Kesucian Wanita Malam

Kesucian Wanita Malam
BAB 92 MASAL (Malik & Sabila) Imam Yang Baik Untukku


__ADS_3

"Selamat pagi neng, mau berangkat mengajar?" tanya pak Cul ketika Sabila melewati portal pos dimana dirinya berjaga. 


"Pagi pak" jawab Sabila sambil tersenyum ramah. 


"Kenapa sendirian, kemana bang Malik setiap hari harus berangkat ke sekolah sendiri mulu neng?" sambung pak Lun ingin tahu. 


"Maaf pak Cul, pak Lun, saya permisi dulu, ojek online pesananku sudah datang" ujar Sabila tanpa menjawab pertanyaan dari pak Lun saat ojek online yang dipesan sudah sampai. 


"Heran sama Malik, istri secantik dan sebaik dia, dianggurin apa tidak sayang, kalau aku belum punya istri pasti sudah aku embat itu si Sabila, yang cantik, sexy, bohay, putih, mulus, wadidau" ujar pak Lun sambil menghayal. 


"Inget dirumah beras habis kemarin saja istrimu pinjam uang padaku, kerja yang benar jang menghayal, kalau pun neng Sabila belum menikah, dia juga tidak akan melirik dirimu, ngaca, apa di rumah kaca juga kamu jual buat beli beras" ujar pak Cul sambil menoyor kepala pak Lun kembarannya.


"Dasar duda kampret, membuyarkan khayalanku saja, walaupun aku tidak bisa memilikinya setidaknya aku bisa menghayal membayangkannya"


"Lun……………."


"Kabur………….." ujar pak Lun saat pak Cul ingin memukul pak Lun dengan tongkat T yang berada ditangannya. 


"Mau kemana kamu Lun?" 


"Kepo" ujar pak Lun sambil berjalan meninggalkan pak Cul yang masih berada di pos security. 


"Selamat pagi bang Malik, sebentar bang" ujar pak Cul saat ada Malik dengan motor gedenya membuat pak Lun langsung membuka portal. 


"Terima kasih pak" ujar Malik saat pak Cul sudah membuka portal agar dirinya bisa keluar. "oh ya pak apa tadi Sabila lewat sini" tanya Malik penasaran. 


"Iya bang, tadi neng Sabila naik ojek online" jelas pak Cul. "Kasihan sekali bang Malik, neng Sabila  harus naik ojek online setiap hari, kalian kan pengantin baru………" perkataan pak Cul berhenti saat Malik sudah melajukan motornya sebelum pak Cul menyelesaikan ucapannya. 

__ADS_1


"Lihat saja nanti terkena sindrom bucin baru tahu rasa, tapi jangan seperti pasangan yang tidak tahu diri seperti yang satu itu, yang membuat jiwa dudaku meronta-ronta dan berakhir di kamar mandi" ujar pak Cul tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat Varo dan juga Berlian. 


"Pak ada apa?" tanya Sabila saat ojek online yang di naikinya tiba-tiba berhenti ditengah jalan. 


"Maaf neng, maklum motor tua sepertinya mogok lagi" ujar pengendara ojek online sambil tersenyum ke arah Sabila. "Neng mending naik kendaraan yang lain sepertinya motor ini harus masuk bengkel"


"Baik pak ini ongkosnya" ujar Sabila sambil memberi uang lebaran lima puluhan kepada pengendara ojek online. 


"Neng ini kebanyakan, di aplikasi saja hanya sepuluh ribu, saya tidak punya kembalian" 


"Tidak usah dikembalikan pak, ini buat nambahin membetulkan motor bapak" ujar Sabila sambil tersenyum. 


"Ya Allah, terima kasih neng, mudah-mudahan neng dapet jodoh yang soleh" 


"Amin, saya sudah menikah pak" ujar Sabila menanggapi ucapan pengendara ojek online tersebut.


"Amin terima kasih doanya pak" ujar Sabila dan langsung meninggalkan pengendara ojek online kemudian berjalan menuju halte bus yang tidak jauh dari tempatnya berada. 


Sabila sontak terkejut saat dirinya sedang berdiri di tepi jalan ketika dirinya sedang menunggu bus dihalte, dan ada sebuah motor gede yang berhenti tepat di depannya. 


"Mas Malik" ucap Sabila saat Sabila menatap wajah Malik walaupun tertutup oleh kaca helm yang digunakan Malik. 


"Naiklah aku akan mengantarmu" ujar Malik saat dirinya membuka kaca helm yang digunakannya sambil memberikan helm kepada Sabila. 


"Terima kasih mas" ujar Sabila sambil tersenyum kemudian dirinya langsung mengambil helm yang berada di tangan Malik dan langsung mengenakan nya. 


"Sudah?" Tanya Malik memastikan Sabila sudah naik diatas motor gede ya. 

__ADS_1


"Iya mas" ucap Sabila dan Malik langsung melajukan motornya. 


Disepanjang perjalanan mengantar Sabila kesekolah keduanya tidak ada satupun yang berbicara. Hingga akhirnya Sabila memutuskan untuk memeluk tubuh Malik dan menyandarkan kepalanya di bahu Malik membuat Malik langsung menatap tangan Sabila yang memeluknya dengan erat. 


"Maaf aku memelukmu mas, karena hanya kamu yang pantas aku peluk, karena kamu imam diriku yang akan selalu berada di depanku dan menuntunku melewati jalan terjal kedepannya. Ujar Sabila tapi tidak mendapat tanggapan dari Malik yang tidak mengatakan sepatah katapun, dirinya hanya diam dan terus fokus berkendara. 


"Terima kasih mas, kamu sudah mengantarku, dan terima kasih karena bahumu sudah mau menopang kepalaku, dan aku yakin kamu bisa menjadi imam yang baik untukku kedepannya" ujar Sabila sambil tersenyum saat dirinya baru turun dari motor dan  mengembalikan helem yang dirinya kenakan. 


Kemudian Sabila langsung mengulurkan tangan nya ke hadapan Malik untuk bersalaman. 


"Sabila Rahman" ucap seseorang menyebut nama lengkap Sabila membuat Malik langsung menatap arah suara, dan dirinya tidak jadi mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Sabila, kerana Malik langsung melajukan motornya meninggalkan Sabila yang masih terus menatap Malik yang sudah jauh mengendarai motornya. 


"Sabila……………"


"Hari…………."


"Sabila berhentilah, aku ingin bicara denganmu" ucap Hari sambil mengejar Sabila yang sudah masuk kedalam halaman sekolah tempat dirinya mengajar. "Sabila aku tahu suamimu tidak sama sekali mencintaimu" ujar Hari membuat sambil langsung menghentikan langkahnya dan langsung membalik tubuhnya menatap ke arah Hari yang sedang tersenyum sinis ke arah Sabila. 


"Jangan pernah ikut campur dalam rumah tanggaku, karena yang tahu rumah tanggaku hanya aku dan juga suamiku" ucap Sabila tegas kemudian dirinya langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Hari. 


"Aku akan terus ikut campur dalam rumah tanggamu, hingga aku bisa mendapatkan dirimu kembali" ujar Hari tapi tidak dihiraukan oleh Sabila yang langsung masuk ke dalam ruangannya. 


*


*


*

__ADS_1


Bersambung.............


__ADS_2