
"Varo……. tunggu mamah, apa yang terjadi dengan Berlian?" tanya Veronica yang langsung ikut masuk kedalam mobil varo.
"Berlian, masuk rumah sakit mah" jawab Varo sambil mengendarai mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit dimana Berlian berada.
Sesampainya dirumah sakit Varo langsung memarkirkan mobilnya disembarang tempat, kemudain Varo langsung masuk dengan tergesa-gesa tidak peduli petugas parkir berteriak kepadanya, karena mobil Varo menghalangi pintu keluar kendaraan yang berada di dalam lahan parkir.
"Minggir." ujar Varo sambil menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalannya menuju ruangan dimana Berlian berada, begitu juga dengan Veronica yang berlari mengikuti Varo, tapi Veronica tidak bisa menyusul Varo yang sudah hilang dari pandangannya.
Dubrag………. Varo membuka pintu ruang perawatan Berlian dengan kencang membuat semua yang berada didalam ruangan langsung menatap Varo, begitupun juga Berlian yang tersenyum kearah Varo.
"Mommy, apa yang terjadi?, apa kamu baik-baik saja?, bagaimana dengan baby kita?, mommy katakan sesuatu kenapa kamu hanya tersenyum mommy jawab aku, kamu baik-baik saja kan?" tanya Varo seperti kereta api, tidak ada berhenti bertanya, setelah mendekat kearah Berlian yang sedang berada diranjang ruangan tersebut sambil menangkup wajah Berlian.
"Aku baik-baik saja tenang saja, baby kita juga baik-baik saja" ucap Berlian yang sedang tertidur diranjang rumah sakit dengan selang infus yang menancap ditangan kiri Berlian, membuat Varo langsung mel*mat bibir Berlian tidak peduli banyak pasang mata yang ada diruang perawatan Berlian yang menatap keduanya.
"Jelaskan kepadaku kenapa kamu bisa berada disini mommy?" tanya Varo ketika sudah melepas tautan bibirnya.
"Itu semua gara-gara terong impor kamu, yang menghentak-hentakan lubang donat dengan begitu kencangnya, sudah pernah saya kasih tahu, jangan berhubungan badan dulu yang akan memicu kontraksi rahim, untung saja kandungan ibu Berlian kuat, kalau tidak saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kandungan ibu Berlian" jelas dokter Fitri menjawab pertanyaan Varo.
"Dok, aku sudah tidak tahan kalau hanya di celubin saja, seperti iklan biskuit saja,"
"Iya dok rasanya gimana gitu, tidak ada manis manisnya seperti iklan air mineral," sambung Berlian membuat dokter Fitri langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Angel wes angel," ujar dokter Fitri sambil meningalkan ruang perawatan Berlian diikuti suster pribadi dokter Fitri.
"Dok aku belum selesai bicara" ucap Varo sebelum dokter Fitri meninggalkan ruang perawatan Berlian.
__ADS_1
"Datang keruangan saya nanti saya akan menjelaskan, kalau lama-lama disini, bisa-bisa aku jadi gila melihat kemesraan kalian, yang membuat jiwa saya meronta-ronta ingin dimasuki terong impor yang bisa gumoh," ucap dokter Fitri yang langsung pergi dari ruang perawatan Berlian, membuat suster yang berada di belakang dokter Fitri langsung menggeleng-gelengkan kepalanya mendapati kelakuan atasannya, begitu juga dengan bibi Ami yang langsung terkejut dengan ucapan dokter Fitri, yang tidak berbeda jauh dengan keponakannya dan juga suami keponakannya yang mesum.
"Pantas saja dokternya gila pasiennya pun ikut gila, benar-benar dunia hancur." gerutu bibi Ami yang masih didalam ruangan Berlian sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa yang bibi katakan, siapa yang gila?" tanya Varo yang mendengar perkataan bibi Ami.
"oh tidak, bibi tidak mengatakan apapun, telinga kamu mungkin yang ketutupan congek."
"Makanan apaan itu bi?, dari namanya sepertinya enak sekali dan menggiurkan, aku ingin memakannya pasti sangat lezat." ucap Varo membuat bibi Ami langsung menepuk jidatnya dan Berlian yang mendengar ucapan suaminya langsung tersenyum geli.
"Kenapa bi,?"
"Tidak ada, sudah sana kamu temui dokter Fitri, tadi dia bilang kamu suruh menemuinya."
"Oh ya aku lupa," ucap Varo kemudian Varo langsung mencium singkat bibir Berlian dan keluar dari ruang perawatan Berlian.
"Bibi jangan menghina suamiku, bagaimanapun juga Varo suami yang sangat baik bagiku, yang terpenting Varo bisa membuatku melayang merasakan kenikmatan yang begitu luar biasa…….."
"Dasar mesum."
"Itu fakta bi."
"Ah…… jangan memancing jiwa normal bibi, kamu istirahat lah bibi ingin menghirup udara segar, setelah penuh kesesakan di ruangan ini." ujar bibi Ami kemudian bibi Ami keluar dari ruang perawat Berlian, membuat Berlian langsung tersenyum sambil menatap kepergian bibi Ami.
Varo langsung melongo mendengar penjelasan dokter Fitri, yang sedang menjelaskan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh Varo membuat Varo langsung mengacak-acak rambutnya frustasi saat dokter Fitri mengatakan dirinya tidak boleh berhubungan suami istri hingga usia kandungan Berlian menginjak empat bulan.
"Dok, yang benar saja apa dokter ingin menghukumku, mana bisa aku tidak melakukan hubungan suami istri hingga kehamilan istriku menginjak usia empat bulan artinya, Ach….. dokter jangan bercanda." ucap Varo frustasi mengingat kehamilan Berlian baru menginjak dua bulan lebih dua minggu, yang artinya Varo harus menunggu enam minggu lagi untuk bisa berhubungan badan dengan Berlian.
__ADS_1
"Terserah kepada anda, anda ingin bayi yang berada di kandungan istri anda baik-baik saja atau tidak?"
"Jelas aku ingin baby dan juga istriku baik-baik saja."
"Ya sudah."
"Tapi dok, nge celup saja apa tidak boleh?"
"Tidak boleh!, Iya pertama nge celup lama-lama ngegas, sudah pasti itu." ujar dokter Fitri membuat Varo langsung nyengir kuda.
"Bagaimana kalau aku tidak tahan dok?"
"Tinggal masukin saja ke lubang tikus."
"Jangan bercanda dok."
"Banyak cara lain, gitu aja repot, kalau cara lain tidak enak, saya dengan senang hati bisa membantu." ujar dokter Fitri sambil mengedipkan matanya ke arah Varo, membuat Varo langsung merinding dan beranjak dari duduknya.
"Amit-amit dasar dokter gila." ujar Varo sambil meninggalkan ruangan dokter Fitri, membuat dokter Fitri langsung tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar impor mesum, tidak ada hari tanpa mesum, turun mesin baru tahu rasa, tidak bisa berdiri lagi ha ha ha" ujar dokter Fitri sambil tertawa selepas kepergian Varo dari ruangannya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung.............