
"Iya aku juga tahu ini tempat umum mommy. Aku hanya ingin memasang seatbelt mommy," ujar Varo yang langsung memakaikan seatbelt di tubuh Berlian.
"Aku kira kamu akan melakukan disini,"
"Aku masih bisa menahannya mommy tenang saja. Masa aku mau melakukannya disini malu sama si twins didalam sini. Bila daddy nya melakukan hal mesum di tempat umum seperti ini," ujar Varo sambil mengelus perut Berlian.
"Tumben sekali,"
"Tentu, aku tidak ingin anak kita mencontoh daddy nya yang mesum ini,"
"Syukurlah kalau kamu sudah insaf," ujar Berlian sambil mencium singkat bibir Varo yang tepat berada di depannya.
"Terima kasih mommy. Kamu tahu saja kalau aku sedang membutuhkan mood booster," ujar Varo sambil tersenyum dan langsung mel*mat bibir Berlian dan keduanya terlibat ciuman panas untuk beberapa menit. Dan Varo langsung melepas ciumannya saat Berlian memukul punggung Varo saat dirinya sudah kehabisan nafas.
"Maaf mommy, daddy terlalu bersemangat untuk tidak melepas bibir manismu ini mommy," ujar Varo sambil mengusap bibir ranum istrinya. "Ok kita pulang sekarang. Apa kita mampir ke hotel. Rasanya aku sudah tidak tahan lagi mommy untuk menjenguk baby twins," ujar Varo yang langsung memacu kendaraannya meninggalnya parkir rumah sakit.
"Mommy I love you,"
"Iya aku tahu. Sudah berapa kali kamu mengatakannya. Hingga telinga ku sudah bosan mendengarnya," ujar Berlian kesal pasalnya sedari tadi sudah hampir sepuluh kali Varo mengatakannya saat masih berada didalam mobil sambil menciumi punggung tangan Berlian saat tangan kiri Varo tidak lepas dari tangan Berlian dengan tangan sebelah kanannya memegang setir pengemudi.
"Varo?"
"Iya mommy. Ada apa?"
"Lihat," ucap Berlian saat mobil yang dikendarai Varo berhenti tepat di lampu merah. Kemudian Berlian menunjuk kedai bakso yang begitu ramai akan pengunjung yang tidak jauh dari tempatnya berada.
"Terus?"
"Aku ingin makan itu?"
"Tidak boleh. Kamu lihat saja sendiri banyak sekali pengunjung disana. Aku tidak ingin kamu kepanasan dan berdesak-desakan dengan pengunjung lain."
"Tapi aku menginginkannya. Sungguh aku menginginkannya. Boleh ya? Kamu mau baby twins kita nanti kalau sudah lahir jadi ileran gara-gara daddynya melarang mommy nya untuk makan bakso tidak kan?" bujuk Berlian manis membuat Varo langsung menghembuskan nafasnya.
"Mommy kamu tahu, aku sudah tidak tahan untuk mengunjungi baby twins kita,"
"Iya akupun sama, ingin makan singkong bakar jumbo milikmu. Tapi aku menginginkan bakso itu," ucap Berlian sambil menunjuk kedai bakso yang sedari tadi dirinya inginkan.
__ADS_1
"Mommy aku juga punya bakso apa kamu lupa?"
"Tidak aku tidak lupa, tapi itu lain, bakso kamu hanya dua dan hanya bisa aku mainin. Apa mau bakso kamu aku makan juga ha?" tanya Berlian sambil menatap Varo dengan kesal.
"Baik-baik. Kamu boleh makan bakso," tapi kita makannya dirumah ya?"
"Tidak mau. Aku mau makan ditempat titik,"
"Ya sudahlah apa boleh buat kalau ratu sudah memerintah. Bisa-bisa aku tidak bisa menjenguk baby twins,"
"Bagus. Itu tahu," ujar Berlian sambil tersenyum senang membuat Varo langsung memutar arah mobilnya dan langsung menuju kedai bakso yang berada di seberang jalan.
"Sesampainya di kedai bakso Varo langsung memeluk tubuh Berlian dari belakang dan sesekali mencium ceruk leher Berlian. Tidak ingin Berlian bersenggolan dengan siapapun karena padatnya pengunjung kedai bakso tersebut. Membuat orang yang menatap Berlian dan juga Varo langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ini kedai bakso. Bukan tempat memperlihatkan kemesraan kalian," ucap salah satu ibu-ibu yang juga sedang mengunjungi kedai bakso tersebut. Tapi tidak dihiraukan oleh Varo yang masih setia memeluk tubuh Berlian menuju ke dalam kedai untuk mencari tempat duduk.
