
Plentang…
Garpu melayang tepat mengenai piring yang sedang Varo pegang membuat Varo langsung menatap Veronica sambil tersenyum manis saat Veronica menatap tajam kearah Varo.
"Anak kurang ajar, masa orang tuanya di bilang tidak kasat mata, memang mamah dan papah jurig?"
"Menurut mamah?"
"Kamu lihat saja?" ujar Veronica sambil beranjak dari duduknya menghampiri Varo dan menarik telinga Varo.
"Mommy tolong aku mommy," ujar Varo membuat Berlian hanya tersenyum menatap tingkah konyol suami dan juga ibu mertuanya.
"Kalian ini seperti anak kecil saja, tidak malu dengan Berlian?" tanya Iskandar sambil beranjak dari duduknya dan mengajak Berlian ke ruang tamu saat Veronica masih sibuk dengan telinga Varo.
"Papah mau dibawa kemana istriku?" tanya Varo tapi tidak ada jawaban dari Iskandar yang terus berjalan menuju ruang tamu diikuti oleh Berlian dari belakangnya.
"Mau di isolasi," ucap singkat Veronica asal membuat Varo langsung menyusul Berlian ke ruang tamu setelah Veronica melepaskan tangannya dari telinga Varo, membuat Veronica langsung menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum mendapati anaknya begitu sangat mencintai istrinya, yang tidak pernah terbayang oleh Veronica sebelumnya.
"Papah itu harus izin kepadaku terlebih dahulu kalau ingin membawa istriku, jangan main bawa saja, aku ini suaminya," ujar Varo ketika sudah ikut bergabung diruang tamu sambil menepuk kedua pahanya mengisyaratkan agar Berlian duduk di pangkuannya. Tapi tidak dihiraukan oleh Berlian yang langsung duduk disamping Varo.
"Mommy,"
"Diam!"
"Iya maaf," ucap Varo saat Berlian menatap dirinya dengan tatapan tajam.
"Hahahaha sukurin kamu, makanya jangan suka mengumbar kemesraan di muka umum apalagi di depan mamah kamu. Kamu tahu sendiri pasti mamah kamu juga akan ikut-ikutan kalau kamu sampai memangku Berlian, kamu tahu sendiri tubuh mamah kamu….."
"Sudah seperti molen hahahaha," sambung Varo memotong perkataan Iskandar dan keduanya saling tertawa kencang, berbeda dengan Berlian yang hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Veronica yang baru ikut bergabung sambil membawa secangkir kopi untuk sang suami.
"Tidak ada mah kami hanya……"
"Mereka bilang mamah seperti molen," sambung Berlian membuat Varo dan juga Iskandar langsung menatap Berlian sambil menepuk jidatnya.
"Oh ya berani-berani ya kalian berdua, mau nih kopi mamah campur pake sianida?" ucap Veronica sambil menatap tajam kearah Iskandar membuat Iskandar langsung menarik tangan Veronica.
"Kamu tahu molen itu rasanya manis, gurih enak dan mantap pokoknya, seperti kamu, apalagi bila diisi pisang yang legit seperti pisang papah rasanya akan semakin jos gandos, mau bukti yuk?" rayu Iskandar sambil memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
"Ih papah so sweet banget mamah semakin cinta, ayo buktikan."
"Hei kalian pasangan bau tanah, sudah mesra-mesraannya," ucap Varo membuat Veronica langsung melempar cemilan yang berada di meja ke arah Varo.
"Kurang ajar memang anak satu ini, mamah jejelin sianida baru tahu rasa,"
"Lagian aku dan juga Berlian disuruh kesini untuk apa? mendingan aku dikamar bisa bermain-main uh ah uh ah, dari pada melihat mamah dan juga papah yang membuat mataku sepet,"
"Varo…"
"Sudah, sudah kalian jangan ribut lagi, papah akan berbicara serius kepada kalian," ujar Iskandar yang sudah kembali ke mode on membuat semuanya langsung diam.
"Baiklah karena kalian sudah diam seperti anak ayam yang sudah kenyang…"
"Papah jangan bercanda," sambung Veronica memotong perkataan suaminya.
"Maaf mah tadi masih geser ke mode off sedikit," ujar Iskandar sambil tersenyum. "Baiklah sebelumnya papah ucapkan terima kasih pada kalian yang sudah mau mendengarkan papah bicara ini…"
"Papah bicaranya santai saja jangan seperti guru sekolah dasar yang ingin membagikan rapor," sambung Varo membuat Iskandar langsung menghembuskan nafasnya kasar.
