Kesucian Wanita Malam

Kesucian Wanita Malam
BAB 97 Ujungnya Saja


__ADS_3

"Apa masih sakit?" tanya Malik sambil mengelap peluh yang berada didahi Sabila ketika Sabila berada di pelukannya saat keduanya sudah selesai melakukan pertempuran malam yang menguras energi tapi mendapatkan kenikmatan surga dunia yang luar biasa. 


"Sedikit." ujar Sabila singkat sambil menyusupkan kepalanya di dada bidang Malik. 


"Maaf." 


"Kenapa mas Malik meminta maaf,"


"Karena aku yang sudah menjebol gawangmu untuk pertama kalinya," ujar Malik sambil mencium kening Sabila. 


"Mas Malik berkata apa aku tidak mengerti."


"Kamu tidak usah mengerti, aku heran ada ya guru sepolos dirimu tentang urusan ranjang." ujar Malik sambil mencubit hidung mancung Sabila. 


"Karena aku belum pernah melakukanya mas, kalau aku sudah pernah melakukan seperti ini, aku juga tidak akan sepolos yang mas Malik kira" ujar Sabila sambil tersenyum membuat Malik langsung memeluk erat tubuh Sabila. 


"Terima kasih kamu sudah menjaga kehormatanmu, untuk suamimu, dan aku yang beruntung mendapatkannya." ujar Malik membuat Sabila langsung mengangkat kepalanya menatap Malik yang sedang memeluknya erat. "Jangan berkata apapun, sudah tidurlah," ujar Malik ketika Sabila ingin mengatakan sesuatu, membuat Sabila langsung menuruti perintah Malik, dan dirinya langsung memejamkan matanya sambil memeluk tubuh Malik, begitupun dengan Malik yang memeluk tubuh Sabila dengan erat sambil menatap setiap inci wajah Sabila yang bisa membuat hatinya luluh dan mencintai Sabila dengan waktu dekat. 


"Terima kasih sekali lagi, kamu telah mengisi hatiku dan akhirnya aku bisa mencintaimu dan aku bisa melupakan Berlian" ujar Malik sambil mencium kening Sabila kemudian dirinya juga ikut memejamkan matanya.


Usia kehamilan Berlian sudah memasuki bulan kedua, tapi Berlian tidak merasakan apa yang biasa orang hamil rasakan, seperti morning sicknes, pusing, menghindari makanan yang membuat mual dan lain sebagainya yang biasa orang hamil muda alami. 


"Varo aku mau lagi, kamu tidak ingin membelikannya untukku dan juga untuk baby kita," ujar Berlian kesal saat Varo enggan membelikan bubur ayam ketika dirinya sudah menghabiskan lima bungkus bubur ayam yang Varo belikan. 


"Mommy, kamu sudah menghabiskan lima bungkus bubur ayam, kamu tahu aku merasa mual bila harus membelikannya untukmu lagi dengan bau bubur ayam yang begitu tidak enak, kamu tidak kasihan denganku yang sedari tadi mondar-mandir menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutku?" ucap Varo meminta belas kasihan dari Berlian."Lagian di perut kamu ada berapa baby sih, kenapa kamu begitu rakus?" tanya Varo membuat Berlian langsung beranjak dari tempat duduknya. 


"Mommy, kamu mau kemana?" 


"Ingin membeli bubur ayam."


"Jangan, aku tidak ingin kamu kelelahan berjalan kaki menuju depan komplek," ujar Varo sambil menarik tangan Berlian dan langsung memeluk tubuh Berlian. "Sungguh nyaman dan aku tidak merasakan mual lagi mommy." ujar Varo ketika memeluk tubuh Berlian dan wajahnya digosok-gosokan di gunung kembar berlian yang ukurannya berkali-kali lipat lebih besar dari pada sebelumnya. 


"Minggir tidak." 


"Tidak."


"Varo!"


"Oh tidak, jangan lepaskan aku dari kenyamanan ini Mommy, biarkan aku memeluk dirimu dan menciumi aroma gunung kembarmu yang begitu menggairahkan, yang bisa menenangkan jiwaku ini." ujar Varo lagi yang sekarang beralih menciumi gunung kembar Berlian. 

__ADS_1


"Lepaskan sekarang, atau aku tidak ingin memelukmu lagi nanti."


