Kesucian Wanita Malam

Kesucian Wanita Malam
BAB 119 Kontraksi


__ADS_3

"Ada apa mommy? Kenapa kamu meringis kesakitan seperti ini?" tanya Varo yang langsung menghampiri Berlian dan dirinya mengurungkan kembali untuk memanggil WO. 


"Tidak, tadi perutku terasa sakit tapi sekarang sudah tidak lagi," ucap Berlian sambil tersenyum dan dirinya langsung berdiri dengan dibantu Varo, saat sesi berjabat tangan dengan kedua pengantin akan segera dimulai. 


"Aduh, sakit lagi Varo," ujar Berlian sambil mencengkram lengan Varo membuat Varo langsung panik. 


"Kalau begitu kita kembali saja ke kamar hotel, biar mamah dan papah yang bersalaman dengan para tamu undangan,"


"Sudah tidak sakit lagi,"


"Baby twins jangan membuat mommy sakit lagi ya?" ujar Varo sambil mengelus perut Berlian. 


"Ach Varo, sakit," keluh Berlian lagi sambil menarik jas yang dikenakan oleh Varo, membuat Veronica dan juga Iskandar langsung menghampiri Berlian.


"Sayang ada apa?" 


"Ada apa ini?" tanya Veronica dan juga Iskandar bergantian. 


"Mah, perutku kadang-kandang sakit dan tiba-tiba hilang, kenapa ya mah?" 


"Jangan-jangan kamu mau, ach tidak mungkin usia kandungan kamu kan baru tujuh bulan," ucap Veronica sambil mengingat sesuatu.


"Aduh mah sakit lagi," 


"Bentar-bentar ada dokter Fitri di sini biar aku panggil dulu ya mommy," ucap Varo yang langsung mendapat anggukan dari Berlian, dan dengan segar Varo menghampiri dokter Fitri yang kebetulan menghadiri acara resepsi Berlian dan juga Varo.


"Dok boleh ikut denganku sebentar?" tanya Varo saat dirinya sudah mendekat ke arah dokter Fitri yang sedang duduk di kursi VVIP bersama dengan kekasih barunya. 


"Jangan merayu saya, saya sudah menemukan terong impor yang cocok dan pas di lubangku, kamu dulu diajak mengunjungi lubang saya tidak mau, dan sekarang giliran saya sudah menemukan terong impor yang cocok, kamu mau merayu maaf ya…"


"Dokter!" bentak Varo membuat dokter Fitri dan juga pasangannya begitu terkejut, dan dengan segera Varo langsung menarik tangan dokter Fitri ke panggung pelaminan diikuti oleh kekasih dokter Fitri dari belakangnya. 


"Maaf dok, aku sudah membentak dokter, tapi istri saya sedang kesakitan coba dokter periksa keadaan istriku," ucap Varo ketika sudah berada di panggung pelaminan yang sekarang sedang menjadi tontonan para tamu undangan yang ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. 


"Kenapa tidak bilang sejak tadi?" 


"Dokter saja yang mengajak aku bercanda," 


"Baik-baik maafkan saya, dan sekarang kalian tenanglah, biar saya memeriksa ibu Berlian," ujar dokter Fitri yang langsung mendekat kearah Berlian yang sedang menahan sakit dengan keringat yang sudah bercucuran, dan dengan segera Varo langsung mengelap nya. 


"Tenang bu Berlian, saya akan memeriksanya…"


"Suruh tenang bagaimana, istri saya sudah kesakitan begini?" sambung Varo memotong perkataan doktet Fitri, membuat Veronica langsung memegang bahu Varo saat Veronica berdiri di belakang Varo. 


"Sayang tenangkan dirimu?" 

__ADS_1


"Bagaimana aku mau tenang, melihat Berlian kesakitan," ucap Varo kencang membuat Berlian langsung membekap mulut Varo. 


"Berisik…" teriak Berlian pada Varo. 


"Maaf mommy," 


"Wah sepertinya baby twins ingin segera melihat dunia," ujar dokter Fitri sambil tersenyum, membuat semuanya yang mendengar langsung terkejut pasalnya usia kandungan Berlian baru memasuki usia tujuh bulan. 


"Dok apa yang dokter katakan, usia kehamilan menantu saya baru memasuki usia tujuh bulan loh dok?" tanya Veronica penasaran. 


"Tidak masalah, tujuh bulan juga sudah bisa untuk melahirkan seperti ibu Berlian ini, apalagi ibu Berlian mengandung bayi kembar, nanti saya akan jelaskan. Yang terpenting segera bawa ibu Berlian ke rumah sakit, aku akan menunggunya disana," ujar dokter Fitri yang langsung meninggalkan tempat acara. 


