
Berlian merasa tidak enak saat sudah keluar dari dalam ruangan dokter Fitri pasalnya semua orang yang berada di kursi tunggu di depan ruangan dokter Fitri langsung menatap tajam kearah Berlian dan juga Varo yang baru keluar dari ruangan dokter Fitri. Ketika Varo membopong tubuh Berlian.
"Ini nih warga indonesia yang tidak baik tidak tahu caranya mengantri bagaimana?" ucap salah satu ibu hamil yang sedang berada di kursi tunggu. "Sebentar-Sebentar. Eh impor kamu sudah menjadi warga Indonesia belum?" tanya ibu tersebut membuat Varo langsung berhenti berjalan dan langsung menatap ibu tersebut.
"Sudah dong bu aku cinta NKRI," ujar Varo sambil memukul dadanya sendiri bangga setelah dirinya menurunkan Berlian.
"Tahu lagu kebangsaan Indonesia?"
"Tentu tahu bu," ujar Varo bangga.
"Coba nyanyikan?"
"Siap laksanakan," ujar Varo yang langsung memberi hormat.
"Indonesia….."
"Ah perutku sakit, Varo tolong," ujar Berlian sambil memegangi perutnya membuat Varo langsung berhenti saat dirinya akan bernyanyi.
"Mommy kamu kenapa cepat ayo!" ujar Varo yang langsung membopong tubuh Berlian dan langsung menuju ke ruangan dokter Fitri.
"Mommy yang mana yang sakit? Tahan ya mommy?"
"Aku tidak sakit kita pulang saja," bisik Berlian di telinga Varo saat dirinya berada di gendongan Varo.
"Mommy?"
"Cepat pulang, atau aku tidak akan mau kamu sentuh," ancam Berlian membuat Varo langsung membalik tubuhnya saat sudah berada didepan pintu ruangan dokter Fitri dan dirinya langsung pergi membuat semua orang yang sedang menunggu di depan ruangan dokter Fitri bingung dengan apa yang dilihatnya.
"Mommy kamu tidak sakit beneran?" tanya Varo saat sudah sampai di lobby rumah sakit dan masih setia membopong tubuh Berlian.
"Tidak! Aku baik-baik saja,"
"Kenapa kamu berbohong. kamu tahu aku hampir tidak bisa bernafas saat kamu mengatakan kalau kamu sakit sambil memegangi perut kamu,"
"Aku hanya ingin menyelamatkan dirimu saja,"
"Menyelamatkanku?"
"Iya,"
"Kenapa?" tanya Varo sambil menatap Berlian saat Berlian melingkarkan kedua tangannya di leher Varo.
"Kamu masih ingat satu minggu lalu kamu tidak hafal menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia?"
"Iya aku masih ingat. Terus kenapa?"
__ADS_1
"Tadi kamu mau menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia didepan semua orang. Bagaimana kalau kamu tidak hafal memalukan sekali,"
"Hanya karena itu kamu bersandiwara berpura-pura sakit? Mommy, mommy tenang saja aku sudah hafal menyanyikannya. Aku tidak mau nanti baby kita lahir mereka belajar lagu kebangsaan Indonesia pada orang lain. Mau ditaruh mana muka daddynya, masa daddynya hanya bisa memanjat mommynya saja," ujar Varo dan langsung tersenyum bangga.
"Memang calon daddy yang terbaik," ujar Berlian sambil mengelus wajah Varo.
"Tentu mommy. Oh ya mommy ayo kita langsung pulang kerumah, aku sungguh sudah tidak tahan ingin mengunjungi kudua anak kita dan memberinya nutrisi,"
"Aku juga sudah tidak tahan memakan singkong bakar jumbo yang sangat aku rindukan," ucap Berlian dan keduanya langsung tertawa membuat orang-orang yang berjalan melewati Varo dan juga Berlian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum saat mendengar apa yang diucapkan Berlian dan juga Varo di tempat umum.
"Varo stop," ucap Berlian membuat Varo langsung berhati saat sudah keluar dari rumah sakit menuju tempat parkir mobil.
"Ada apa mommy?"
"Turunkan aku!"
"Tidak mau,"
"Varo apa kamu tidak ingin menjenguk anak kita dan memberi nutrisi?"