"Impor kamu punya telinga atau tidak?" tanya ibu tersebut saat Varo tidak merespon ucapan ibu tersebut. Membuat Varo langsung menatap ibu tersebut.
"Ibu berbicara denganku?"
"Siapa lagi disini yang impor kalau bukan kamu!"
"Tidak ada urusan apa-apa hanya saja aku terganggu dengan sikap kalian yang lebay alay,"
"Ibu tidak usah melihatnya. Apa ibu iri? Aku melakukanya dengan istriku mau aku wik-wik disini juga terserah padaku," ucap Varo sambil mengelus-elus pipi Berlian mengunakan punggung tangannya.
"Asu, dancuk, setan, awan-awan yo gawe haredang wong, ora reti opo aku iki rondo," ujar ibu tersebut dan ibu tersebut langsung pergi meninggalkan kedai bakso tersebut.
"Mommy tadi dia bicara apa? Apa itu bahasa planet?"
"Entahlah aku juga tidak tahu," ucap Berlian sambil mengangkat kedua bahunya. Membuat orang-orang yang disekitar Berlian dan juga Varo yang mendengar ucapan ibu tersebut langsung tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mommy itu ada bangku ko………." ucapan Varo terhenti saat bangku kosong yang berada di pojok telah diisi orang kembali.
"Mommy kita pulang saja ya. Lihat saja sudah tidak ada lagi bangku kosong di kedai ini. Atau tidak kita mencari kedai bakso lain,"
"Tidak mau aku mau disini titik tidak pake koma. Mengerti!
__ADS_1
"Iya aku mengerti," ujar Varo sambil tersenyum saat dirinya menemukan ide di kepalanya. "Mommy kamu tunggu disini ya, sebentar lagi kamu akan mendapatkan tempat duduk?" ujar Varo kemudian dirinya langsung pergi meninggalkan Berlian.
"Sudah," ucap Varo saat sudah kembali menghampiri Berlian lagi. "Sebentar lagi kamu akan mendapatkan tempat duduk. Jangankan tempat duduk kita tiduran juga bisa," ujar Varo tapi tidak dihiraukan oleh Berlian karena Berlian sibuk menatap semua orang yang satu persatu meninggalkan kedai bakso tersebut Hingga tidak ada lagi pengunjung yang tersisa dan hanya menyisakan Berlian dan juga Varo.
"Varo kenapa semua pengunjung pergi meninggalkan kedai bakso ini?"
"Tidak tahu," ujar Varo singkat kemudian dirinya langsung mendudukan Berlian dengan pelan. Dan tidak berselang lama berbagai macam bakso yang terkenal di kedai tersebut langsung tersaji di hadapan Berlian.
"Varo kamu tidak salah? Ini banyak sekali," ucap Berlian yang langsung menyantap berbagai macam bakso di hadapannya dengan lahap.
"Sudah Kenyang," ucap Berlian ketika dirinya sudah selesai menyantap lima mangkok bakso sambil mengelus-elus perutnya. Membuat Varo yang sedari tadi sibuk menatap istrinya saat dirinya duduk disamping Berlian tanpa ikut memakan bakso langsung tersenyum sambil ikut mengelus perut Berlian.
"Baiklah sekarang kita pulang," ujar Varo sambil membantu Berlian beranjak dari tempat duduknya.
"Bayar dulu,"
"Sudah beres semuanya," ucap Varo sambil tersenyum ke arah Berlian.
"Varo kenapa kita pulang naik taxi?" tanya Berlian saat Varo mengajak Berlian naik taxi yang sudah berada di depan kedai bakso tersebut.
"Jangan bilang kamu?" tanya Berlian membuat Varo langsung tersenyum sambil mengangguk.
"Varo…………….."
*
*
*
Bersambung...........
***Like, komen, apapun itu yang bikin otor abal-abal ini bahagia 😂😂😂😂😂 😘😘😘😘😘😘
Yuk mampir cerita dibawah ini bagus loh sambil nunggu novel otor UP 😊😊😊😊😊***
__ADS_1