
Sementara itu di dalam kamar, Sabila hanya mondar-mandir kesana kemari membuat mata Berlian mengikuti kemana Sabila bergerak.
"Sabila bisa diam tidak, kepalaku jadi pusing melihatmu tidak bisa diam seperti setrikaan laundry yang sudah lapuk" ucap Berlian kesal membuat Sabila langsung duduk diatas ranjang dimana Berlian berada. "Kamu tidak pernah bercerita bila kamu akan menikah dan aku………."
"Aku juga terkejut karena ibu baru memberi tahu kemarin, dan aku lebih terkejut lagi laki-laki yang dijodohkan oleh ibu itu adalah Malik, dan aku baru mengetahuinya tadi", jelas Sabila memotong perkataan Berlian.
"Terus?"
"Terus bagaimana, tadi aku dan juga Malik pergi ke KUA mengantar berkas-berkas yang diperlukan untuk aku menikah seminggu lagi"
"Apa seminggu?" tanya Berlian terkejut.
"Iya" jawab Sabila dengan lemas.
"Kenapa kamu terlihat bersedih begitu?"
"Bagaimana aku tidak bersedih, aku masih memiliki kekasih, dan aku harus menikah dengan Malik seminggu lagi"
"Apa kekasihmu tahu?"
"Aku sudah memberi tahu tapi dia tidak percaya" jelas Sabila sambil menyandarkan kepalanya di dipan tempat tidurnya.
"Kenapa kamu menerima perjodohan dengan Malik, kalau kamu sudah memiliki kekasih?"
"Aku tidak tega menolak kemauan ibu, karena ibu sudah menyuruh kekasihku untuk menikahiku tapi kekasihku belum siap, maka dari itu ibu memaksa aku menikah dengan Malik, anak dari sahabat baik ibu" jelas Sabila sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Hai ibu guru, jangan seperti itu kalau anak muridmu melihat gurunya seperti ini pasti mereka mengira gurunya orang yang tidak waras"
"Astagfirullah, tega sekali dirimu mengataiku" ujar Sabila sambil memukul lengan Berlian. "Berlian maaf yah, aku harus menikah dengan Malik laki-laki yang pernah kamu cintai"
__ADS_1
"Itu dulu, tapi tidak untuk sekarang karena sekarang laki-laki yang aku cintai dan mengisi seluruh hidupku hanya Varo suamiku" ujar Berlian sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Dasar bucin" ucap Sabila sambil mendorong tubuh Berlian.
"Aku pastikan kamu juga akan merasakan yang namanya bucin akut, kalau kamu sudah makan singkong bakar, yang membuat kamu merem melek merasakan kenikmatan yang tidak bisa kamu cari dimanapun" ujar Berlian sambil tersenyum membayangkan betapa nikmatnya singkong bakar jumbo milik Varo yang membuat dirinya bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa bila sudah memakannya.
"Istighfar masih siang, jangan membayangkan yang tidak-tidak" ujar Sabila sambil menoyor kepala Berlian agar tersadar dari pikiran kotornya yang selalu memenuhi pikirannya semenjak menikah dengan Varo.
"Aku pastikan kamu juga akan merasakan apa yang aku rasakan, apa lagi Varo dan juga Malik masih bersaudara, aku pastikan anunya sebelas dua belas dengan milik suamiku yang bisa membuat merem melek uuu lalala,"
"Berlian……" teriak Sabila sambil menggeleng gelengkan kepalanya dan menyusul Berlian yang sudah keluar dari kamar Sabila.
Bugh……bugh…… Bugh…. Seseorang memukul Varo berkali-kali membuat Varo langsung jatuh tersungkur ke lantai.
"Dasar laki-laki tidak tahu diri, wanitaku kamu ambil paksa dariku, kamu tahu dia masih memiliki kekasih, seharusnya kamu cari wanita lain, jangan merebut punya orang" ucap laki-laki tersebut sambil memegang erat kerah kemeja yang Varo kenakan.
"Apa mungkin Berlian masih memiliki kekasih, aku tidak akan membiarkan itu terjadi" gumam Varo dalam hati sambil mengerutkan kedua alisnya mendengar perkataan laki-laki tersebut.
"kurang ajar………"
"Varo……."
"Hari……."
Ucap Sabila dan juga Berlian bersamaan saat Varo dan juga hari kekasih Sabila akan beradu jotos membuat keduanya langsung menatap kedua wanita yang menghampirinya dan keduanya langsung menurunkan tangannya masing-masing.
"Apa yang kamu lakukan hatiku?, kenapa kamu terluka?" tanya Berlian ketika sudah menghampiri Varo sambil memegang bibi Varo yang terluka akibat pukulan dari Hari.
"Ini semua gara-gara kekasih kamu ini" ujar Varo sambil menunjuk Hari di depannya membuat Berlian langsung tertawa. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Varo ketika Berlian tiba-tiba tertawa.
__ADS_1
"Kamu tahu siapa kekasih aku?"
"Siapa?"
"Hanya kamu seorang hatiku"
"Terus siapa dia mengaku-ngaku kekasih kamu?" tanya Varo membuat Berlian langsung mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Dia Hari kekasih aku" sambung Sabila membuat Sabila langsung menarik tangan Hari untuk keluar dari rumahnya.
"Apa sakit hatiku?" tanya Berlian sambil memegangi bibir Varo, ketika Sabila dan juga Hari sudah keluar rumah.
"Tidak" ucap Varo singkat sambil mengelus pipi Berlian. "Hanya saja aku tidak bisa memberi kenikmatan untukmu dengan bibirku ini mataku" ucap Varo lagi sambil tersenyum manis walaupun bibirnya terluka.
"Kan masih ada singkong bakar jumbo yang bisa membuat diriku, merem melek merasakan kenikmatan" ucap Berlian sambil membelai wajah Varo dan tersenyum menggoda.
"Singkong bakar jumbo?" tanya Varo bingung.
"Iya ini" ucap Berlian sambil memegang junior Varo.
"Mataku………….."
*
*
*
Bersambung................
__ADS_1
Like, komennya jangan ketinggalan 😘😘😘😘😘