Kesucian Wanita Malam

Kesucian Wanita Malam
BAB 112 Makhluk Tak Kasat Mata


__ADS_3

"Ritual khusus?"


"Iya, karena kita belum pernah melakukanya di rumahku."


"Apa itu ritual khususnya?" tanya Berlian penasaran. 


"Mengunjungi baby twins kita," ujar Varo sambil tersenyum manis ke arah Berlian. 


"Varo. Ach geli," ujar Berlian saat Varo memeluk tubuhnya sambil memberi tanda kepemilikan di leher jenjang Berlian. Dan Varo langsung membopong tubuh Berlian keluar dari ruang ganti menuju tempat tidur yang sekarang lebarnya dua kali lipat dibanding tempat tidur Berlian di rumah bibi Ami. 


"Siap-siap baby twins daddy akan mengunjungimu dan memberi nutrisi untuk mu. Agar kamu cepat tumbuh besar dan segera bertemu dengan daddymu ini yang tampannya di atas rata-rata. Kamu pasti bangga jika kamu sudah lahir ke dunia ini mempunyai daddy yang begitu sempurna seperti daddy ini," ujar Varo sambil mengelus perut Berlian saat Berlian tidak menggunakan sehelai benang pun di tubuhnya. 


"Varo! Kenapa kamu menatapku seperti Itu?" tanya Berlian ketika Varo tiba-tiba menatap bagaikan inti Berlian. 


"Sepertinya semak belukar milikmu sudah banyak ditumbuhi rerumputan  yang mulai memanjang. Apa kamu tidak memotongnya?" tanya Varo sambil mengelus semak belukar milik Berlian. 


"Bagaimana aku bisa memotong aku tidak bisa lagi melihatnya tertutup oleh baby twins," ucap Berlian membuat Varo langsung beranjak dari tempatnya tadi saat tidak hentinya Varo menatap semak belukar milik Berlian.


"kamu mau Kemana? Apa kita tidak jadi melakukan ritual khusus,"tanya Berlian penasaran. 


"Tentu jadi, tapi sebelum itu, aku akan membantumu memotong semak belukar terlebih dahulu," 


"Tidak perlu aku bisa kesalon untuk memotongnya," 


"Apa yang kamu katakan tadi? Salon?" tanya Varo membuat Berlian langsung mengangguk. 


"Sungguh tidak bisa, dan aku tidak akan pernah mengizinkan kamu sampai kapanpun, bila barang milikmu ada yang melihat selain diriku," 


"Tapi…" 


"Tidak ada tapi-tapian kamu diam-diam disini aku yang akan memotongnya mulai sekarang ok," ujar Varo dan dirinya langsung menuju kamar mandi untuk mengambil peralatan untuk memotong semak belukar milik Berlian. Tanpa mendengarkan perkataan Berlian. 


"Ayo kita mulai," ujar Varo yang baru keluar dari kamar mandi sambil membawa peralatan yang biasa dirinya gunakan untuk memotong semak belukar miliknya. 

__ADS_1


"Varo geli," ucap Berlian ketika Varo mengelus-elus semak belukar miliknya. 


Brakk…


Varo melempar alat untuk memotong semak belukar ke sembarang arah.


"Kenapa kamu melempar alat itu Varo? Bukannya kamu ingin…" ucapan Berlian berhenti saat Varo tiba-tiba mel*mat bibir Berlian dengan dalam sambil meremas gunung kembar Berlian dan bermain-main di choco chip yang berada di atas gunung kembar Berlian. 


"Aku sudah tidak tahan saat pemilik semak belukar tersenyum menggoda ku mommy," ujar Varo setelah melepas tautan bibirnya sambil tersenyum manis ke arah Berlian. 


"Kamu kira mulut yang bisa tersenyum kepadamu, kamu ada-ada saja kalau berbicara," 


"Memang mulut mommy, tapi mulut yang tidak mengeluarkan suara melainkan mulut yang bisa mengantarkan kita menuju nikmatnya surga dunia," ujar Varo yang langsung memposisikan tubuh Berlian diatasnya ketika dirinya sudah tertidur telentang tanpa mengenakan sehelai benang pun, karena tidak bisa lagi menahan hasrat di dalam tubuhnya yang sudah sulit dikendalikan. 


