
"Varo………. Hanya demi lima mangkok bakso kamu rela menukar mobilmu. Aku rasa kamu sudah tidak waras," ucap Berlian yang langsung masuk ke dalam taxi dan langsung di ikut oleh Varo yang langsung ikut masuk kedalam taxi.
"Aku masih waras mommy. Aku melakukannya hanya agar kamu bisa merasa nyaman saat tadi makan bakso. Dan tidak ada satupun yang akan menyenggol barang yang paling berharga milikku yaitu kamu dan juga baby twins," ujar Varo yang sudah ikut masuk kedalam mobil sambil menaruh dagunya di pundak Berlian.
"Varo tapi…….."
"Tidak ada tapi-tapian. Aku masih bisa membeli sepuluh mobil yang sama kalau aku mau," jadi diamlah jangan bicara lagi,"ujar Varo yang langsung merangkul tubuh Berlian sambil mengusap-usap perut Berlian.
"Varo itu namanya pemborosan kamu tahu tidak? ustadz Sofyan pernah bilang kalau pemborosan itu temannya setan,"
"Paman Sofyan memang aneh mana ada setan berteman dengan manusia. Alam kita kan berbeda, dan setan itu tidak kasat mata mana bisa dia berteman dengan kita. Paman memang aneh,"
"Saya setuju dengan anda pak. Apa yang bapak bicarakan benar adanya," sambung sopir taxi sambil mengendarai mobilnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Varo.
"Tuh dengarkan mommy bapak sopir saja setuju dengan apa yang aku katakan.
"Terserah kepadamu," ucap kesal Berlian yang langsung menyandarkan kepalanya di jok mobil.
"Tunggu mommy," ujar Varo yang langsung manarik tubuh Berlian dan memeluknya.
"Ada apa lagi? Jangan mesum Varo," ucap Berlian saat Varo memeluknya.
"Diam saja jangan bergerak, kamu selalu membawa tisu basah di dalam tas kamu bukan?"
"Iya. Untuk apa?" tanya Berlian tapi tidak dihiraukan oleh Varo yang langsung mengambil tisu basah didalam tas Berlian dan Varo langsung membersihkan jok mobil yang akan Berlian duduki.
"Sudah siap silahkan mommy,"
"Varo kamu berlebihan sekali,"
"Aku hanya tidak ingin ada bekas orang yang menempel di tubuhmu mommy,"
"Terserah kepadamu," ucap Berlian yang langsung menyandarkan tubuhnya di jok mobil.
"Pak sekalian bawa ke car wash, pasti bapak tidak mau kan mobil ini sudah keluar masuk puluhan orang loh. Yang diinjak ibu juga bekas orang, yang diduduki juga bekas orang," ujar sopir taxi tersebut membuat Varo langsung mengangkat tubuh Berlian dan langsung memangkunya.
"Varo jangan berlebihan. Menduduki dan juga menginjak bekas orang tidak akan membuatku mati kamu tahu tidak!"
"Tapi mommy?"
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian biarkan aku duduk seperti tadi. Kamu tidak kasihan dengan baby twins kita kalau aku duduk seperti ini dan akan menyakiti baby twins kita," ucap Berlian saat Varo memangku Berlian menghadap dirinya.
"Oh maaf mommy," ujar Varo yang langsung mendudukan Berlian kembali dengan pelan.
"Pak jadi tidak pergi ke car wash?" tanya sopir taxi tersebut.
"Ja……."
"Tidak jadi pak. Jalan saja terus," ucap Berlian memotong perkataan Varo saat Varo ingin mengatakan sesuatu.
"Mommy,"
"Diam apa kamu sudah lupa kalau kita ingin……."
"Oh iya aku sampai lupa, untung kamu ingatkan. lihat nih singkong bakar kesukaanmu sudah mulai bangun kembali," ujar Varo sambil menunjuk juniornya.
"Oh ya pak mau beli singkong bakar? Didepan ada yang jualan kalau mau beli biar saya berhentikan mobilnya nanti," sambung sopir taxi saat mendengar Varo mengatakan seperti singkong bakar.
