Kesucian Wanita Malam

Kesucian Wanita Malam
BAB 71 Rintihan Kenikmatan


__ADS_3

"Oh tidak bisa mah, kalau aku tidak wik-wik setiap hari rasanya gimana gitu mah, serasa dunia itu hambar" 


"Sayur kali hambar, kamu ada-ada saja sayang, kasihan Berlian kalau setiap hari harus ditindih, bisa gepeng nanti badannya"


"Siapa bilang, setiap hari juga aku yang ditindih olehnya mah, mamah tahu tidak istriku pintar sekali bermain, berkat aku yang mengajarinya" ucap Varo membuat Berlian langsung memukul tangan Varo. 


"Mah jangan dengarkan anak mamah, yang tidak tahu diri ini, tidak tahu apa papah sedang berpuasa, malah dia membuat papah panas saja, ayuk kita tinggalkan mereka semua" ucap Iskandar yang langsung menyingkirkan lengan Varo yang masih berada di bahu Veronica, dan Iskandar langsung berjalan mendahului Varo dan juga Berlian sambil memapah istrinya. 


"kamu itu kalau ngomong tidak disaring, aku kan jadi malu dengan mamah dan juga papah," ujar Berlian sambil menatap Varo membuat Varo langsung memeluk Berlian. 


"Tapi itu kenyataannya kan mataku?, dan aku tahu kamu sangat menikmatinya bila kamu sedang berada diatas tubuhku, aku melihat ekspresi wajahmu yang membuatku menjadi tergila-gila denganmu" ucap Varo sambil melepas pelukannya dan meraup wajah Berlian.


"Ach…….sakit" ucap Varo lagi saat dirinya ingin mencium bibir Berlian. 


"Sudah tahu bibir terluka main sosor aja kaya bebek" 


"Hei kalian lebih cepat sedikit bisa tidak?, jangan bermesraan di tempat umum, kasihan yang masih jomblo tidak ada lawannya masa suruh nahan, menahan itu tidak enak" teriak Iskandar membuat semua orang yang mendengarnya langsung menatap ke arah Iskandar dan bergantian menatap Varo yang menghampiri Iskandar sambil memeluk pinggang Berlian.


"Ini rumah sakit bukan hotel, jangan bermesraan disini kalau mau bermesraan disana tuh kamar mayat yang sepi jangan membuat aku yang jomblo jiwanya meronta-ronta" ujar salah seorang perawat laki-laki saat sedang mendorong brankar melewati Varo dan juga Berlian. 


"Jomblo dilarang berkomentar diem-diem bae, sirik aja, tampang pas-pasan juga" ucap Varo dengan kencang membuat perawat laki-laki tersebut langsung menatap Varo. 


"Tidak apa-apa punya tampang pas-pasan, yang penting jangan seperti dirimu tampang bisa membuat wanita klepek-klepek tapi akhlak nihil menyedihkan sekali, neng cari saja laki-laki yang tidak nihil akhlak seperti impor ini" balas perawat laki-laki tersebut sambil tersenyum sinis ke arah Varo dan langsung pergi menjauh dari Varo. 


"Kurang…………"


"Sudah ini rumah sakit, banyak orang yang melihat kita hatiku" ujar Berlian memotong perkataan Varo untuk menenangkan Varo yang terlihat emosi. 


"Aku ingin tahu siapa pemilik rumah sakit ini?" 

__ADS_1


"Untuk apa?" 


"Ya ingin tahu saja" 


"Aku kira?" 


"Kamu kira aku akan membeli rumah sakit ini, seperti di novel yang sering kamu baca, karena salah satu karyawannya menghinaku begitu?" 


"Iya" jawab singkat Berlian sambil memeluk lengan Varo. 


"Untuk apa, rumah sakit sekecil ini, aku bisa membeli rumah sakit internasional, kalau aku mau" 


"Sombong amat, jadi orang itu tidak boleh sombong, ingat……"


"Iya aku tahu semua harta yang kita miliki hanya titipan Allah dan kita harus membagi pada orang yang kurang mampu, kamu tahu tidak harta yang paling berharga yang Allah titipkan untukku?" tanya Varo sambil berjalan menghampiri Veronica dan juga Iskandar yang sudah masuk kedalam mobil.


"Kamu mataku, dan aku tidak akan membaginya dengan siapapun" ujar Varo sambil memeluk pinggang Berlian dan mencubit gemas hidung Berlian.


"Terima kasih hatiku" ucap Berlian yang langsung balik memeluk pinggang Varo dengan erat. 


Berlian yang sudah sampai rumah Varo langsung merasa takjub dengan besar dan juga megahnya rumah Varo yang baru sekali Berlian datangi, mata Berlian langsung mengedarkan pandangannya keseluruhan penjuru ruangan yang terjangkau matanya, untuk mengagumi keindahan arsitektur bangunan yang begitu mewah, seperti bangunan kerajaan Inggris yang begitu megah. 


"Sekarang ini rumah kamu sayang, ayo kita berbincang di ruang tamu" ujar Veronica sambil menepuk bahu Berlian membuat Berlian langsung mengikuti Veronica. 


"Mamah, mau mamah apakan Berlian awas saja kalau sampai lecet" ujar Varo yang juga ikut bergabung di ruang tamu. 


"Santai saja sayang, mamah tidak akan berbuat macam-macam pada istri kesayanganmu ini, mamah hanya ingin kalian mulai sekarang tinggal disini" ujar Veronica sambil tersenyum dan menggenggam tangan Berlian. 


"Maaf mah…….."

__ADS_1


"Mamah tidak bisa begitu menyuruh aku dan Berlian untuk tinggal disini, aku yang sekarang menjadi imam Berlian aku yang akan menentukan dimana aku dan juga Berlian tinggal" ucap Varo memotong perkataan Berlian. 


"Betul mah, apa yang dikatakan Varo, kita sebagai orang tua tidak bisa memaksa anak kita ingin tinggal dimana, biarkan saja mereka, yang terpenting kita sebagai orang tua harus mendukung anak kita" ucap Iskandar yang sekarang ikut bergabung di ruang tamu. "Kalau anak kita tinggal disini, pasti setiap hari kita akan mendengar rintihan kenikmatan dari kamar anak kita, yang membuat kita langsung teringat lagi masa muda kita" ucap Iskandar lagi dan duduk disamping Veronica.


"Betul kata papah mah, kalian tidak akan bisa menandingi rintihan kenikmatan dari kamarku nanti, kalian kan sudah uzur ha ha ha" ujar Varo sambil tertawa. 


"Kurang ajar anak satu ini, ayo mah kita buktikan pada anak kita ini, kalau kita masih bisa menandingi anak kita, membuat rintihan kenikmatan" ujar Iskandar yang langsung menarik tangan Veronica menuju kamarnya. 


"Awas encok" teriak Varo sebelum Veronica dan juga Iskandar masuk kedalam kamarnya. 


"Terima kasih hatiku, kamu sudah mengerti aku, kalau aku tidak ingin tinggal disini dan aku masih ingin tinggal bersama bibi Ami" ucap Berlian sambil menyandarkan kepalanya di bahu Varo. 


"Hanya terima kasih?" 


"terus?" 


"Yuk kita membuat rintihan kenikmatan, masa kita kalah dengan dua orang paruh baya tadi" ucap Varo yang langsung membopong tubuh Berlian. 


"Varo………."


*


*


*


Bersambung.........


Like, komen ojo lali 😂😂😂😂😂😂😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2