
"Aduh,"
"sayang…"
"Mommy, ada apa?" tanya Varo memotong perkataan Veronica yang langsung menghampiri Berlian yang sedang memegangi perutnya.
"Sayang kamu kenapa," sambung Veronica begitu kuatir.
"Aku lapar," ucap Berlian sambil tersenyum membuat Varo langsung mencubit hidung Berlian dengan gemas, begitupun dengan Veronica yang langsung menghembuskan nafasnya lega.
"Mamah kira kamu kenapa, sudah sana makan dulu," perintah Veronica membuat Berlian dan juga Varo langsung meninggalkan ruangan tersebut.
"Nyonya…"
"Jangan katakan apapun lagi, semua gaun yang berada di sini aku beli," ujar Veronica memotong perkataan desainer tersebut.
"Terima kasih," ujar desainer tersebut sambil tersenyum senang.
"Mommy, kamu membuat aku kuatir saja," ujar Varo setelah sampai meja makan dan langsung menarik kursi untuk Berlian duduk.
Dan dengan sigap Varo langsung mengambil makanan yang sudah tersaji diatas meja makan, dan langsung menyuapi Berlian.
"Varo aku bisa makan sendiri,"
"Tidak usah banyak bicara, kamu cukup diam dan menerima suapan dariku ok mommy," ucap Varo yang langsung mendapat anggukan dari Berlian.
"Oh ya Varo, mending kita batalkan saja acara resepsi itu,"
"Kenapa harus dibatalkan?"
"Kamu tahu sendiri aku sedang mengandung dan kandungan aku sudah memasuki usia lima bulan, malu dilihat orang masa resepsi mempelai wanitanya sudah buncit seperti ini," ujar Berlian sambil mengelus perutnya.
"Malu kenapa?"
"Ya malu saja nanti dikira hamil diluar nikah,"
"Tapi kenyataannya tidak kan?"
"Iya sih,"
"Ya sudah ayo habiskan makannya, aku sudah membuat janji dengan dokter Fitri kalau hari ini kamu akan memeriksakan keadaan baby twins,"
"Astagfirullah aku sampai lupa, terima kasih daddy Varo," ujar Berlian sambil membelai wajah Varo.
"Cuma begitu saja?"
__ADS_1
"Terus?" tanya Berlian membuat Varo langsung memonyongkan bibirnya ke arah Berlian.
"Nih makan," ujar Veronica sambil menyumpal bibir Varo dengan potongan buah saat Varo akan mencium Berlian. "Tidak ada bosan-bosannya yah, kalian baru melakukan pergulatan. Belum puas apa udah mau nyosor saja," ujar Veronica lagi dan dirinya langsung ikut duduk bergabung dimeja makan.
"Ah mamah mengganggu saja," ucap Varo sambil mengunyah potongan buah yang berada di dalam mulutnya.
"Oh ya sayang, Berlian kan sudah tidak harus beristirahat total lagi, jadi resepsi nya segera dilaksanakan ya?" usul Veronica pada Varo.
"Kalau menurut aku sih mah mending acara resepsi nya diadakan ketika usia kandungan Berlian menginjak tujuh bulan, bagaimana menurut mamah?" tanya Varo dengan serius.
"Ok mamah setuju, mamah ke kamar dulu untuk istirahat ya sayang," ucap Veronica sambil mencium pipi Berlian di lanjut mencubit pipi Varo.
"Mamah curang, Berlian di cium aku dicubit," ucap Varo yang langsung mendapat juluran lidah dari Veronica yang langsung menuju kamarnya.
*
Tangan Berlian dan juga Varo saling bertautan dan sesekali Varo mencium punggung tangan Berlian dan bergantian mencium perut buncit Berlian saat keduanya sedang menunggu antrian yang berada di bangku tunggu di depan ruangan dokter Fitri. Sebenarnya dokter Fitri menyuruh keduanya untuk langsung masuk tidak usah mengambil nomor antrian. Tapi Berlian melarang Varo, saat masih banyak orang yang menunggu, Berlian tidak ingin terulang lagi kejadian beberapa waktu lalu terakhir Berlian dan juga Varo memeriksakan kandungannya.
Mata semua pengunjung yang sedang menunggu di ruang tunggu tertuju pada Berlian dan juga Varo yang begitu romantis membuat iri semua yang sedang menatapnya. Hingga keduanya dipanggil oleh suster jaga yang berada di depan ruangan dokter Fitri.
