
"Kalian berdua itu biangnya sedeng, sesama sedang jangan saling menjatuhkan" ujar bibi Ami dari belakang Varo dan juga Berlian membuat keduanya yang sedang berjalan sambil berpelukan langsung menengok kebelakang.
"Mamah………"
"Bibi ami…….." ucap keduanya bersamaan saat mereka tahu siapa yang berada di belakang mereka.
"Dari mana saja kalian?" kalian tahu tidak kami berdua merasa kuatir"ujar Veronica sambil bertolak pinggang.
"Dan kenapa kalian berada di rumah sakit selarut ini?" sambung bibi Ami sambil menatap tajam kerah Berlian dan juga Varo.
"Sekarang harusnya aku yang bertanya kepada kalian kenapa kalian berada disini?" tanya Varo balik tidak menghiraukan pertanyaan dari Veronica dan juga bibi Ami.
"Karena kami sedang mencari kalian berdua,?" jelas bibi Ami dengan kesal. "Nak bagaimana dengan keadaanmu?, tadi pak Cul dan juga pak Lun bilang kalian pergi ke rumah sakit jadi bibi langsung menuju ke rumah sakit" ucap bibi Ami sambil mengelus kepala Berlian.
"Iya sayang ada apa denganmu, kamu baik-baik saja kan?" tanya Veronica juga sambil membelai wajah Berlian.
"Minggir semua" ujar Varo sambil menyingkirkan kedua tangan wanita paruh baya yang masih memegang Berlian. "Berlian istriku hanya aku yang boleh menyentuhnya" ujar Varo yang langsung memeluk tubuh Berlian.
"Dasar posesif"
"Iya" ujar Veronica dan juga bibi Ami berbarengan. "Kalian belum memberi jawaban apa yang kalian lakukan selarut ini dirumah sakit?" tanya Veronica penasaran.
"Ini gara-gara terong impor yang tidak sabar ingin masuk lubang donat menul-menul" ucap dokter Fitri yang tiba-tiba muncul dari belakang dan semuanya langsung menatap kearah dokter Fitri. Dan dengan segera dokter Fitri berlaku meninggalkan semuanya tanpa berkata sepatah katapun lagi.
"Dasar kalian, sudah bibi jaga saja kalian bisa lolos, cerdik sekali awas saja nanti bibi ikat kaki kalian berdua,"
"Maaf bi kami tidak bisa menahannya lagi" ujar Berlian sambil tersenyum.
"Begitu saja……….."
"Betul kata mereka, kalau ditahan itu tidak enak bu Mi, seperti bu Mi tidak pernah merasakan, biarkan saja mereka melakukannya yang penting mereka melakukannya dengan pelan-pelan, dan biarkan Varo menyiram, biar cucu kita cepat besar, iya kan sayang?" ujar Veronica bertanya kepada Varo dan juga Berlian.
"Mamah tahu saja, terima kasih sudah pengertian mah" ujar Varo sambil tersenyum.
"Aduh kalian ini semua sedeng, dasar gelo bisa hancur dunia pernovelan kalau tokoh nya seperti kalian semua." ujar bibi Ami yang langsung pergi berjalan lebih dulu meninggalkan semuanya.
Wek………..wek………….wek……………
__ADS_1
Suara berisik dari kamar mandi membangunkan Berlian dari tidurnya, Berlian menatap jam dinding menunjukan pukul lima pagi, tepat dimana biasanya dirinya sudah bangun. Suara dari kamar mandi masih terdengar jelas ditelinga Berlian membuat Berlian langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
"Varo kamukah itu?" tanya Berlian sambil membuka pintu kamar mandi.
"Mommy" ujar Varo yang langsung memeluk tubuh Berlian dengan lemas.
"Ada apa denganmu?, kenapa kamu terlihat lemas begini?"
"Aku sudah muntah beberapa kali mommy"
"Apa kamu sakit?" tanya Berlian sambil menempelkan punggung tangannya di kening Varo.
"Tidak panas, apa kamu salah makan sesuatu yang membuat kamu alergi?"
"Mungkin" ujar Varo membuat Berlian langsung melepas pelukannya.
"Jangan, aku merasa nyaman bila memeluk dirimu mommy"
"Varo kita belum shalat subuh"
"Baiklah ayo"
Saat sudah selesai menjalankan sholat subuh Varo langsung berlari menuju kamar mandi kembali untuk mengeluarkan isi perutnya yang belum terisi apapun, dengan segera Berlian langsung menyusul Varo dan memijat belakang leher Varo untuk membantu Varo mengeluarkan isi perutnya.
