
"uwek…..uwek…….uwek" Berlian ingin beberapa kali memuntahkan sesuatu tapi tidak kunjung keluar.
"Berlian kamu tidak kenapa-kenapa?" tanya Varo sambil menyelipkan rambut Berlian ke belakang telinga saat rambut Berlian berantakan.
"Itu tuh kalau kebanyakan senam malam" ujar pak Lun. "Paling dek Berlian masuk angin" ujar pak Lun sok tahu.
"Iya dek Varo lebih baik dek Berlian cepat di bawa pulang, kelihatannya dek Berlian sedang kurang enak badan soalnya mukanya terlihat pucat" sambung pa Cul sambil mengamati wajah Berlian.
"Sampai rumah langsung di beri vitamin, pasti langsung sembuh" ucap pak Lun sambil tersenyum ke arah Varo.
"Vitamin apa pak?"
"Seperti dek Varo tidak tahu saja itu dek main jungkat jungkit sambil merem melek, nanti kalau sudah disiram pasti dek Berlian langsung sembuh" ujar pak Lun sambil memainkan alisnya ke arah Varo.
"Lun, ojo mesum, kerja sing benar, kita balik lagi ke pos" ucap pak Cul menarik tangan pak Lun untuk meninggalkan Berlian dan juga Varo.
"Dek Varo sudah sama pulang buruan main jungkat jungkit" teriak pak Lun ketika pak Cul menarik tangannya menjauh dari Varo dan juga Berlian.
"Cangkemu iku loh tak lakban mengko, menengo!"
"Iyo" ucap pak Lun singkat dan mengikuti kembarannya menuju ke arah pos jaga.
"Kenapa kamu duduk lagi?, ayo kita pulang" ajak Varo saat melihat Berlian duduk lagi di bangku taman.
"Kamu lihat itu?" tanya Berlian sambil menunjuk kerumunan buah mangga yang berada di atas pohon tidak jauh dari tempat Berlian dan Varo, yang terlihat menggiurkan untuk Berlian.
"Mangga?"
"Iya"
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Untuk memukul kepalamu ini" ujar Berlian sambil memegang kepala Varo sambil tersenyum manis kerah Varo. "Jelas saja aku ingin memakannya, kenapa kamu masih bertanya."
"Ya sudah kita beli saja di toko buah" ujar Varo sambil menarik tangan Berlian untuk beranjak dari tempat duduknya.
"Tidak, aku mau yang itu, hanya yang itu titik" ujar Berlian sambil melepas tangannya dan tetap menunjuk buah mangga yang berada di atas pohon.
"Berlian mataku, itu milik orang, lagian itu belum matang pasti rasanya akan masam, aku tidak mau kamu makan yang asam-asam"
"Memang aku ingin yang rasanya masih masam, aku ingin memakannya sekarang juga, Varo aku mohon petikkan untukku ya" pinta Berlian sambil memelas ke arah Varo.
"Tapi kamu sedang kurang enak badan Berlian Ayunda"
"Varo, aku mau yang itu titik, kalau tidak aku tidak akan mau memberikan servis plus-plus kepadamu nanti"
"Iya, iya, aku petikan" ujar Varo yang langsung menuju pohon mangga yang berada di halaman rumah orang yang terlihat tidak berpenghuni yang berada tepat di samping taman.
"Terima kasih" ujar Berlian yang langsung mengikuti Varo.
"Tidak mau hanya kamu yang harus memetiknya" ucap Berlian dengan kesal.
"Berlian aku takut" ucap Varo.
"Ha ha ha cemen begitu saja takut om"
"Iya cemen"
"Impor cemen, ha ha ha ha" ujar anak-anak yang sedang bermain bola.
"Tuh dengerin, di katain kan sama akan kecil, sudah sana naik" ujar Berlian sambil mendorong tubuh Varo untuk naik keatas pohon mangga.
"Naik"
__ADS_1
"Naik"
"Naik" ujar anak-anak sambil bertepuk tangan membuat sebagian orang yang berada di taman langsung berkumpul di bawah pohon mangga tersebut.
"Ayo impor kamu pasti bisa, jangan bisanya naik yang lain" ujar salah satu ibu-ibu yang ikut berkumpul menyemangati Varo, membuat Varo langsung mangangakat jarinya membentuk huruf o sambil tersenyum kepada ibu yang menyemangatinya.
"Doain aku ya" ujar Varo sambil mencium singkat bibir Berlian dan langsung menadahkan kedua tangannya untuk berdoa tepat sebelum dirinya naik keatas pohon.
"Dasar impor mesum, banyak anak-anak disini" ucap salah satu ibu-ibu ketika Varo mencium bibir Berlian.
"Bukan mesum bu tapi penambah energi" ujar Varo setelah selesai berdoa dan tersenyum kearah ibu tersebut dan langsung naik keatas pohon, walaupun terlihat jelas kalau Varo gemetar membuat ibu-ibu dan juga anak-anak yang berada dibawahnya langsung tertawa kencang.
"Berlian aku dapat" ucap Varo ketika sudah memetik satu buah mangga di tangannya. "Semut, semut, semut," teriak Varo dan dirinya langsung menghindar tapi naas Varo langsung terpeleset dari batang yang menumpunya.
"Hati-hati"
"Awas"
"Awas om" teriak Berlian dan juga yang lainnya bersamaan saat Varo terpeleset.
"Ach……juniorku" ucap Varo sambil memegangi juniornya saat dirinya terpeleset dan terjatuh di batang pohon dengan juniornya yang mencium batang pohon terlebih dahulu.
"Tidak singkong bakar jumboku" ujar Berlian sambil menutup matanya dengan kedua tangan.
"Tong………tong……….tong…….." suara kentongan yang dipukul nyaring membuat semua orang yang berkumpul di bawah pohon mangga langsung bubar menyisakan Berlian dan juga Varo yang masih meringis kesakitan sambil memegangi juniornya di atas pohon mangga.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...................