"Untuk apa aku beli kalau aku sudah memiliki nya dan rasanya jauh lebih nikmat dan bisa membuat istriku melayang-layang hahahaha," ujar Varo sambil tertawa membuat Berlian langsung membekap mulut Varo dengan telapak tangannya.
"Oh walah dasar impor gemblung. Maksudnya singkong bakar berbulu toh. Oh walah kampret emang ini impor," ucap pelan supir taxi tersebut sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mungkin hari ini adalah hari tersial bagi bapak pengemudi taxi tersebut selama dirinya menjadi sopir taxi. Pasalnya saat dirinya melihat penumpangnya yang berada di bangku belakang lewat kaca spion dirinya melihat pandangan yang begitu menggoda iman bagi sopir taxi tersebut. Saat Varo mel*mat bibir Berlian sambil meremas gunung kembar Berlian dan diakhiri menelusupkan kepalanya di belahan dada Berlian dilanjut memberikan tanda kepemilikan membuat Berlian mengeluarkan suara misterius. Dan sopir taxi tersebut langsung mengelus dadanya sambil menghembuskan nafasnya untuk menetralisir gelora jiwanya yang terpancing oleh pasangan mesum yang tidak tahu tempat yang menjadi penumpangnya.
"Sudah tahu mesum masih dilihatin saja pak. Fokus saja menyetir nanti kepingin bahaya mau dimasukin kemana?" ujar Varo saat mendengar ucapan sopir taxi tersebut.
"Eh walah impor gemblung, kupingnya tajam juga ternyata," gumam sopir taxi tersebut sambil tersenyum dan dirinya langsung fokus mengemudi sambil memasang headset di telinganya agar dirinya tidak mendengar suara-suara aneh dari jok belakang mobil yang bisa membuat seseorang hilang kendali.
"Varo sudah ya?" ucap Berlian sambil mendorong kepala Varo untuk menjauh dari gunung kembarnya saat Varo sedang memberikan tanda kepemilikan di belahan dadanya.
"Mommy sebentar lagi ya aku sangat merindukannya,"
"Kamu lupa kalau tadi kamu bilang ingin insaf dan tidak akan berbuat mesum di tempat umum tapi apa nyatanya?"
"Maaf khilaf mommy. Tapi kamu suka bukan?"
"Tentu," ujar Berlian singkat sambil tersenyum manis ke arah Varo.
"Kalau begitu ayo kita lanjutkan,"
__ADS_1
"Varo!"
"Iya tidak."
Sesampainya dirumah sudah tidak ada lagi satu orang pun yang berada di rumah bibi Ami membuat Varo dan juga Berlian merasa heran pasalnya belum terlalu lama dirinya meninggalkan rumah.
"Ko sudah sepi begini ya? Apa tamu undangan sudah pada pulang?"
"Bagus bukan jadi tidak ada yang akan mengganggu kita mommy," ucap Varo yang langsung membopong tubuh Berlian masuk kedalam rumah.
Sesampainya di dalam rumah Varo dan juga Berlian saling manatap pasalnya dari kamar bibi Ami terdengar suara berisik membuat Berlian langsung turun dan langsung menghampiri kamar bibi Ami dan menempelkan telinganya di pintu kamar bibi Ami begitupun juga Varo yang juga mengikuti Berlian.
"Ami ko sudah longgar bigini sih?" tanya pak Cul pada bibi Ami.
"Bagaimana tidak longgar wong sudah biasa digunakan. Kamunya saja yang terlalu kecil. Sudah masukin saja jangan banyak protes,"
"Iya aku masukin,"
"Gimana rasanya enak tidak? Tanya bibi Ami kembali.
"Enak sih tapi enakan yang sempit,"
"Dasar tidak tahu diri, untung sudah aku kasih," ucap bibi Ami dan tidak ada suara lagi dari dalam dalam kamar membuat Varo dan juga Berlian yang masih menguping langsung tertawa.
Ceklek………"
*
*
*
Bersambung........
Like, komen kalian ya jangan dilupa😂😂😂😂😘😘😘😘😘
Kalau kalian bertanya bagaimana kisah Malik dan juga Sabila? Otor akan membuat novel sendiri untuk mereka setelah novel ini selesai.
Dan satu lagi yuk mampir ke karya temen otor siapa tahu suka 😂😂😂😂
__ADS_1