Kesucian Wanita Malam

Kesucian Wanita Malam
BAB 63 Cabe Bubuk Level Sekarat


__ADS_3

"Varo………malu di liatin banyak orang" ujar Berlian saat Varo menggendong dirinya seperti koala di depan Varo , tidak peduli banyak pasang mata yang melihatnya.


"Aku tidak ingin kamu berada disini" ucap Varo sambil mencium singkat bibir Berlian dan keluar dari pasar malam. "Awas saja aku hancurin pasar malam ini kalau besok masih beroperasi" 


"He siapa kamu berani berkata seperti itu?" 


"Aku, apa kamu lupa siapa aku, aku pemilik perusahaan terbesar di negara ini….."


"He sudah mimpinya, itu dulu sekarang sudah beda lagi ceritanya" ujar Berlian sambil mencubit hidung Varo, membuat Varo langsung tersenyum. 


"Hampir saja, untung kamu masih mengira aku sudah tidak punya apa-apa lagi, tapi tidak akan lama lagi aku akan berhenti bersandiwara, setelah mamah menerima dirimu mataku, dan aku bisa melakukan apapun untukmu jangankan menghancurkan pasar malam ini, menghujanimu emas permata aku juga sanggup" gumam Varo dalam hati dan langsung pergi menuju parkir motor sambil terus menggendong Berlian. 


"Kita pulang sekarang" ucap Varo ketika dirinya sedang memasang helm di kepala Berlian. 


"Ya iyalah memangnya mau kemana lagi"


"Ke hotel" 


"Punya uang juga tidak, jangan belagu, kita harus berhemat untuk masa depan kita nantinya" 


"Iya mataku, siap empat lima" ucap Varo sambil memberi hormat kepada Berlian. "Ngomong-ngomong kita sudah bertarung setiap hari kapan ada Varo junior disini?" tanya Varo sambil mengelus-elus perut Berlian..

__ADS_1


"Iya yah padahal kita melakukan setiap hari, tapi ko…….."


"Sudah ayo kita pulang dan melakukannya lagi, aku sudah tidak sabar butuh kehangatan darimu mataku" ucap Varo sambil tersenyum menggoda, memotong perkataan Berlian kemudian keduanya langsung menaiki motor untuk pulang kerumah.


Selama perjalanan pulang kerumah tangan kiri Varo selalu menggenggam tangan Berlian tidak ingin melepasnya, baru sekarang Varo merasakan hidup yang sesungguhnya mencintai wanita yang begitu berbeda dan sudah merubah hidupnya seratus delapan puluh derajat, tidak ada lagi wanita yang berbeda di ranjangnya seperti dulu, yang ada sekarang hanya Berlian wanita kuat, tangguh, yang begitu sempurna dimata Varo. 


"I love you mataku" 


"Apa!, aku tidak dengar, bicaranya bisa lebih keras lagi tidak" ucap Berlian tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh Varo karena angin yang menemani perjalanan mereka begitu kencang mengalahkan suara yang keluar dari mulut Varo. 


"Aku mencintaimu mataku………" ujar Varo dengan kencang hingga beberapa pengendara yang berada di samping kanan dan juga kiri Varo langsung menatap kearah Varo. 


"Woy, kasihan sama jomblo jangan pamer kemesraan di tempat umum" ujar salah seorang pengendara motor di samping Varo. 


"Salah Siapa jomblo, tidak laku bang?, vermak dulu tuh muka biar ganteng nya kaya aku" ujar Varo meledek pengendara di sampingnya, kemudian Varo langsung memutar gas motornya untuk melaju lebih kencang meninggalkan pengendara disampingnya. 


"Anjim banget, tampang ok, bacot cabe bubuk level sekarat, emang dia pikir aku celana levis rombeng apa" ucap kesal pengendara motor tersebut sambil menatap motor yang dikendarai Varo sudah tidak terlihat lagi. 


Bibi Ami sudah mondar-mandir di dalam rumahnya sambil menatap jam dinding yang terpasang di tembok ruang tamu menunggu kedatangan Berlian dan juga Varo, yang belum juga pulang ketika jam dinding menunjukan jam setengah dua belas malam. 


Hingga terdengar seseorang memutar kunci pintu dan membuka pintu membuat bibi Ami langsung fokus ke arah pintu.

__ADS_1


"Assalamualaikum bibi Ami" ucap Berlian memberi salam ketika dirinya melihat bibi Ami masih berada diruang tamu. "Bibi belum tidur?" tanya Berlian lagi. 


"Waalaikumussalam, syukurlah kalian sudah pulang, dari mana saja kalian?, bibi sudah menunggu kalian sedari tadi, oh ya kenapa ponsel kalian tidak diangkat?, sedari tadi bibi sudah  menelepon kalian berkali-kali" ujar bibi Ami memberondong pertanyaan untuk Berlian dan juga Varo, tanpa menghiraukan pertanyaan Berlian. 


"Kami tidak membawa ponsel bi, kenapa bibi terlihat kuatir begitu, semua baik-baik saja kan bi?" tanya Varo sambil menutup pintu. 


"Tadi pak Sofyan kesini karena ponsel kamu tidak diangkat nak, dan pak Sofyan memberi tahu kalau mamah kamu sekarang sedang berada dirumah sakit" ucap bibi Ami kepada Varo. "Dan kamu disuruh menemui mamah kamu sekarang juga" ucap bibi Ami membuat Varo langsung menatap kearah Berlian yang langsung menganggukan kepalanya. 


"Aku ingin ikut denganmu" ucap Berlian ketika keduanya sudah berada di dalam kamar dan Varo sedang bersiap-siap untuk ke rumah sakit.


"Mataku, kamu tidak perlu ikut, aku tidak ingin kamu bersedih dengan perlakuan dan perkataan mamah terhadapmu" ucap Varo sambil tersenyum dan membelai wajah Berlian. 


*


*


*


Bersambung...............


 

__ADS_1


__ADS_2