
Berlian menatap kesal Varo ketika sedang mengungkung tubuhnya yang sedang tersenyum manis ke arah Berlian, kemudian Varo merapikan rambut Berlian yang berantakan tapi tangan Varo langsung ditepis oleh Berlian, dan Berlian langsung mendorong tubuh Varo membuat Varo langsung merebahkan tubuhnya di samping Berlian, kemudian Varo memeluk tubuh Berlian dengan erat.
"Jangan marah mommy, aku tidak ingin menyakiti baby yang berada didalam sini, bila aku harus menghentak-hentakan tubuhmu dengan kencang" ujar Varo sambil mengelus perut Berlian yang tidak menggunakan sehelai benangpun begitupun dengan Varo, ketika keduanya berhenti sejenak ketika keduanya sedang melakukan hubungan suami istri.
"Please Varo, sekali ini saja, jangan ujungnya saja, rasanya nanggung sekali dan tidak enak."
"Sama dengan apa yang aku rasakan mommy, tapi ini demi baby kita biar tetap aman di dalam sini." ujar Varo sambil mengelus perut Berlian lagi.
"Tapi kalau hanya ujungnya saja kapan akan selesainya, dan kapan kita akan mencapai klimaks kenikmatan Varo, sama saja kamu membuatku lelah." ujar Berlian membuat Varo langsung menangkup wajah Berlian dengan kedua tanganya.
"Baiklah mommy, tapi kalau kamu merasa sakit, kamu langsung bicara ya mommy"
"Ok Varo, cepat lakukan aku sudah tidak tahan lagi."
"Siap mommy, gaskeun." ujar Varo yang langsung mengungkung tubuh Berlian di bawahnya.
"Ach, apa lagi," ucap Varo kesal saat dirinya ingin melaksanakan misinya terhenti ketika ponsel miliknya yang berada di atas nakas tidak berhenti berbunyi ketika ada seseorang yang menghubunginya berkali-kali.
"Angkatlah terlebih dahulu siapa tahu penting," ujar Berlian membuat Varo langsung beranjak dari tempatnya untuk mengangkat ponsel yang berada di atas nakas.
Dan Berlian langsung mengikuti Varo, kemudian dirinya bermain-main di junior Varo yang sudah berdiri tegak dan kokoh, membuat Varo tidak berkonsentrasi saat menerima panggilan telepon, kemudian Varo langsung memeluk tubuh Berlian dengan erat, sambil mel*mat bibir Berlian dengan ponsel yang masih menempel di telinganya, dan langsung melempar ponselnya ke sembarang arah, saat hasrat di tubuhnya tidak bisa ditahan lagi.
"Bagaimana apa yang kamu rasakan, sakit tidak dengan beby kita?" tanya Varo saat keduanya telah selesai berolahraga pagi menyiram pupuk untuk baby mereka yang ada diperut Berlian.
"Tidak, aku masih menginginkannya lagi," ujar Berlian sambil tersenyum kearah Varo yang sedang mengangkat kedua alisnya, mendapati nafsu istrinya yang sekarang bertambah berkali-kali lipat dari biasanya.
"Mommy, sudah aku takut terjadi sesuatu pada baby kita, kita sudah melakukanya lebih dari satu jam, kamu tahu itu mommy, dan aku sedang ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggal mommy, nanti malam kita lakukan lagi," ujar Varo sambil membelai wajah Berlian.
"Varo…………." rengek Berlian sambil memonyongkan bibirnya kesal. "Jangan-jangan, tadi yang menelepon, wanita lainnya, kamu jahat, ingin meninggalkanku hanya untuk wanita lain." ujar Berlian sambil menangis dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangganya, membuat Varo langsung menggeleng-gelengkan kepalanya mendapati emosi Berlian yang akhir-akhir ini menjadi sangat sulit ditebak karena sering sekali berubah-ubah dan sensitif, membuat Varo langsung memeluk tubuh Berlian.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan mommy, itu tidak benar, kamu tahu, kamu itu separuh hidupku, kalau aku meninggalkanmu hanya demi wanita lain, tentu saja aku akan mati mommy, jangan ngambek begitu ya, kamu tahu kata dokter Fitri perasaan wanita hamil itu harus selalu senang mommy."
"Ya sudah, kamu mau menyenangkan diriku bulan?"
"Tentu mommy."
"Aku ingin melakukannya lagi yang seperti tadi," ujar Berlian sambil melepas pelukan Varo.
