Kesucian Wanita Malam

Kesucian Wanita Malam
BAB 55 Soto Babat


__ADS_3

"Berlian, Varo" teriak ibu-ibu bersamaan membuat Varo dan juga Berlian langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh mereka menghadap ke arah ibu-ibu yang masih duduk manis. 


Varo dan juga Berlian saling menatap tidak percaya pada apa yang dilihatnya, karena ibu-ibu komplek malah tersenyum dan langsung menarik Varo untuk duduk bergabung bersama mereka. 


"Tidak masalah kalau aku harus memasak setiap hari untuk dek Varo yang tampan ini," ujar salah satu ibu-ibu sambil menyuapi makanan kepada Varo dan memegangi wajah Varo, begitupun juga ibu-ibu yang lainnya, bukannya mereka marah malah terlihat senang. Berlian dan juga bibi Ami saling menatap tidak percaya melihat perlakuan ibu-ibu komplek yang tidak seperti dibayangkan oleh Berlian dan bibi Ami sebelumnya, membuat bibi Ami dan juga Berlian langsung menepuk jidatnya masing-masing. 


"Ibu-ibu lihat para suami kalian menuju kemari" bohong Berlian sambil menunjuk keluar pintu membuat ibu-ibu langsung menghambur keluar rumah dan dengan segera Berlian langsung menutup dan mengunci pintu. 


"Kurang ajar dek Berlian membohongi kita" ujar salah satu ibu-ibu ketika sudah berada diluar rumah bu Ami. 


"Bu sedang apa kamu disini?, itu dirumah sedang masak air sampai habis" ucap salah satu suami ibu-ibu komplek, mengurungkan niatnya lagi ketika ingin masuk kedalam rumah bu Ami. 


"Oh ya sebentar sandal ibu ketinggalan" ucap ibu tersebut sambil mengambil sandal yang ketinggalan dan langsung pulang ke rumahnya, dan diikuti ibu-ibu yang lainnya yang juga meninggalkan rumah bibi Ami. 


"Mau-maunya dipegang-pegang wanita yang sudah uzur" ucap Berlian sambil menyantap makanan yang tadi dibawa oleh ibu-ibu. 


"Cie, cie cemburu nih" ucap Varo sambil tersenyum dan menyenggol bahu Berlian dengan bahunya. 


"Varo……aku sedang makan nanti aku tersedak" ucap Berlian saat Varo menyenggol bahu Berlian.

__ADS_1


"Maaf Berlian hatiku, sini aku suapin" ucap Varo yang langsung mengambil alih sendok yang berada di tangan Berlian dan langsung menyuapi Berlian. 


"Berlian mataku, kira-kira aku harus bekerja apa ya?" tanya Varo sambil mengelus elus rambut Berlian, saat Berlian tidur di pangkuan Varo ketika sedang berada di atas tempat tidurnya, membuat Berlian langsung mendongakan kepalanya keatas menatap Varo. "Jangan menatapku begitu, apa kamu ingin siang bolong begini membangunkan juniorku" ucap Varo lagi sambil mencubit hidung Berlian. 


"Jangan mesum di siang bolong" ucap Berlian yang langsung mengangkat tubuhnya dan kemudian duduk bersila menghadap ke arah Varo sambil menyangga dagunya dengan kedua tangannya. "Bagaimana kalau kamu melamar pekerjaan di perusahaan?" tanya Berlian dengan mode serius. 


"Kamu tahu sendiri aku tidak ahli dalam bekerja di kantor, dulu saja……… 


"Karena ahli kamu hanya keluar masuk lubang paralon, sambil memegangi gunung kembar berukuran jumbo dan juga dua roti bantal jumbo milik sekretaris kamu" ucap Berlian memotong perkataan Varo. 


"Apa kamu cemburu?" 


"Tentu saja tidak itu kan dulu, tapi kalau sekarang jangan tanya, kalau kamu masih begitu awas saja aku potong junior kamu dan aku jadikan Balado, ah mantap" ucap Berlian membuat Varo langsung memeluk tubuh Berlian dan merebahkan tubuh Berlian. 


Tautan bibir mereka terlepas saat ada seseorang yang mengetuk pintu rumah bibi Ami dengan kencang sehingga kedengaran sampai kamar Berlian. 


"Siapa, mengganggu saja" ujar Varo. "kamu tetap disini biar aku saja yang membuka pintu" ucap Varo lagi dan dirinya langsung keluar dari kamar. 


"Siapa?" tanya Varo sambil membuka pintu dan langsung tersenyum sinis saat mengetahuinya siapa yang datang mengunjunginya. 

__ADS_1


"Malang sekali hidupmu?" tanya Veronica ketika sudah masuk kedalam rumah bibi Ami dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. 


"Kalau mamah datang kemari hanya untuk menghina kehidupanku maka pulanglah."


"Sombong sekali kamu sekarang semenjak mengenal Berlian si wanita……."


"Stop mah" ucap Varo memotong perkataan Veronica. 


"Siapa yang datang hatiku?" tanya Berlian keluar dari kamarnya dan langsung menghentikan langkahnya saat mengetahui Veronica yang berkunjung kerumahnya. 


"Cih apa tadi, hatiku?, menjijikan sekali, tidak sekalian jantungku, paru-paruku, ginjalku dan sekalian ususku" ujar Veronica dengan sinis mendapati Berlian  memanggil Varo dengan sebutan hatiku. 


"Kenapa mamah menyebutkan itu semua apa mamah ingin makan soto babat?" 


*


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...............


__ADS_2