah ancaman teror itu. Azka takut Salsa malah stress memikirkan kesehatannya.
"Kamu mau janji sama aku nggak bakal tawuran Ka?" tanya Salsa.
"Nggak bisa, emosi aku mulai nggak stabil," jujur Azka. "Kaki kamu, masih sakit?" Azka mendongak demi menatap wajah cantik sang istri.
"Dikit lagi sayang," jawab Salsa.
Azka mengangguk mengerti, segera bangun saat mendegar ponselnya berdering, dia langsung menyambar ponsel itu dan berjalan menjauh ketika mengetahui siapa penelponnya.
Merasa cukup aman dan Salsa tidak akan mendengar pembicaraan mereka, barulah Azka menjawabnya.
"Gimana El?" tanya Azka.
"Ricky sama Rayhan udah cek seluruh CCTV, ternyata itu ulah Riko, kakaknya Leo," jawab Samuel di seberang telpon.
Azka memejamkan matanya, apa yang dia takutkan akhirnya terjadi, Riko datang sebagai tamu undangan dan mengacaukan semuanya. Tapi bukan ini yang membuatnya marah.
Satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benaknya.
Kenapa Riko bisa lolos dari pemeriksaan padahal membawa senjata? Apa benar sahabatnya berkhianat, secara selama ini salah satu inti Avegas sengaja menyembunyikan indentitas dan wajah Riko.
"Lo tenang aja, gue bakal urus semua ini. Ada baiknya lo fokus sama orang-orang terdekat lo, mungkin setelah ini Riko akan kembali bersembunyi, secara kita udah tahu siapa dia sebenarnya."
"Thanks El, untuk sekarang gue serahin semuanya sama lo, tentang inti Avegas kita urus nanti. Setidaknya kita tau siapa kakak Leo yang sebenarnya."
Setelah sambungan terputus, Azka kembali ke kamar dan memasang wajah mengemaskan seperti tadi.
"Siapa Ka?" tanya Salsa.
"Samuel."
"Kirain siapa. Jangan terlalu banyak pikiran sayang, di bawa santai aja."
***
Karena jatah cuti yang di ajukan Azka dan Salsa oleh pihak kampus sudah berakhir, keduanya kembali aktif seperti biasa.
Menjalankan aktivitas layaknya mahasiswa pada umumnya, belajar dan di sibukkan banyak tugas.
Pikiran Azka mulai teralihkan dari masalah geng motor yang dia hadapi sekarang, biarkan orang yang dia curigai bersenang-senang sebelum dia mengambil tindakan.
"Salsa, kamu tau kenapa Riko nggak masuk?" tanya salah satu teman kelas Salsa.
__ADS_1
"Nggak," jawab Salsa di sertai gelengen. "Kenapa nanya aku?" herannya, padahal Dia merasa tidak terlalu dekat dengan Riko.
"Ya kan selama ini Riko ngintilin kamu mulu, ya kali tau."
"Nggaklah."
Wanita itu pamit lebih dulu pada teman-temannya ketika merasakan perutnya terasa sakit, mungkin ingin buang air besar.
Salsa sedikit berlari menuju toilet, hingga tidak sengaja menabrak seseorang bertopi.
"Maaf kak, aku nggak sengaja," ucap Salsa sopan dan melanjutkan langkahnya.
Wanita beranak satu itu langsung masuk ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya, selang beberapa lama ritualnya selesai.
Karena kamar mandi lumayan sepi, Salsa memutuskan untuk tinggal sebentar merapikan rambut juga kemejanya. Tak lupa dia menghubungi Azka, sekedar menanyakan keberadaan sang suami.
"Sayang, kamu udah selesai? Makan siang bareng sempat nggak?" tanya Salsa setelah sambungan telpon terhubung.
"Nggak kayaknya Sal, ini lima menit lagi aku lanjut, makan siang sendiri nggak papa kan?"
"Iya nggak papa, jangan lupa makan Papanya Kara." Salsa mengulum senyum.