"Selamat datang pasangan yang selalu saya nanti-nanti, silahkan duduk," ujar dokter Fitri mempersilahkan Varo dan juga Berlian duduk saat keduanya sudah masuk kedalam ruangan dokter Fitri.
"Terima kasih dok,"
"Bagaimana dengan keadaan bu Berlian? Baik-baik saja bukan?"
"Maaf," ujar dokter Fitri setelah menutup ponselnya dan dirinya langsung memeriksa Berlian.
"Syukurlah semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikuatirkan, kedua baby yang berada di dalam mengalami pertumbuhan yang begitu signifikan dan semuanya sempurna, apa ada keluhan lain bu Berlian?" Tanya dokter Fitri setelah selesai memeriksa Berlian.
"sejauh ini tidak ada dok,"
"Bagus kalau begitu, berarti nutrisi yang diberikan pak Varo luar biasa bagusnya," ujar dokter Fitri sambil berjalan menuju meja kerjanya.
"Jangan memancing dok, nanti jiwa jomblo dokter meronta-ronta, dan aku juga yang akan disalahkan dokter," ujar Varo dan langsung duduk di kursi depan meja kerja dokter Fitri. Tapi tidak ada tanggapan dari dokter Fitri yang hanya tersenyum-senyum sendiri.
"Ini resep vitamin yang harus ibu Berlian minum," ucap dokter Fitri sambil menyodorkan kertas resep kahadapan Berlian.
"Oh ya bu Berlian rencana ingin melahirkan dengan cara apa nih, normal atau cesar?"
"Yang terbaik saja dok untuk istriku, dan tidak melukai lubang donat istriku dok," ucap Varo dengan antusias.
"Bila tidak ingin melukai lubang donat salah satunya dengan cara cesar,"
"Tidak apa-apa dok cesar saja,"
__ADS_1
"Varo kamu tidak bisa seenaknya sendiri, aku ingin melahirkan dengan cara normal titik," ucap Berlian dengan penuh penekanan.
"Cesar saja mommy agar tidak melukai lubang kamu, agar ukurannya tidak berubah longgar karena mengeluarkan baby twins,"
"Varo aku mau normal!"
"Cesar,"
"Normal,"
"Mommy,"
"Daddy,"
Ucap keduanya saling bersahutan dan keduanya langsung berhenti saat ada seseorang yang masuk kedalam ruangan kerja dokter Fitri.
"Oh my honey, akhirnya kamu datang juga, aku sudah menantikan kehadiranmu," ujar dokter Fitri pada laki-laki yang masuk kedalam ruanganya, dan dengan segera dokter Fitri langsung mel*mat bibir laki-laki tersebut. Membuat Berlian dan juga Varo saling menatap tidak percaya pada apa yang sedang dilihatnya. Pasalnya laki-laki impor tersebut terlihat jauh lebih muda dibanding dokter Fitri.
"Oh ya saya tinggal terlebih dahulu ya," ujar dokter Fitri pada Berlian dan juga Varo yang sedang menatap dokter Fitri, sambil melepas jaket kerjanya dan langsung mengambil tas nya. "Saya ingin mencoba terong impor dulu, untuk mencocokan pas atau tidak di lubangku," ujar dokter Fitri yang langsung pergi keluar dari ruangan nya menyisakan Berlian dan juga Varo di dalam yang masih terheran-heran.
"Mommy?"
"Iya,"
"Sepertinya kita salah memilih dokter kandungan,"
"Sepertinya begitu,"
"Maaf bu, pak begitulah dokter Fitri, tapi tenang saja dokter Fitri sangat profesional," ucap salah satu suster yang tiba-tiba masuk kedalam ruang kerja dokter Fitri.
"Professional macam apa? Kita saja ditinggal disini,"
"Dia sudah kebelet pak, maklumi saja sudah lama lubangnya nganggur, dan dokter Fitri maunya hanya dengan impor yang katanya panjang dan besar," ucap suster tersebut sambil tersenyum. Membuat Varo dan juga Berlian hanya saling pandang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sepertinya semua tokoh novel di cerita kita di bikin somplak semua sama author mommy,"
"Iya, apa jangan-jangan author nya juga…"
"Sssttt diam nanti author dengar…"
Dua bulan kemudian
*
*
__ADS_1
*
Bersambung..............