Kesucian Wanita Malam

Kesucian Wanita Malam
BAB 85 Mommy dan Daddy


__ADS_3

"Turun, turun, turun" ujar bapak-bapak yang memukul kentongan dan menggoyang-goyangkan pohon mangga tersebut. 


"Hei, tolong pak tolong, jangan di goyang-goyangkan pohonnya aku takut" ujar Varo yang langsung memeluk erat pohon mangga. 


"Turun tidak!" ucap bapak tersebut sambil menatap Varo yang masih berada diatas pohon dan bertolak pinggang. 


"Iya pak, aku turun tapi jangan………..ach pak ampun" ujar Varo saat bapak tersebut menggoyangkan pohon mangga dengan segera Varo langsung turun. 


"Varo bagaimana keadaan singkong bakar milikku apa baik-baik saja?" tanya Berlian menghampiri Varo yang sudah turun dari pohon mangga sambil meringis kesakitan memegangi juniornya. 


"Ko milikmu,?" 


"Ya jelas milikku, kan masuknya cuma kelobangku bukan" ujar Berlian sambil mengusap peluh yang berada di kening Varo. 


"Iya milikmu, semua yang melekat ditubuh ini, hanya untukmu dan hanya milikmu" ujar Varo sambil tersenyum ke arah Berlian yang juga sedang tersenyum ke arahnya.


Tong…….tong………tong, bapak tersebut memukul kentongan yang berada di tangannya membuat Varo dan juga Berlian langsung menatap bapak tersebut. 


"Sudah bermesraannya, dasar muka beton" ujar bapak tersebut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendapati pasangan yang berada di depannya. 


"Maksud bapak beton apa?, beton nangka?" ujar Berlian ingin tahu. 


"Oh walah pasangan gelo eta, sudah saya tidak ingin bercanda dengan kalian, sekarang saya tanya, itu mangga siapa yang kamu pegang?" 


"Mangga pohon pak" ujar Varo membuat bapak tersebut langsung menatap tajam kearah Varo sambil bertolak pinggang. 


"Memang benar mangga pohon, tapi pohon ini milik siapa?" 


"Tidak tahu pak," jawab Berlian dan juga Varo bersamaan. memang punya siapa?" tanya Varo. 


"Ini pohon mangga punya saya, kenapa kalian mencurinya, kalian tahu pohon mangga ini sudah lama tidak berbuah dan baru kali ini berbuah setelah hampir sepuluh tahun, tega sekali kalian mengambilnya padahal saya ingin menikmati mangga ini hingga matang" ujar bapak tersebut sambil menangis membuat Varo dan juga Berlian saling menatap. 

__ADS_1


"Maaf pak, bukanya saya ingin mencuri tapi saya terpaksa mengambilnya karena istri saya yang menginginkannya." jelas Varo membuat bapak tersebut langsung menangis histeris, dan membuat Varo tidak tega melihatnya, kemudian Varo mengambil dompet yang berada di dalam celananya dan mengeluarkan sepuluh lembar uang lembaran seratus ribuan. 


"Maaf sekali lagi pak, karena sudah mencuri, saya akan membayar buah ini, dan ini uang nya pak, sekali lagi maafkan kami" ujar Varo sambil memberikan uang ke tangan bapak tersebut dan dirinya langsung pergi meninggalkan halaman rumah bapak tersebut sambil menggandeng tangan Berlian. 


"Mudah-mudahan istrinya ngidamnya tidak aneh-aneh" teriak bapak tersebut ketika Varo sudah pergi meninggalkannya. Membuat Varo dan juga Berlian langsung saling menatap. 


"Alhamdulillah, dapat uang cuma-cuma, sering-sering saja mencuri mangga di rumahku, aku akan cepat kaya kalau seperti ini, dasar impor blo'on dikibulin mau saja" ujar bapak tersebut sambil mengipas-kipaskan uang yang Varo berikan kepadanya. 


"Berlian jangan-jangan apa yang bapak tadi bicarakan ada benarnya juga, kalau kamu sedang ngidam, buktinya kamu ingin makan buah mangga muda" ucap Varo saat keduanya menuju ke rumah. 


"Amin ya Allah" ujar Berlian sambil mengelus-elus perutnya dan tersenyum ke arah Varo. "Varo apa yang kamu lakukan?" tanya Berlian saat Varo tiba-tiba membopong dirinya.


"Aku tidak ingin mommy anak kita kelelahan" 


"Jangan berlebihan belum tentu juga……….." ucapan Berlian berhenti saat Varo mencium singkat bibir Berlian. 


Disini Berlian dan juga Varo berada sedang duduk diruang tunggu rumah sakit menunggu nomor antrian ketika keduanya memutuskan untuk mendatangi dokter kandungan untuk memastikan kebenaran Berlian benar hamil atau tidak. 


"Aku hanya ingin merasakan seperti mereka bagaimana rasanya menunggu antrian, ternyata menyenangkan juga" 


"Menyenangkan bagaimana, yang…………"


"Varo tidak usah bicara lagi" ujar Berlian memotong perkataan Varo dan dirinya langsung menyandarkan kepalanya di bahu Varo membuat Varo langsung mengelus-elus rambut Berlian dan mencium singkat pucuk kepala Berlian. 


Varo sudah gelisah dan tidak tenang ingin cepat-cepat mendengar kebenaran setelah Berlian sudah selesai diperiksa. 


"Dok bagaimana………"


"Tenang dulu pak, silahkan duduk dulu, saya akan menjelaskan" ucap dokter Fitri dokter kandungan, memotong perkataan Varo setelah dirinya selesai memeriksa Berlian. 


"Maaf……."

__ADS_1


"Tidak mungkin dok, kami melakukannya setiap hari pagi, siang dan juga malam, tidak mungkin istriku belum mengandung" ucap Varo memotong perkataan dokter Fitri. 


"Seperti minum obat ya pak, hebat sekali" 


"Tentu saja hebat" ujar Varo bangga tapi setelahnya dirinya merasa sedih"


"Kenapa bapak sedih?" 


"Tadi dokter bilang maaf berarti istri saya…….."


"Maaf anda sudah menunggu lama maksud saya pak" ujar dokter Fitri sambil tersenyum. 


"Terus?" tanya Varo sambil mengangkat kedua alisnya kearah dokter Fitri.


"Selamat anda akan menjadi seorang ayah" ucap dokter Fitri membuat Varo langsung menatap Berlian yang berada di sampingnya yang sedang tersenyum kepada dirinya. 


"Jadi kita akan menjadi mommy dan daddy?" tanya Varo pada Berlian membuat Berlian langsung mengangguk. "Terima kasih" ucap Varo yang langsung memeluk Berlian sambil menciumi seluruh wajah Berlian dan berakhir mel*mat bibir Berlian. 


"Khuk…….khuk……..khuk……."


*


*


*


Bersambung...................


**Like, komen, bunga juga boleh 😂😂😂😂😂😂😂😘😘😘😘


Sebelum novel ini tamat otor selingi dengan kisah Malik dan juga Sabila, atau mau di bikin kisah meraka sendiri, kasih komennya ya readers.

__ADS_1


Otor tunggu 😘😘😘😘😘😘**


__ADS_2