
"Varo, Varo, calon deddy yang paling tampan dimana dirimu" ujar Berlian saat dirinya masuk kedalam kamar dan tidak mendapati Varo berada di dalam kamar.
"Aku disini" ujar Varo dengan lemas saat baru keluar dari kamar mandi, membuat Berlian langsung menghampirinya dan dengan segara Varo langsung memeluk tubuh Berlian.
"Ayo kita pergi kedokteran saja?"
"Tidak, aku tidak sakit, aku hanya merasa mual, tapi jika aku memelukmu rasa mual itu hilang dengan sendirinya mommy" ujar Varo sambil mengeratkan pelukannya dan menciumi ceruk leher Berlian.
"Varo, jangan memancingku kalau aku menginginkan uh ah uh ah, pasti kamu tidak akan kuat, kamu sendiri sedang lemah begini pasti singkong bakar kamu tidak bisa berdiri tegak" ucap Berlian sambil menyingkirkan kepala Varo yang masih menciumi ceruk leher Berlian.
"Siapa bilang, kamu pegang saja sendiri senjataku sudah berdiri tegak, ingin segera menyemburkan mayonaise"
"Jangan sok kuat, kamu sedang lemah"
"Apa kamu perlu bukti?"
"Buktikan saja" ujar Berlian membuat Varo langsung mengangkat tubuh Berlian dan membaringkan Berlian di atas tempat tidurnya.
"Mau berapa ronde?" tanya Varo sambil menanggalkan pakaiannya,
"Jangan sok begitu buktikan saja yuk lah cap cus" ujar Berlian sambil menanggalkan pakaiannya. "Mau kemana?" tanya berlian saat Varo beranjak dari tempat tidurnya.
"Mengunci pintu, takut ada pengganggu" ujar Varo sambil tertawa mengingat begitu seringnya ada yang mengganggu saat dirinya dan juga Berlian sedang wik-wik.
"Assalamualaikum" ucap Veronica memberi salam sambil mengetuk pintu rumah bibi Ami berkali-kali tapi tidak ada sahutan dari dalam, membuat Veronica langsung membuka pintu saat pintu rumah bibi Ami tidak dikunci dan langsung masuk ke dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saat bibi Ami menutup kedua telinganya dengan headset.
"Bu Mi, halo" panggil Veronica sambil menepuk pundak bibi Ami.
"Astagfirullah hal azim" ujar bibi Ami terkejut sambil mengelus dadanya dan menghadap kearah Veronica, yang langsung menarik headset yang bibi Ami gunakan.
"Kenapa menggunakan ini?" tanya Veronica sambil menunjukan headset yang berada di tangannya.
"Menutupi telingaku yang suci ini dari kuda yang sedang kawin" ujar bibi Ami membuat Veronica langsung mengangkat kedua alisnya bingung.
"Tuh dengar apa tidak?"
__ADS_1
"Oh itu biarkan saja mereka, apa bu Mi juga kepingin?"
"Tentu saja" ujar bibi Ami sambil menutup mulutnya. "maksudku tidak" ujar bibi Ami lagi sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa bu Mi, wajar manusia memiliki hasrat"
"Aistt ngomong apaan kamu……."
"Tinggal nikah lagi, dengan pak Cul, aku dengar pak Cul itu seorang duda yang ditinggal istrinya kabur, kasihan sekali dia ya"
"Tidak usah bergosip seperti ibu-ibu komplek kurang kerjaan"
"Tapi benar kan?"
"Meneketehe" ujar bibi Ami sambil mengangkat kedua bahunya.
"Jangan-jangan bu Mi naksir ya?"
"Apaan sih jangan bergosip, sudah ayo kita pergi berbelanja"
"Mau kemana kamu?" tanya bibi Ami saat Veronica berjalan menuju kamar Berlian dan juga Varo tapi tidak dihiraukan oleh Veronica yang hanya tersenyum kerah bibi Ami.
"Sayang mainnya pelan-pelan saja ya jangan menyakiti cucu mamah, kalau bisa Berlian yang diatas agar cucu mama tidak kenapa-kenapa" teriak Veronica dari depan pintu kamar Berlian dan juga Varo.