"Dimana?"
"Di kamar mandi, tadi perut aku mules, tapi sekarang dah mendingan. Udah dulu ya, aku mau ... Aaaaaaaaaa!"
Teriakan Salsa mengelegar di dalam kamar mandi ketika lampu tiba-tiba mati, wanita itu tambah terkejut saat pintu kamar mandi seperti terkunci.
"Salsa!"
Bentak Azka ketika Salsa tak kunjung menjawab.
"Ak-aku nggak papa Ka, cuma keget karena lampu tiba-tiba mati."
Salsa langsung menyalakan Flash ponselnya sebagai cahaya pembantu, berjalan perlahan menuju pintu untuk membukanya.
Saat akan mendekat, suara langkah seseorang terdengar. "Siapa?" tanyanya.
Tak ada sahutan dari siapapun.
"Sal aku kesana ..."
"Nggak usah Ka, lampunya udah nyala, aku tinggal ... Aaaaaaaaaaa!" Wanita itu kembali berteriak, kali ini bukan lagi teriakan keterkejutan melainkan teriakan penuh ketakutan.
Tanpa sadar, Salsa menjatuhkan ponselnya, lututnya terasa sangat lemas melihat tulisan berwarna merah di kaca tempatnya bercermin tadi.
SUAMI KAMU AKAN MATI DI TANGANKU!!!
***
Tanpa memperdulikan panggilan teman-teman sekelasnya yang mencegah agar Azka tidak pergi karena sebentar lagi dosen masuk, laki-laki itu terus berlari seraya mengenggam benda pipih di tangannya.
Ingin rasanya Azka mempunyai kekuatan teleportasi agar segera sampai di fakultas Kedokteran untuk memastikan kondisi istrinya.
__ADS_1
"Sialan, kenapa nggak aktif!" Maki Azka terus berlari.
Dia tidak peduli dengan seseorang yang dia tabrak, atau orang-orang yang tengah memperhatikannya aneh.
"Kak toiletnya rusak, nggak liat tanda itu?" peringatan salah satu mahasiswa katika Azka hendak menerobos toilet perempuan padahal jelas-jelas ada spanduk bertuliskan.
Area sedang dalam perbaikan.
"Gue nggak peduli!"
Brak
Azka langsung mendobrak pintu kamar mandi dan mendapati Salsa jatuh pingsan dengan keringan dingin di tubuhnya.
Dia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan dan tidak mendapati sesuatu yang aneh, kamar mandi itu sangat bersih dan tidak ada yang rusak sedikitpun.
"Sayang, bangun!" panik Azka.
Laki-laki itu langsung mengendong Salsa keluar dari kamar mandi.
***
Azka bernafas lega setelah Salsa terbangun setelah membuatnya panik bukan kepalang.
"Sal, kamu tau, aku ...."
Brugh
Salsa langsung memeluk Azka sangat erat, tangis wanita itu pecah. "Plis, jangan tinggalin aku Azka, jangan lakukan apapun yang bisa bahayain kamu di luar sana. Berhenti ngurusin Avegas dan teman-teman kamu!"
"Sayang, kamu kenapa, hm? Aku baik-baik aja, dan nggak bakal ada yang nyelakain aku."
"Bohong! Dia pengen bunuh kamu Azka."
"Dia siapa Sayang?" tanya Azka sedikit heran, dia melerai pelukan Salsa, menghapus air mata wanita itu.
"Pokoknya jangan pergi kalau nggak sama aku!" pinta Salsa dengan sorot mata ketakutan.
"Iya, aku nggak bakal pergi kemanapun tanpa kamu. Sayang, apa yang buat kamu takut Hm? Ada yang neror kamu lagi?"
Salsa mengeleng, detik berikutnya mengangguk. Itu dia lakukan berulang kali seperti orang bingung, air mata terus mengalir di pipinya.
Lama-lama Salsa akan stres jika terus begini, stres karena takut kehilangan Azka.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
__ADS_1