"Dan mari kita mulai menuju surga dunia, sambil memberi nutrisi untuk baby twins kita," ujar Varo yang langsung memulai aksinya menuju surga dunia. Hingga tidak ada lagi suara yang terdengar digantikan oleh rintihan kenikmatan. 


"Varo?" 


"Lagi, aku masih kurang," ucap Berlian membuat Varo langsung tersenyum dan langsung memposisikan tubuh Berlian untuk melakukan gaya yang aman untuk baby twins saat mereka akan melakukan pertarungan untuk yang kedua kalinya. 


Tok…. Tok…. Tok…… 


"Maaf tuan muda, makan malam sudah siap dan tuan besar ingin menemui kalian," teriak pelayan sambil mengetuk pintu kamar Varo. 


"Iya sebentar lagi kami akan turun, bilang saja dengan papah kalau aku sedang melakukan ritual khusus," ujar Varo dari dalam kamarnya dan dirinya langsung melancarkan aksinya kembali. 


"Selamat malam mah, pah," sapa Berlian sambil menghampiri keduanya yang sudah berada di meja makan saat dirinya dan juga Varo baru turun dari kamarnya. 


"Malam sayang," balas Veronica dan juga Iskandar bersama.


"Maaf terlambat," ujar Berlian lagi dan dirinya langsung duduk setelah Varo menarik kursi untuk Berlian duduk. 


"Iya tidak apa sayang. Mamah tahu ini semua ulah Varo bukan?" 

__ADS_1


"Ko Varo mah, yang disalahkan, kita tuh melakukanya bersama-sama dan menikmatinya bersama-sama, bukan begitu mommy?" sambung Varo bertanya kepada istrinya dan dirinya langsung duduk di kursi. 


"Tapi kamu duluan kan yang memulainya?" 


"Sudah jangan dibahas mah, kamu juga tadi mulai duluan, ingin ikut-ikutan Varo melakukan ritual khusus menyambut kedatangan papah, papah kira apaan eh taunya manjat, manjat," ujar Iskandar membuat Varo langsung tertawa. 


"Berarti kalian? Tapi kenapa kalian sudah berada disini?" Tanya Varo sambil tersenyum jahil. "Pasti langsung encok ya, sungguh kasihan pasangan bau tanah ini hahahahaha," ucap Varo diakhiri dengan tawa yang kencang. 


Plentang…


Veronica melempar sendok ke arah Varo dan tepat mengenai piring yang berada di depan Varo. 


"Kurang ajar anak satu ini, mulutnya tuh harus dilem pakai lem alteco agar bisa diem. Bukanya encok tapi papah kamu tuh, baru juga naik ke atas sebentar langsung loyo auto bikin mamah jadi nanggung kan enakan di papah kamu, mamah dapet mepetnya doang, kamu bayangkan saja," 


"Hahaha sungguh kasihan dirimu mah," ujar Varo sambil tertawa berbeda dengan Berlian yang hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pasalnya dirinya sudah masuk dalam keluarga somplak yang membuat dirinya ikut somplak juga. 


"Sudah jangan dibahas lagi, papah kan jadi malu ada menantu papah disini kalian kalau bicara seperti tidak ada remnya. Lagian papah tuh dari perjalanan jauh masa langsung di suruh naik ke atas, ya tentu saja loyo, harusnya tuh disuruh istirahat bukan disuruh manjat ke atas," jelas Iskandar membuat Veronica cemberut sambil menatap suaminya. "Mari kita mulai makan malamnya, kasihan dengan menantu papah pasti sudah sangat lapar, dan setelah makan malam ada yang ingin papah bicarakan kepada kalian ok," ucap Iskandar lagi dan semuanya langsung menyantap makan malamnya.


Veronica dan juga Iskandar menyantap makan malamnya dengan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Pasalnya bukannya Berlian yang melayani Varo tapi malah sebaliknya Varo yang melayani Berlian seperti melayani seorang ratu, membuat Berlian merasa tidak enak karena terdapat kedua mertuanya yang ikut makan di meja bersama. 


"Varo jangan berlebih, aku tidak enak dengan papah dan juga mamah," bisik Berlian di telinga Varo, ketika Varo sedang menyuapi Berlian. 


"Anggap saja mereka itu makhluk tak kasat mata," bisik Varo sambil tersenyum ditelinga Berlian membuat Berlian langsung mencubit perut Varo. 


Plentang… 


*


*


*


Bersambung............

__ADS_1


__ADS_2