"Mommy tapi………"
"Ya sudah kalau kamu tidak mau, aku tidak akan melakukannya lagi sampai kapanpun." ujar Berlian kesal memotong perkataan Varo, membuat Varo langsung mel*mat, choco chip yang berada di gunung kembar Barlian tidak peduli lagi dengan apapun, karena Varo juga menginginkanya, dan keduanya langsung melanjutkan pertempuran paginya dengan bermacam-macam gaya, yang sudah mereka kuasai.
"Kenapa mamah harus mengajak bertemu di rumah ini, kenapa tidak di komplek saja agar aku tidak terlalu jauh perginya." ujar Varo ketika sudah sampai di rumahnya.
"Biar Berlian tidak curiga dengan rencana kita dasar bodoh, apa yang ada di otak kamu sih?"
"Sudah jangan banyak bicara, apa yang kamu lakukan tadi membuat kuping mamah kepanasan mendengar des*han kalian dari balik telepon yang tidak kamu tutup, dasar anak tidak tahu diri, kamu tahu papah tidak berada disini kalau mamah pengen mamah tidak ada lawan sayang." ujar Veronica sambil menoyor kepala Varo yang sedang nyengir kuda.
"Kenapa mamah tidak langsung tutup saja teleponnya, lagian mamah mengganggu saja aktivitasku."
"Tapi kamu melakukan dengan pelan-pelan kan?"
"Kepo sekali, nenek-nenek, sudah jangan dibahas lagi nanti kepingin lagi, nanti mamah langsung masuk ke dapur mencari timun, bahaya karena tidak ada lawan, ha ha ha ha" ujar Varo sambil tertawa lepas membuat Veronica langsung memukul lengan putranya.
"Ach……..sakit mah." ucap Varo sambil memegangi lengannya.
"Congormu dijaga, dasar anak tidak tahu diri, perempuan itu bisa menahan, tidak seperti laki-laki tahu,"
"Aku bisa menahan mah, siapa bilang tidak bisa, sudah seminggu aku cuma celup-celup doang, baru tadi doang gas pol." ujar Varo membuat Veronica langsung memukul punggung anaknya.
__ADS_1
"Awas kalau terjadi sesuatu dengan cucu mamah, sudah dibilang di celupin saja, masih saja tidak didengarkan.
"Tenang saja mah, semuanya aman terkendali, oh ya kata mamah tadi ada W.O kemana sekarang?"
"Sudah pulang dari tadi, kamu kelamaan, tapi tenang saja semua sudah di handle W.O, kita tinggal tunggu hari H nya, mudah-mudahan semua berjalan sesuai keinginanmu," ucap Veronica sambil tersenyum.
"Terima kasih mah, aku ingin Berlian selalu mengingat kejutan yang aku berikan untuknya," ujar Varo sambil tersenyum membayangkan kejutan apa yang akan diberikan kepada Berlian.
"Sudah jangan kebanyakan senyum-senyum sendiri, nanti ada orang melihat kamu, disangka kamu tidak waras," ucap Veronica sambil menepuk punggung Varo tapi tidak dihiraukan oleh Varo ketika ponsel Varo berdering dan Varo langsung mengangkat ponselnya.
"Apa!" baiklah bi aku akan segera kesana" ujar Varo sambil beranjak dari duduknya kemudian menutup sambungan teleponnya dan Varo dengan terburu-buru menuju keluar rumah.
"Sayang, ada apa kamu terburu-buru begitu?" tanya Veronica sebelum Varo keluar dari rumah.
"Berlian mah…….."
"Ada apa dengan Berlian?" tanya Veronica sambil berteriak tapi tidak dihiraukan oleh Varo yang sudah keluar rumah dengan tergesa-gesa, Membuat Veronica langsung mengikuti anaknya.
*
*
*
Bersambung.............
Like, komen, bunga, kalo ada bunga deposito😂😂😂😂😂😂😂 otor kurang ajar nih wkwkwkwkwk
Jangan nanyain yang Hot, kalau mau Hot bacanya di atas kompor yang dinyalain ha ha ha, otor mau insaf mau menyambut bulan ramadhan bagi yang menjalankannya, kalau otor khilaf ya tidak tahu juga 😂😂😂😂😂😂😂😂wkwkwkwkwkwk, dasar otor abal-abal ini Kurang ketek 😂😂😂😂😂😂😂😂
__ADS_1