"kapan papah bicaranya? Kalau kalian selalu memotong perkataan papah?"
"Selamat untuk kalian berdua karena kalian akan segera menjadi orang tua dan selamat juga karena kalian akan mempunyai baby twins, dan itu artinya papah akan segera menjadi grandpa," ucap Iskandar dengan begitu senang.
"Sudah itu saja? Ah papah tidak asik kirain ada hal penting, papah mengganggu waktuku saja," ujar Varo sambil beranjak dari duduknya.
"Duduklah dulu. Papah belum selesai berbicara. Apa kamu tidak ingin semua perusahaan papah, papah limpahkan kepadamu. Kalau tidak mau ya sudah sana kembali ke kamar kalian," ujar Iskandar membuat Varo langsung duduk kembali.
"Apa benar yang papah katakan?"
"Untuk apa bohong,"
"Terima kasih pah, tapi…"
"Tapi apa?" tanya Iskandar penasaran.
"Tapi itu tidak perlu pah, aku bisa memberi nafkah kepada istriku dan juga anak-anakku nanti dengan perusahaanku yang aku miliki sekarang ini,"
"Papah mohon kamu jangan menolaknya. Hanya kamu dan juga cucu papah nanti yg berhak mewarisi semua kekayaan papah," ujar Iskandar serius dan keduanya saling terlibat obrolan yang hanya kaum laki-laki mengerti dan pahami. Membuat Veronica langsung mengajak Berlian untuk menuju salah satu ruangan yang cukup besar yang bersebelahan dengan kamar Varo dan juga kamar Berlian.
__ADS_1
"Kamar siapa ini mah?" tanya Berlian penasaran saat Veronica membuka pintu ruangan tersebut.
"Kamu nanti akan melihatnya," jawab Veronica sambil menyalakan saklar lampu di ruangan tersebut membuat Berlian tidak percaya pada apa yang dilihatnya setelah lampu dinyalakan.
"Mamah?"
"Ini semua untuk cucu mamah," ucap Veronica sambil menunjuk semua perlengkapan bayi yang sudah tertata rapi pada tempatnya membuat Berlian langsung menghampiri dan memegang box bayi yang begitu mencolok.
"Mah, proses melahirkan aku masih sangat lama dan aku juga belum tahu baby twins berjenis kelamin perempuan atau laki-laki kenapa mamah sudah memilih warna merah jambu dan juga biru muda?" tanya Berlian sambil memegang box bayi dan menatap keseluruhan ruangan yang didominasi dengan warna merah jambu dan juga biru muda.
"Tidak masalah nanti mamah bisa menggantinya lagi, mamah hanya senang saja dengan warna merah muda dan juga biru muda seperti ini."
"Tapi ini pemborosan mah?"
"Tidak ada kata pemborosan untuk cucu mamah ini," ucap Veronica sambil mengelus perut Berlian yang sudah membesar. "Dan mamah akan melakukan apapun untuk cucu mamah," ucap Veronica lagi sambil membelai pipi Berlian sambil tersenyum.
"Sekali lagi mamah berterima kasih kepadamu sayang, karena kamu sudah mau menjadi istri Varo dan mencintainya dengan tulus hingga kamu bisa merubah Varo. Dan terima kasih kamu sudah memberi cucu kepada mamah," ucap Veronica sambil meneteskan air mata bahagia membuat Berlian langsung menghapus air mata Veronica dan langsung memeluk tubuh Veronica.
"Mamah jangan berkata seperti itu, Allah sudah mengatur kehidupan kita didunia ini," ujar Berlian setelah melepas pelukannya membuat Veronica langsung tersenyum sambil mengangguk.
"Dan sekarang sudah malam, ayo mamah antar kamu ke kamar pasti kamu sudah lelah bukan, dan mamah ingin tidur bersama dengan cucu mamah ini," ucap Veronica sambil mengelus perut Berlian dan keduanya langsung keluar dari ruangan tersebut menuju kamar Berlian.
"Mamah…!"
*
*
*
Bersambung...........
Jangan lupa like, komen nya ya readerku tercinta, biar otor abal-abal ini tambah semangat. Karena tidak lama lagi novel ini bakal berakhir. Pokoknya lopeyu lah untuk reader setiaku yang 😘😘😘😘😘😘
Yuk mampir novel dibawah ini siapa tahu suka 😂😂😂😂😂😂
__ADS_1