
"Astagfirullah hal azim nikmatnya dunia ini" ujar pak Lun yang sudah berada didepan pintu kamar Berlian yang tidak tertutup sambil membawa bungkusan makanan di tangannya dan tangan satunya menutup wajah tapi masih mengintip dari sela-sela jari, mendapati pemandangan yang menggugah hasratnya, membuat Berlian langsung melepas tautan bibirnya dari bibir Varo dan dengan segera Varo membalik tubuh Berlian yang masih berada diatasnya dan menyelimuti tubuh Berlian saat tidak ingin ada orang lain melihat gunung kembar Berlian selain dirinya saat baju yang digunakan Berlian sudah tidak utuh lagi.
"Mengganggu kenikmatan saja, pergi sana" ujar Varo menghampiri pak Lun sambil mengambil bungkusan yang berada di tangan pak Lun, dan menyuruh pak Lun untuk pergi dari rumah bibi Ami.
"Maaf dek Varo saya tidak melihat apa-apa tadi" ucap pak Lun sambil tersenyum. "saya permisi dulu teruskan saja menikmati kenikmatan dunia" ujar pak Lun lagi tapi tidak dihiraukan olah Varo yang mendorong tubuh pak Lun keluar dari rumah bibi Ami.
"Sial sudah berapa kali juniorku harus menahannya" ujar Varo sambil mengunci pintu dan kembali ke kamarnya.
"Bojoku aku arep muleh, wes ora tahan iki" ujar pak Lun sambil berlari ketika sudah keluar dari halaman rumah bibi Ami.
"Mataku kamu berada dimana?" tanya Varo ketika dirinya sudah masuk kedalam kamar dan tidak mendapati Berlian berada di dalam kamar, Varo coba mencari dikamar mandi tapi juga tidak ada Berlian.
"Berlian mataku…….." teriak Varo sambil keluar dari kamar.
"Iya Varo hatiku, aku sedang berada di dapur," ujar Berlian dari dapur membuat Varo langsung menyusul Berlian.
Varo menatap heran Berlian saat dirinya sudah berada di meja makan yang menyatu dengan dapur mendapati Berlian sedang makan dengan bungkusan coklat tanpa beralaskan piring dan tanpa menggunakan sendok, dan lebih herannya lagi saat melihat apa yang sedang dimakan oleh Berlian, karena selama hidupnya Varo tidak pernah menyantap apa yang sedang disantap oleh Berlian.
__ADS_1
"Kenapa diam saja?, ini masih ada satu bungkus lagi, beruntung pak Lun membelikan kita dua bungkus makanan, tadi kamu bilang lapar bukan, ayo sini" ucap Berlian sambil menepuk kursi disampingnya sambil menyantap makan khas yang selalu tersedia di warteg.
"Apa ini?" tanya Varo ketika sudah membuka bungkusan makanan dan menunjuk salah satu lauk yang terdapat didalam bungkusan tersebut.
"Tongkol balado" ucap Berlian singkat dan melanjutkan makannya lagi.
"K*nt*l?" tanya Varo sambil mengangkat kedua alisnya membuat Berlian langsung tersedak mendengar pertanyaan Varo, dengan segera Varo langsung mengambilkan air minum yang sudah tersedia di atas meja makan.
"Tongkol, t-o-n-g-k-o-l" ucap Berlian sambil mengeja satu per satu huruf, membuat Varo hanya mengangguk anggukan kepalanya.
"Varo diam………cepat makanlah nanti keburu dingin tidak enak lagi" ucap Berlian sambil menyuapi Varo menggunakan tangannya agar Varo tidak banyak bertanya.
"Aku tidak berselera makan seperti ini, aku ingin mie instan saja" ujar Varo sambil menyingkirkan makanan yang berada di hadapannya menjauh.
"Tidak bisa, kamu harus makan makanan ini, mubazir kalau tidak dimakan" ucap Berlian sambil menarik makanan Varo dan Berlian langsung menyuapi Varo.
"Aaaa………" ucap Berlian menyuapi Varo hingga makanan Varo tidak tersisa lagi. "Bilangnya tidak berselera tapi apa buktinya, omongan dan juga kenyataan tidak sesuai" ujar Berlian sambil membereskan bungkus makanan yang berada diatas meja.
__ADS_1
"Ini semua berkat tangan saktimu ini mataku, semua akan terasa enak dan sempurna" ucap Varo sambil menciumi tangan Berlian.
"Modus sudah lah, aku ingin mencuci tangan" ujar Berlian sambil melepas tangan nya yang masih dipegang oleh Varo dan beranjak menuju wastafel.
"Mataku, kita teruskan yang tadi sempat tertunda ya?, aku akan membuat dirimu melayang layang sampai kamu lupa akan dunia dan seisinya" ucap Varo sambil memeluk tumbuh Berlian dari belakang dan menciumi ceruk leher Berlian yang sedang mencuci tangannya.
"Oh ya buktikan saja" ucap Berlian sambil membalik tubuhnya dan langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Varo sambil mel*mat bibir Varo membuat Varo langsung mengangkat tubuh Berlian menuju ke dalam kamar dengan bibir mereka saling bertautan.
"Achh……….." suara yang keluar dari mulut Berlian membuat Varo mempercepat irama pertarungan sambil menghisap kedua chocochip bergantian yang berada di dua gunung kembar Berlian, membuat Berlian langsung menekan belakang leher Varo saat merasakan puncak kenikmatan untuk yang kesekian kali, membuat Varo langsung merebahkan tubuhnya di samping Berlian sambil memeluk tubuh Berlian yang tidak menggunakan sehelai benangpun, dengan peluh keduanya yang bercucuran.
Bersambung...........
Tadinya sih mau otor pending dulu anu itunya tapi tidak tega 😂😂😂
Drama komplek sederhana akan segera dimulai, jangan pernah bosan karena yang pastinya akan lebih gokil.
Terima kasih sebelumnya yang sudah like, komen yang bagus2, hadiah dan vote, mudah-mudahan kalian sehat selalu amin lopeyu kalian semua 😘😘😘😘😘😘
__ADS_1