"Mommy" ujar Varo lagi sambil memeluk tubuh Berlian.
"Iya, ayo sini anak pintar" goda Berlian saat Varo berada di dalam pelukannya sambil mengelus-elus rambut varo" dan keduanya langsung menuju tempat tidur lagi dengan Varo masih memeluk tubuh Berlian.
"Mau kemana?" tanya Varo saat Berlian beranjak dari tempat tidurnya.
"Membuat sarapan, rasanya aku lapar sekali dan aku ingin makan bubur ayam" ujar Berlian membuat Varo langsung beranjak dari tempat tidurnya.
"Kamu disini saja aku akan membelikannya untuk mu" ujar Varo sambil mendudukan tubuh Berlian diatas ranjang.
"Bukannya kamu……….." ucapan Berlian terhenti saat Varo mencium singkat bibir Berlian, dan Varo langsung keluar dari kamar.
"Aneh sekali ya sudah lah" ujar Berlian sambil berdiri untuk keluar kamar.
__ADS_1
"Nak ada apa dengan Varo?, kelihatan terburu-buru sekali?" tanya bibi Ami saat Berlian menghampiri bibi Ami yang sedang berada di dapur.
"Aku ingin makan bubur ayam bi"
"Oh….. Baby yang berada dikandunganmu pasti baik-baik saja kan?, karena semalam kamu tidak melakukan senam malam bukan, soalnya bibi tidak mendengar suara misterius dari kamarmu seperti biasanya.
"Apa yang bibi bicarakan?"
"Jangan malu-malu, bibi sudah hafal, hanya malam ini saja bibi tidak mendengar suara misterius itu dari kamarmu"
"Bibi kira aku demit yang mengeluarkan suara misterius ada-ada saja" ujar Berlian membuat bibi Ami langsung tertawa kencang.
"Mommy" ujar Varo sambil tersenyum ke arah Berlian ketika sudah masuk kedalam rumah menuju dimana Berlian berada sambil mengangkat kedua tanganya yang membawa kantong plastik yang berisi bubur ayam.
"Varo, apa yang kamu lakukan?, tanya Berlian saat Varo membeli sepuluh bungkus bubur ayam.
"Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya membeli bubur ayam untukmu dan juga baby kita biar kamu dan juga baby sehat dan cepat tumbuh besar" ujar Varo sambil menaruh bubur ayam diatas meja kemudian Varo langsung mencium perut Berlian. "Makanlah" ujar Varo lagi sambil mendudukan Berlian di kursi sambil membuka satu persatu bungkusan bubur ayam.
"uwek……….uwek………..uwek…………." suara yang keluar dari mulut Varo, saat Varo membuka bungkusan bubur ayam membuat Varo langsung menutup hidungnya.
"Jangan dimakan, baunya sungguh tidak enak aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu dan juga baby kita mommy " ujar Varo sambil menyingkir kan bungkusan bubur ayam menjauh dari hadapan Berlian.
"Apa yang kamu lakukan, namanya bubur ayam memang baunya seperti ini lezat sekali" ujar Berlian sambil mengambil bungkusan bubur ayam dan langsung melahapnya, membuat Varo langsung berlari menuju kamarnya untuk mengeluarkan isi perutnya yang belum terisi apapun.
"Ada apa dengannya?" tanya bibi Ami saat Varo sudah masuk kedalam kamar.
"Sepertinya Varo alergi makanan bi" ujar Berlian sambil melahap bubur ayam yang berada di depannya, membuat bibi Ami langsung menggeleng-gelengkan kepalanya saat Berlian sudah makan tiga bungkus bubur ayam. "Jangan heran begitu bi sekarang aku makan untuk dua orang dan aku juga butuh energi" ujar Berlian sambil tersenyum ke arah bibi Ami, kemudian Barlian beranjak dari duduknya.
"Energi, awas saja kalau pagi-pagi kalian sudah mencemari telinga bibi dengan suara misterius dari kamar kalian" ujar bibi Ami saat Berlian menuju kamarnya.
"Tenang saja bi aku akan menutup mulutku ha ha ha" ujar Berlian sambil tertawa.
"Dasar demit gelo" ujar bibi Ami sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung....................