Dan dengan seketika acara resepsi pun menjadi riuh karena kedua mempelai, Veronica dan juga bibi Ami, pergi dari tempat acara menuju rumah sakit. Menyisakan Iskandar yang langsung bisa mengatasi semua, dan acara pun dilanjutkan tanpa adanya kedua mempelai. 


Didalam mobil mewah menuju rumah sakit Berlian masih bisa menahan rasa sakitnya dengan mengontrol pernafasan, seperti dokter Fitri ajarkan kepadanya setiap kali Berlian berkonsultasi. 


"Mommy, apa masih sakit?" 


"Sedikit," ujar Berlian sambil tersenyum. 


"Baby twins jangan membuat mommy kesakitan lagi ya? Jadi anak yang pintar sebentar lagi kalian akan bertemu dengan daddy," ujar Varo sambil mengelus perut Berlian diakhiri dengan menciumnya. 


"Ach mommy sakit, apa yang kamu lakukan?" tanya Varo saat Berlian menarik rambut Varo ketika dirinya merasakan kontraksi kembali. 


"Sabar sayang," ucap Veronica coba menenangkan Berlian ketika kontraksinya datang dengan teratur. 


"Varo," 


"Ach," teriak Varo saat Berlian menarik rambutnya kembali.


"Mommy?" 


"Varo," 


"Aduh," Varo menahan sakit saat Berlian beralih mencengkram lengan Varo dengan kencang saat Berlian merasakan kontraksi kembali.


"Pak sopir cepat, sepertinya menantu saya ingin segera melahirkan, cepat pak!" perintah Veronica pada supir pribadi yang membawa mobilnya. 


"Oh tidak…jangan lakukan ini mommy," ucap Varo sambil menahan sakit saat Berlian menggigit tangannya. 


"Maaf Varo, aku tidak tahan lagi merasakan sakit ini," ucap Berlian sambil menangis membuat Varo juga ikut menangis.


"Kalian akan segera bertemu dengan anak kalian kenapa kalian malah menangis, Berlian sekarang ikuti mamah, tarik napas dari hidung dan keluarkan dari mulut," 


"Baik mah," ucap Berlian lemas mengikuti apa yang Veronica katakan. 

__ADS_1


"Kenapa kamu masih menangis?" tanya Veronica pada Varo yang masih mengisi. 


"Cukup kali ini aku melihat Berlian yang akan melahirkan, aku tidak tega bila dia harus melahirkan lagi," 


"Benar nih?" 


"Iya mah, kalau aku tidak khilaf,"


Plak 


Tamparan mendarat di pipi Varo saat Berlian merasakan kontraksi kembali dan Varo langsung menangis lebih kencang lagi, membuat Veronica dan juga bibi Ami yang duduk di kursi samping pengemudi langsung tertawa. 


Sesampainya di rumah sakit Varo langsung mengangkat tubuh Berlian menuju ruang bersalin saat dokter Fitri sudah menunggu di ruang bersalin. 


"Sus bantu lepas gaun yang masih melekat di tubuh ibu Berlian!" perintah dokter Fitri. 


"Biar aku saja yang melepasnya," ujar Varo yang langsung membuka gaun pengantin yang masih melekat di tubuh Berlian dan dengan cekatan Varo langsung mengganti dengan pakaian rumah sakit. 


"Dok apa yang dokter lakukan?" tanya Varo saat dokter Fitri menyuruh Berlian untuk membuka kedua pahanya saat Berlian sudah terlentang di ranjang bersalin. 


"Untuk melihat sudah pembukaan berapa," 


"Apanya dok yang dibuka?" 


Bugh 


"Ach, mommy," ujar Varo saat Berlian reflek menendang tubuh Varo saat Berlian merasakan kontraksi kembali. 


"Bagus bu Berlian, hajar terus jangan mau enaknya saja," ucap dokter Fitri sambil tertawa, dan dirinya langsung memeriksa Berlian. 


"Bagus sudah pembukaan delapan, masih ada waktu bu Berlian untuk menghajar suami anda," ucap dokter Fitri setelah selesai mengecek jalan lahir Berlian. Dan dengan segera dokter Fitri langsung duduk kembali di kursi duduknya. 


"Dok kenapa dokter malah bersantai seperti itu, lihat istriku sudah kesakitan begini," ucap Varo dan dirinya langsung meraup wajah Berlian sambil mengelap peluh yang membasahi wajahnya. 


"Sabar mommy, aku disini, kamu boleh melakukan apapun kepadaku, untuk melampiaskan rasa sakitmu," ujar Varo yang langsung menciumi seluruh wajah Berlian dari kening, mata, hidung, pipi diakhiri di bibir ranum Berlian. 


"Oh no!"


*


*


*


Bersambung..............

__ADS_1


__ADS_2