
"Aku akan tetap ikut denganmu bagaimanapun mamah Veronica juga sudah aku anggap seperti mamahku sendiri, dan tentang perlakuan mamah terhadapku aku tidak memikirkannya lagi, karena selalu ada kamu disampingku yang selalu membela ku" ucap Berlian sambil memegang tangan Varo yang masih berada di pipinya.
"Terima kasih mataku" ucap Varo singkat sambil mencium bibir Berlian kemudian keduanya keluar dari kamar dengan kedua tangan mereka saling bertautan.
Sesampai di rumah sakit Varo maupun Berlian langsung disambut dengan tatapan semua mata yang berada dirumah sakit tak terkecuali dengan Iskandar yang langsung menghampiri Varo.
"Nak kemana saja kamu, papah sudah berpuluh-puluh kali menghubungi dirimu tapi kamu tidak sekalipun menjawabnya" ucap Iskandar.
"Maaf pah, tadi aku dan juga Berlian sedang pergi ke luar dan kebetulan aku tidak membawa ponsel" jelas Varo. "Bagaimana keadaan mamah pah, apa mamah baik-baik saja?"
"Kamu lihat saja sendiri bagaimana keadaan mamah kamu, dia sedang menunggumu di dalam, jadi masuklah," perintah Iskandar sambil menepuk punggung anaknya.
"Baik pah, oh ya Berlian kamu tunggu disini saja, biar aku masuk kedalam menemui mamah" ujar Varo pada Berlian, membuat Berlian langsung mengangguk kemudian Varo mencium singkat kening Berlian sebelum Varo masuk kedalam ruang perawatan Veronica.
Varo langsung menatap wanita paruh baya yang telah melahirkan dirinya sedang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit, dengan banyaknya selang yang membantu wanita paruh baya untuk terus bisa bernafas, Varo tahu bahwa mamah Veronica mempunyai penyakit kronis, tapi Varo tidak pernah menyangka wanita yang telah melahirkan dirinya akan seterpuruk ini, Varo merasa iba dengan keadaan mamah Veronica, tapi rasa itu hilang saat Varo mengingat kembali bahwa wanita yang terbaring lemah dihadapannya, telah merendahkan wanita yang paling berharga di dalam hidupnya sehingga hidupnya menjadi lebih berwarna.
Senyum tipis tersungging dari bibir pucat wanita paruh baya di hadapannya dan tangannya langsung menggenggam tangan Varo saat Varo sudah berada disampingnya.
"Sayang" ucap lirih Veronica.
__ADS_1
"Aku tahu pasti mamah akan memohon kepadaku untuk meninggalkan Berlian, bila aku ingin melihat mamah cepat pulih bukan?, mamah jangan pernah berharap aku akan melakukanya" ujar Varo membuat Veronica langsung mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum tipis pada Varo.
"Maafkan mamah sayang, mamah salah selama ini kepada kalian, karena mamah ingin memisahkan kalian, maafkan mamah sekali lagi sayang, mulai sekarang mamah akan mendukung hubungan kalian" ujar Veronica membuat Varo yang sedang mengedarkan matanya langsung menatap Veronica yang sedang tersenyum kepada dirinya.
"Mamah tidak sedang bercanda bukan"
"Untuk apa mamah yang sedang lemah begini harus bercanda"
"Terima kasih mamah" ucap Varo sambil mencium pipi Veronica.
"Mamah ingin minta maaf kepada Berlian, apa Berlian ikut kemari?" tanya Veronica pada Varo membuat Varo langsung mengangguk.
"Maaf atas kejadian beberapa waktu lalu, bukan aku ingin menghina Varo, tapi aku tidak ingin wanita yang aku cintai, kebutuhannya tidak tercukupi" ucap Malik yang ikut duduk disamping Berlian yang sedang berada di bangku tunggu yang jaraknya lumayan jauh dari, Iskandar, Sofyan dan istrinya yang sudah berada dirumah sakit jauh sebelum Varo dan Berlian datang.
"Terima kasih mataku" ujar Varo sambil memeluk tubuh Berlian dari belakang dan mencium ceruk leher Berlian membuat Malik langsung terkejut ketika tiba-tiba Varo sudah berada dibelakang mereka.
"Banyak wanita lain diluar sana, jangan jadi pebinor untuk sepupumu sendiri" ujar Varo pada Malik. "Mataku mamah ingin bertemu denganmu" ucap Varo lagi sambil menggandeng tangan Berlian untuk masuk ke ruang perawatan Veronica.
Malik langsung mengacak-acak rambutnya dengan kasar setelah kepergian Varo dan juga Berlian.
__ADS_1
"Sudah lupakan Berlian, rejeki, jodoh, maut sudah Allah tentukan", ujar pak Sofyan sambil menepuk punggung anaknya. "Bapak sudah menjodohkan kamu dengan seseorang yang akan membuat kamu bisa melupakan Berlian" ujar pak Sofyan lagi tersenyum kepada Malik yang sedang menatapnya sambil mengangkat kedua alisnya terkejut.
"Tapi pak………"
"Tidak ada tapi-tapian, kapan kamu akan berumah tangga kalau begini terus, lihat umur kamu sudah berapa? bapak dan juga ibu ingin segera menimang cucu darimu nak" ucap pak Sofyan memotong perkataan Malik.
"Benar ibu pun juga ingin menimang cucu, dan ibu pastikan kamu tidak akan menolak kalau kamu tahu siapa wanita yang akan menjadi istrimu nanti" ujar bu Sofyan yang sekarang ikut bergabung.
"Terserah pada kalian" ujar Malik sambil beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya, yang sedang tersenyum senang.
"Mah, apa mamah ingin bertemu denganku?" tanya Berlian ketika dirinya sudah berada di ruang perawatan Veronica.
"Tidak…………."
*
*
*
__ADS_1
Bersambung................
Jangan lupa like dan komen positifnya ya biar otor tambah cemungut 😁😁😁😁😁😁😁