"Ah mommy tidak asyik, iya aku lepaskan." ujar Varo sambil melepaskan pelukannya. 


"Pintar sekali," ujar Berlian sambil mencium singkat bibir Varo. 


"Lagi," 


"Boleh, tapi sekarang antar aku ke depan untuk membeli bubur ayam lagi."


"Biar aku saja, yang membelikannya, kamu tunggu disini."


"Varo! kamu tidak ingin………."


"Jangan katakan mommy, aku minta maaf," ujar Varo memotong perkataan Berlian, yang sudah dihafal oleh Varo, pasti Berlian akan menghukum Varo untuk tidak menyentuh Berlian. 


"Bagus." ujar Berlian yang langsung menuju pintu untuk keluar rumah, yang langsung diikuti Varo sambil merentangkan tangannya dari belakang Berlian. 


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Berlian saat melihat Varo sedang merentangkan tangannya di belakang Berlian.


"Menjagamu mommy."


"Varo lihat," ujar Berlian pada Varo sambil menunjuk Sabila dan juga Malik yang tidak jauh dari tempatnya berada, membuat Berlian dan juga Varo langsung menuju ke arah Sabila dan juga Malik yang baru pulang membeli sarapan di depan komplek, yang banyak menyediakan menu sarapan dari berbagai daerah. 


"Basah nih rambut, kuat berapa ronde?, jangan bilang hanya satu ronde, jangan bikin malu impor" ujar Varo membuat Malik dan juga Sabila saling menatap dan langsung tersenyum. 


"Tenang saja kekuatanku masih full, tidak seperti dirimu, kalau dilihat-lihat kamu akan segera turun mesin, lihat saja tuh lututmu, sudah agak miring sedikit ha ha ha" ujar Malik sambil tertawa. 


"Tidak lucu." ucap Varo singkat dan keduanya terlibat obrolan yang unfaedah. 


Membuat Berlian langsung menarik tangan Sabila menjauh dari Varo dan juga Malik. 


"Kamu belum cerita bagaimana, malam pertamamu, menyenangkan bukan?" tanya Berlian membuat Sabila hanya tersenyum malu. 


"Sudah tidak usah senyum-senyum begitu, kamu pasti ketagihan iya kan?" 


"Kamu mau tahu saja sih, nanti kamu kepingin lagi." ujar Sabila sambil memukul lengan Barlian. 


"Ceritakan, saja kalau aku ingin tinggal menyuruh Varo untuk melakukannya, walaupun akhir-akhir ini, yang masuk hanya ujungnya saja, itupun dengan pelan-pelan, katanya takut menyakiti baby yang berada didalam perut, aku sungguh merindukan gaspol lan Varo hingga ke pangkal-pangkalnya," ujar Berlian sambil tersenyum membayangkannya. 

__ADS_1


"Dasar mesum, kasihanilah anakmu yang masih didalam perut," ujar Sabila yang langsung menoyor kepala Berlian membuat Berlian langsung nyengir kuda. 


"Mungkin kalau sekali-kali, tidak masalah kali ya, aku sungguh sangat ach………" ujar Berlian tidak meneruskan perkataannya lalu dirinya menghampiri Varo. 


"Varo kita pulang saja yuk?" ajak Berlian sambil memeluk lengan Varo membuat Sabila langsung tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. 


"Kenapa?, kita belum membeli bubur ayam yang kamu inginkan?" tanya Varo penasaran. 


"Aku menginginkan yang lain" 


"Apa?"


"Singkong bakar."


"Baik ayo, aku juga merindukannya." ujar Varo penuh semangat. 


"Tapi gaspol ya, jangan ujungnya saja."


"Tapi……….."


"Tidak ada tapi-tapian aku ingin sampai pangkal-pangkalnya." 


"Baik kita gaspol." Ujar Varo sambil memeluk pinggang Berlian dan keduanya langsung pergi meninggalkan Malik dan Sabila yang sedang menggeleng-gelengkan kepalanya melihat pasangan mesum seperti Varo dan juga Berlian. 


"Apa kamu juga menginginkanya?" tanya Malik kepada Sabila sambil menggoda. 


"Mas jangan bercanda."


"Iya maaf……"


*


*


*


Bersambung................


Like, komen, apapun itu yuk jangan ditinggal 😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2