
.
"Varo apa yang kamu lakukan, kamu tahu aku sedang………." ucapan Berlian berhenti saat Varo menutup mulut Berlian menggunakan satu tangannya dan merebahkan tubuh Berlian diatas sofa, dengan satu tangannya lagi meremas gunung kembar Berlian sambil menghisap choco chip yang berada di puncak gunung kembar Berlian bergantian, membuat Berlian langsung menekan kepala Varo, agar Varo terus menghisap choco chip nya saat dirinya merasakan kenikmatan ketika Varo menghisap choco chip di gunung kembarnya.
"Ha ha ha kamu menikmatinya bukan?" tanya Varo sambil tertawa setelah dirinya selesai menghisap choco chip yang berada di gunung kembar Berlian.
"Jelas saja aku menikmatinya rasanya gimana gitu, susah diungkapkan tapi enak dirasakan"
"Pintar sekali membuat ungkapan"
"Jelas, siapa dulu gurunya" ujar Berlian yang sekarang beralih duduk dipangkuan Varo. "Lagi.." ujar Berlian lagi sambil tersenyum dan menyodorkan gunung kembarnya ke hadapan Varo dengan segera Varo langsung menghisap nya tidak ingin melewatkan kenikmatan yang sudah terpampang nyata di depannya.
"Ach…… Berlian aku sudah…….." ucapan Varo berhenti saat Berlian mel*mat bibir Varo dan bermain dengan indah dan lihai membuat Varo langsung melepas tautan bibirnya, dan mengangkat tubuh Berlian menyingkir dari pangkuannya dan dengan segera dirinya langsung menuju kamar mandi.
"Varo apa yang kamu lakukan?" tanya Berlian bingung saat Varo berlari menuju kamar mandi.
"Main arisan, lawannya tidak ada terhalang oleh roti selai stroberi" ucap Varo sebelum masuk ke dalam kamar mandi membuat Berlian langsung tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya sambil merapikan kemeja yang digunakannya yang sudah tidak pada tempatnya.
"Varo main arisannya sudah apa belum lama amat?" tanya Berlian tepat didepan pintu kamar mandi saat Varo begitu lama berada didalam kamar mandi.
"Sudah" ujar Varo sambil membuka pintu.
"Kenapa terlihat murung begitu?"
__ADS_1
"Rasanya tidak enak kalau harus main arisan di kamar mandi sendiri, enakan masuk lubang donat, rasanya lebih nikmat dan uh ah uh ah"
"Bicara apa sih, sudah ayo kita makan siang, aku sudah sangat lapar, kamu pasti sudah lapar karena energimu sudah terkuras"
"Tentunya tapi suapin ya, tanganku rasanya pegal"
"Makanya tadi tidak usah main arisan di kamar mandi"
"Terus aku harus menahan begitu?"
"Iya, Masa sih tidak bisa ditahan, aku saja bisa menahan"
"Jelas saja tidak bisa, kamu tahu rasanya bila ditahan, rasanya itu seperti…….."
"Benarkah mataku?"
"Iya" ucap Berlian singkat dengan segera Varo langsung memeluk tubuh Berlian. "Jangan dekat-dekat kendalikan dirimu, kamu mau main arisan dikamar mandi lagi"
"Oh tidak………." ucap Varo yang langsung melepas pelukannya sambil tersenyum manis ke arah Berlian.
Acara syukuran rumah baru mamah Veronica yang berada satu komplek dengan Berlian dan juga Varo berjalan dengan lancar sesuai rencana, seluruh warga komplek merasa takjub dengan syukuran rumah baru yang diadakan seperti sedang mengadakan acara pernikahan karena saking megahnya, mamah Veronica dan juga bibi Ami selalu duduk berdampingan tidak lupa Berlian dan juga Varo disampingnya.
"Jangan heran bu Ver" ucap bibi Ami panggilannya kepada Veronica, saat Veronica menatap heran ibu-ibu yang sedang mengeluarkan kantong plastik dari dalam tasnya kemudian memasukkan semua makanan dan juga buah-buahan ke dalam kantong plastik tersebut dan memasukkan kembali kedalam tasnya. "Varo dan juga Berlian juga sering melakukannya saat ada pengajian yang diadakan di komplek ini" ucap bibi Ami membuat Veronica langsung menatap Varo dan juga Berlian yang duduk disampingnya sambil menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya bahwa anaknya melakukan hal yang menurutnya tabu.
__ADS_1
"Jangan menatapku begitu mah" ujar Varo sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Mamah tidak tahu sensasinya itu luar biasa mah, saat kita berebut makanan dengan orang lain, mamah sih tidak pernah merasakannya coba saja mamah pasti akan ketagihan melakukanya" ucap Varo lagi sambil tersenyum.
"Oh ya, mamah jadi ingin merasakannya juga, pasti mengasyikkan, seperti apa yang kamu bilang sayang" ujar Veronica sambil tersenyum membayangkan apa yang Varo katakan, membuat Berlian dan juga bibi Ami langsung melongo tidak percaya pada apa yang telah dikatakan oleh Veronica. "Oh ya bu Mi kapan diadakan pengajian di komplek in?" tanya Veronica memanggil bibi Ami dengan sebutan bu Mi, tapi bibi Ami tidak menjawab saking terkejutnya mendapati seorang sultan ternyata lebih parah dari rakyat jelata.
"Hai…. bu Mi, kenapa tidak menjawab" Veronica mengagetkan bibi Ami yang masih melongo menatapnya.
"Oh maaf tadi apa yang bu Ver tanyakan?" tanya bibi Ami yang sudah tersadar kembali.
"Kapan diadakan pengajian lagi di komplek ini?"
"Oh itu kira-kira sepuluh hari lagi" ujar bibi Ami sambil tersenyum.
"Ok sayang kita beraksi, tos dulu dong biar tidak slek" ujar Veronica kepada Varo.
"Tos kita beraksi" ujar Varo sambil menyatukan tangannya dengan tangan Veronica membuat Berlian dan juga bibi Ami langsung menggeleng gelengkan kepalanya.
*
*
*
Bersambung...........
__ADS_1