"Siap mah laksanakan" jawab Varo dari dalam kamar, membuat bibi Ami langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar edan bin gelo, tidak ibu tidak anak sama-sama sedeng" ucap bibi Ami sambil menepuk jidatnya.
Sudah menjadi rutinitas setiap hari bagi Sabila ketika pagi hari, dirinya akan memasak untuk Malik dan juga untuk kedua mertuanya, saat dirinya dan juga Malik masih tinggal dengan pak Sofyan dan juga bu Sofyan.
"Mas sarapan sudah siap" ucap Sabila saat Malik baru keluar dari kamar mandi, setelah Sabila selesai membuat sarapan, tapi Sabila tidak mendapat tanggapan dari Malik seperti biasa, karena Malik masih saja bersikap dingin terhadap Sabila.
"Mas hari ini, pulang dari sekolah aku ingin pergi mengunjungi ibu, mas Malik mengizinkannya apa tidak?" tanya Sabila lagi tapi tidak juga mendapat tanggapan dari Malik.
"Mas aku istrimu, kenapa mas Malik masih saja bersikap dingin kepadaku, apa salahku?, jawab mas, apa ini anak seorang ustadz memperlakukan istrinya, harusnya mas Malik tahu apa yang harus dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya sekalipun mas Malik tidak mencintaiku" ucap Sabila kesal sambil mengambil tas nya dan dirinya langsung keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Nak kamu ingin kemana apa kamu tidak ingin sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah untuk mengajar" tanya pak Sofyan ketika Sabila jalan terburu-buru keluar dari kamarnya.
"Maaf pak, bu, hari ini aku ada rapat di sekolah, jadi aku harus datang lebih awal" ucap Sabila sambil tersenyum kemudian dirinya berpamitan kepada pak Sofyan dan juga bu Sofyan sambil mencium punggung tangan keduanya.
"Bapak masih tidak mengerti dengan Malik, Sabila istri yang sangat baik kenapa Malik masih saja bersikap dingin kepadanya" ujar pak Sofyan setelah Sabila keluar dari rumah.
"Ini semua gara-gara wanita………"
"Ibu tidak bisa menyalahkan Berlian, Berlian tidak bersalah, yang salah disini adalah Malik anak kita yang tidak seharusnya masih mencintai istri orang lain" ujar pak Sofyan memotong perkataan istrinya, membuat bu Sofyan tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena memang benar apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Duduklah nak kita sarapan terlebih dahulu, istrimu sudah masak sebanyak ini sayang-sayang bila tidak habis" ujar pak Sofyan saat Malik keluar dari kamarnya untuk berangkat kerja.
"Maaf pak aku tidak lapar" ucap Malik dan dirinya langsung berlalu meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang berada di meja makan.
"Nak kamu sekarang sudah menjadi seorang suami, belajarlah menjadi suami yang baik walaupun diantara kalian belum saling mencintai, karena cinta akan tumbuh dengan sendirinya nanti" ucap pak Sofyan sebelum Malik pergi jauh meninggalkan meja makan membuat Malik langsung berhenti dan menatap kearah pak Sofyan.
"Aku sudah menerima perjodohan ini, jadi aku harap bapak dan juga ibu, tidak ikut campur dalam rumah tanggaku," ujar Malik kemudian dirinya langsung pergi tanpa berpamitan kepada kedua orang tuanya.
"Astagfirullah hal azim" ujar pak Sofyan saat Malik sudah keluar dari rumah.
"Ini semua gara-gara………."
"Ibu jangan bicara lagi" ujar pak Sofyan memotong perkataan istrinya.
*
*
*
Bersambung.............
Like, komen jangan dilupakan, bunga juga boleh tapi sama kebonnya juga biar otor cepat kaya, 😂😂😂😂😂😂😂
Yang kemarin nanyain cerita Malik dan juga Sabila, otor sudah kasih nih, dan bakal otor kasih part khusus untuk pasangan (MASAL) Malik dan Sabila, semoga kalian tidak bosan dengan novel otor abal-abal ini ya, happy reading😘😘😘😘😘
__ADS_1