"Tentu saja mau,"
"Ya sudah turunkan aku,"
"Apa kita ingin melakukannya disini? Baiklah aku akan menurunkan kamu sekarang juga,"
Dan Berlian langsung menghampiri seseorang yang sedari tadi Berlian lihat sedang duduk di bangku yang berada di lobby rumah sakit.
"Mommy tunggu!" ucap Varo sambil mengejar Berlian yang sudah pergi meninggalkan Varo.
"Sabila?" tanya Berlian ketika dirinya sudah mendekat kearah Sabila.
Membuat Sabila langsung menatap Berlian dan Sabila langsung menghapus air matanya.
"Sabila?" ujar Berlian lagi saat dirinya sudah duduk disamping Sabila kemudian Berlian langsung memeluk tubuh Sabila.
"Ada apa denganmu? Kenapa kamu menangis?" tanya Berlian setelah melepas pelukannya dan beralih meraup wajah Sabila kemudian menghapus air mata Sabila yang masih tertinggal di pelupuk mata Sabila.
"Aku tidak bisa seperti dirimu menjadi wanita seutuhnya," ujar Sabila sambil mengeluarkan air matanya kembali.
"Hei apa yang kamu katakan?" tanya Berlian membuat Sabila langsung memeluk tubuh Berlian.
"Dokter meng fonisku kalau aku tidak akan pernah bisa mengandung, dan hanya keajaiban yang Allah berikan bila itu terjadi," ujar Sabila sambil menangis dipelukan Berlian, dan Varo yang sudah berada di belakang Berlian langsung terkejut dengan ucapan yang terlontar dari mulut Sabila.
"Jangan katakan seperti itu kalian belum lama menikah pasti Allah akan memberikan keturunan kepada kalian," ujar Berlian saat dirinya melepas pelukan Sabila dan beralih menggenggam kedua tangan Sabila.
__ADS_1
"Itulah kenyataannya, sudah beberapa puluh dokter yang aku datangi tapi semuanya mengatakan hal yang sama, membuatku tidak bersemangat hidup di dunia ini,"
"Apa yang kamu katakan, hidup itu sudah ditentukan oleh Allah. Termasuk juga dengan keturunan,"
"Jangan menghiburku dengan mengatakan itu, itu sungguh tidak mungkin Berlian,"
"Siapa bilang tidak mungkin. Bagi Allah semuanya mungkin Sabila. Kamu lebih paham itu dibanding aku,"
"Entahlah aku sudah pasrah menerima takdirku,"
"Kenapa kamu pesimis seperti ini?"
"Bagaimana aku tidak pesimis, kalau…….."
"Sudah jangan katakan lagi," potong Malik yang tiba-tiba datang dan langsung memeluk tubuh Sabila. Membuat Varo yang berada dibelakang Berlian langsung memegang kedua bahu Berlian dan mengajak Berlian untuk meninggalkan Sabila dan juga Malik.
"Aku ikut sedih pada apa yang dialami oleh Sabila tadi bila itu benar," ujar Berlian ketika dirinya sudah berada didalam mobil saat dirinya mengikuti Varo untuk meninggalkan Malik dan juga Sabila.
"Kamu tidak boleh bersedih mommy, apapun alasan kamu, dokter Fitri bilang wanita hamil tidak boleh bersedih karena bisa mempengaruhi baby kita yang masih berada disini," ujar Varo sambil mengelus perut dan menciumi nya.
"Varo apa yang kamu lakukan?" tanya Berlian saat Varo mulai turun untuk menciumi pusat inti Barlian.
"Aku sudah tidak tahan mommy,"
"Tapi ini ditempat umum!" ucap Berlian tapi tidak dihiraukan oleh Varo.
"Varo……………"
*
*
*
Bersambung................
***Like, komen, ok lah kalau begitu. 😘😘😘😘😘
Tapi otor abal-abal ini jahara selalu menggantung 😂😂😂😂😂***
Yuk Ramaikan novel dibawah ini, ceritanya lain dari yang lain yg sedang ldr an yuk merapat dijamin tidak menyesal.
Dan satu lagi ceritanya menarik, dan bagus yuk mampir juga.
__ADS_1